Tidak ada catatan resmi bahwa sumber air Tirto Tombo ada sejak masa pemerintahan Raja Airlangga. Namun, sudah bertahun-tahun kolam pemandian Tirto Tombo itu ada.
Memang, dulu kolam itu hanya berupa kubangan. Kemudian kondisinya mengalami sejumlah perubahan. Seiring dengan perkembangan zaman.
“Sumber air setempat tertampung dalam kubangan tersebut. Baru kemudian dibangun kolam secara bertahap. Hingga jadi seperti sekarang ini,” beber Kepala Desa Gununggangsir Mochammad Yasin.
Konon, sumber air Tirto Tombo itu menjadi tempat mandi bagi kiai atau wali. Tujuannya untuk pembersihan diri. Sebelum kemudian semedi atau berdiam diri.
Kemudian seiring berjalannya waktu, kolam tersebut kerap dipakai mandi warga sekitar. Bukan hanya mendapat kesegaran. Tapi juga untuk mencari kesembuhan.
Karena, ada yang mempercayai kolam tersebut bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Mulai penyakit rematik, gatal-gatal, ataupun penyakit lainnya.
Mandi untuk menyembuhkan penyakit itu biasanya dilakukan dengan ritual tertentu oleh warga saat tengah malam. Di atas pukul 24.00.
Hal itulah yang membuat kolam tersebut akhirnya dinamai Tirto Tombo. Nama tersebut diambilkan dari kata tirto yang artinya air. Sementara tombo adalah obat.
“Banyak masyarakat yang percaya kalau mandi di atas pukul 12 malam bisa memberikan kesembuhan. Khususnya, untuk sakit kulit seperti gatal-gatal. Makanya, ketika malam hari ada saja yang mandi di kawasan setempat,” tambahnya.
Yasin menambahkan, air Tirto Tombo memang berbeda dengan sumber air pada umumnya. Terutama ketika malam hari. Umumnya air sumber terasa dingin saat malam. Tapi, tidak demikian dengan air di sumber air Tirto Tombo.
“Airnya tidak begitu dingin. Meski malam hari sekalipun,” paparnya.
Jadi Wisata Penunjang Candi Gununggangsir
Keberadaan sumber air Tirto Tombo bisa menjadi wisata alternatif. Lokasinya yang berada di wilayah Gununggangsir, Kecamatan Beji, bisa menjadi penunjang wisata budaya Candi Gununggangsir.
Jarak kolam dengan Candi Gununggangsir memang tidaklah jauh. Hanya sekitar 200 meter. Akses menuju lokasi pun cukup mudah. Jalan yang sudah berpaving, memudahkan wisatawan untuk menuju lokasi yang ada.
Kepala Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Mochammad Yasin mengungkapkan, dulunya pemandian setempat memang menjadi jujukan warga. Air yang bersih dan segar menjadi daya tarik pengunjung untuk berdatangan.
Pengunjung yang datang tidak hanya dari wilayah Beji. Tetapi juga luar kota. Seperti Surabaya.
“Memang saat ini tidak seramai dulu. Tapi, tetap saja ada pengunjung yang berdatangan. Khususnya, ketika malam hari tiba,” kata Yasin.
Menurut Yasin, konsep wisata memang digagas untuk kawasan setempat. Karena, keberadaan sumber air Tirto Tombo itu bisa menjadi objek wisata unggulan desa. Bahkan, menjadi penunjang wisaya budaya Candi Gununggangsir yang sudah banyak dikenal warga.
“Ke depan, kami memang ingin menjadikan sumber Tirto Tombo tersebut menjadi objek wisata penunjang Candi Gununggangsir. Jadi, setelah ke candi, pengunjung bisa mandi ke sumber air tersebut,” tandasnya.
Sudah Banyak Diperbaiki
Sebagai penunjang wisata, keberadaan sumber air Tirto Tombo sudah mengalami banyak sentuhan. Tujuannya, memang agar lebih nyaman dikunjungi.
Apalagi sebelumnya, kondisi sumber air Tirto Tombo yang banyak rusak. Kolamnya ada yang jebol. Sehingga, banyak air sungai yang bisa masuk ke kolam setempat.
Menurut Paimah, 57, warga Gununggangsir, Kecamatan Beji, infrastruktur penunjang di kolam memang perlu dibenahi. Agar pengunjung yang datang menjadi betah.
Pembenahan bisa dilakukan pada tembok penahan kolam. Karena, ada bagian yang jebol. Selain itu, lantai kolam juga perlu direhab.
Sebab, saat ini kondisinya cenderung berlumpur. Sehingga kalau dipakai mandi malah air menjadi keruh. Sebab, lumpur jadi terangkat.
“Kalau bisa memang disemen. Supaya tidak becek,” ungkapnya.
Paimah mengakui, beberapa pembenahan sudah dilakukan. Misalnya jalan sudah dipaving, juga perbaikan pada kolam. Namun, memang belum maksimal. Khususnya bagian kolam. Karena untuk sentuhan dari pemerintah belum ada.
“Kalau jalannya sudah dipaving. Tapi, kolamnya belum mendapat sentuhan perbaikan pemerintah. Karena rehab yang ada masih swadaya,” terangnya.
Kepala Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Mochammad Yasin mengakui, memang ada rencana perbaikan infrastruktur agar kondisinya lebih nyaman. Dengan begitu, pengunjung bisa lebih banyak yang datang.
“Kami memang ada wacana untuk perbaikan infrastruktur yang ada,” sampainya. (iwan andrik/hn) Editor : Jawanto Arifin