Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mampir ke Kafe Tunarungu di Tapaan Pasuruan sambil Belajar Bahasa Isyarat

Jawanto Arifin • Selasa, 27 Desember 2022 | 21:33 WIB
BAHASA ISYARAT: Seorang pembeli menggunakan bahasa isyarat di kafe tunarungu. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
BAHASA ISYARAT: Seorang pembeli menggunakan bahasa isyarat di kafe tunarungu. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
Memesan makanan di kafe atau restoran, umumnya cukup dengan menyebutkan menu sesuai selera. Tetapi, hal itu tak sepenuhnya berlaku di kafe Aditya. Pembeli harus menggunakan jari-jari tangannya untuk menyampaikan pesanan. Di kafe ini, pembeli bisa mencicipi jajanan sembari belajar bahasa isyarat.

MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo, Radar Bromo

Setiap kedatangan pembeli, Putri Handini menyapa mereka dengan senyum hangat. Sembari menunjukkan gerakan tangan sebagai sambutan.

Bagi pembeli yang sama sekali tak mengenal bahasa isyarat, mungkin akan sedikit canggung untuk membalasnya. Tapi, jangan khawatir. Kafe yang menempati teras rumah pasangan suami istri Ahmad Dhani dan Putri Handini itu memang tak seperti kafe umumnya.

Dari depan, tidak hanya menampilkan menu makanan dan minuman yang dijual. Tetapi, ada salah satu poster yang juga tak kalah menarik perhatian.

Bukan berupa gambar makanan. Melainkan informasi tentang jenis bahasa isyarat. Seolah ingin mengingatkan pembeli bahwa mereka mesti memesan dengan gestur.

Setelah beberapa saat menunjukkan menu, pembeli bisa memesannya sembari melihat tabel bahasa isyarat. Namun, Putri juga tak memaksa pembelinya. Bila kesulitan dengan gerakan tangan, mereka biasanya akan langsung mengucapkan pesanan yang diinginkan.

Hanya saja, apa yang dipesan perlu diucapkan dengan nada agak keras. Sebab, perempuan itu tunarungu.



Putri sendiri sudah terbiasa membaca obrolan lawan bicaranya hanya dengan gerakan mulut. Dia cukup cepat menangkap pesan apabila diucapkan dengan suara yang lantang dan lugas.

Setelah mengerti menu makanan yang dipesan, Putri akan langsung menawarkan minuman. Kali ini, pembeli akan dilayani Widya yang juga tunarungu.

Keduanya memang membuka usaha bersama. Putri menjual berbagai makanan. Sementara Widya menjajakan minuman.

Sudah hampir lima tahun terakhir mereka membuka kafe Aditya di Jalan Ir. Juanda, Kelurahan Tapaan, Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Bagi mereka, memiliki keterbatasan pendengaran tidak lantas harus menggantungkan hidup kepada orang lain.

Sebelumnya, Putri bahkan sempat merantau ke Jakarta.

Di ibu kota, dia berjualan soto selama enam tahun. Sebelum akhirnya kembali ke Pasuruan dan membuka kafe kecil-kecilan bersama Widya.

Putri pula yang berinisiatif menyediakan poster berisi tabel bahasa isyarat di depan kafenya. ”Untuk aksesibilitas,” tutur perempuan 45 tahun tersebut.



Apalagi pendengarannya memang sama sekali tak berfungsi. Namun, dia sendiri sengaja tidak memakai alat bantu dengar. Dia sudah pernah mencoba. Tetapi, alat tersebut malah membuatnya tak nyaman.

”Kalau dipakai lama-lama jadi keras. Rasanya sakit. Akhirnya tidak saya pakai,” keluhnya.

Karena itu, dia berharap pembeli yang datang ke kafenya juga bisa belajar berbicara dengan bahasa isyarat. Meski dalam situasi tertentu, hal itu juga tidak berlaku.

Misalnya ketika hari menjelang siang. Saat suasana kafe mendadak ramai karena sudah memasuki waktu makan siang. Orang-orang, bahkan pelajar sekolah berbondong-bondong mencari makan.

Dalam situasi seperti itu, Putri dan Widya bergantian memberikan menu dengan secarik kertas dan pulpen. Mereka meminta pembeli menulis pesanan.

Sebab, tidak semua orang bisa menggunakan bahasa isyarat hanya dalam sekali melihat tabel. Tak sedikit yang masih kesulitan. Untuk memangkas waktu, kata Putri, mereka bisa menuliskan pesanannya.

Potongan-potongan kertas itu memang sudah disediakan. Putri dan Widya menyiapkannya untuk berjaga-jaga ketika kafe sedang ramai pembeli. Sehingga, mereka yang memesan makanan bisa lebih cepat terlayani. Tinggal menunggu di kursi dan pesanan bakal segera datang.



”Biasanya kalau sudah langganan, paham. Mereka langsung menuliskan pesanannya,” ungkap Putri yang juga Wakil Ketua Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Pasuruan itu.

Aktivitasnya dalam organisasi itu juga yang membuat Putri ingin agar bahasa isyarat dimengerti banyak orang. Tidak hanya kalangan tunarungu.

Karena itu, dirinya tidak hanya membiasakan pembeli memesan makanan dengan bahasa isyarat. Gelas minuman bikinan Widya, juga dilengkapi dengan stiker tabel bahasa isyarat.

”Jadi sambil minum mereka bisa sambil melihat-lihat tabel itu,” jelas Widya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#kafe pasuruan