Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kesedihan Besan Ningsih Tinampi Kembalikan Hak Asuh Anak ke Orang Tuanya

Ronald Fernando • Kamis, 22 Desember 2022 | 17:14 WIB
DITINGGAL PAS SAYANG-SAYANGE: Pasutri Sukesi Kumalasari dan Bagus Setiawan saat bersama Ptr. Kini, Ptr dikembalikan ke orang tuanya usai dirawat sejak baru dilahirkan sampai usia 3,5 tahun.
DITINGGAL PAS SAYANG-SAYANGE: Pasutri Sukesi Kumalasari dan Bagus Setiawan saat bersama Ptr. Kini, Ptr dikembalikan ke orang tuanya usai dirawat sejak baru dilahirkan sampai usia 3,5 tahun.
Rebutan hak asuh anak antara Clara Angeline dengan Ningsih Tinampi berakhir sudah. Mediasi memutuskan balita Ptr harus dikembalikan ke orang tua kandungnya. Kini, tinggal kesedihan mendalam yang dirasakan Santoso Bagus Setiawan dan istrinya, Sukesi Kumalasari. Pasutri yang merawat Ptr sejak dilahirkan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo

------------------------------------------------------------------------------------------------------

SUDAH dua hari Santoso Bagus Setiawan, 46 dan Sukesi Kumalasari, 45, tak bisa lagi bertemu dengan Ptr. Balita berusia 3 tahun 8 bulan yang mereka asuh sejak bayi.

Mereka harus menyerahkan Ptr pada ibu kandungnya, Clara Angeline, warga Kabupaten Sidoarjo. Penyerahan Ptr itu sesuai hasil mediasi yang dilakukan Polres Pasuruan.

Tidak hanya syok dengan hasil mediasi itu. Suami istri ini juga sangat sedih harus kehilangan Ptr. Saat ditemui di rumahnya kemarin (21/12) pagi di Dusun/Desa Sekarjoho, Kecamatan Prigen, kesedihan masih sangat terlihat pada keduanya. Selama bercerita tentang Ptr, mata mereka selalu berkaca-kaca. Air mata pun menetes sambil sesenggukan.

Tidak hanya mereka yang bersedih. Tetangga keduanya pun ikut bersimpati. Sebab, mereka tahu betul, Bagus (panggilanya) dan Sukesi mengasuh Ptr sejak bayi merah. Sejak Ptr baru lahir. Tak heran bila hubungan emosional keduanya dengan Ptr sudah kuat.

Bahkan, kemarin beberapa tetangga keduanya datang. Memberikan semangat dan dukungan. Agar keduanya tak terlalu larut dalam kesedihan.

“Ptr sudah kami anggap anak sendiri. Sejak bayi merah kami rawat dan asuh dia. Sekarang sudah tidak bersama kami, tentunya berat, sedih, syok, sekaligus kecewa,” tutur Kesi (panggilannya) sambil mengusap air matanya.

 

https://radarbromo.jawapos.com/daerah/pandaan/05/12/2022/duduk-perkara-ibu-mau-asuh-anak-harus-tebus-rp-25-m-ke-ningsih-tinampi/

 

Selama dua hari ini, keduanya terus menangis. Bahkan, beberapa tetangganya mengatakan keduanya sampai pingsan. Tidak sanggup menanggung beban emosi.

Bagus, suami dari Kesi sampai sakit sudah dua hari ini. Dia pun terpaksa tidak masuk kerja ke pabrik.

“Berat sekali rasanya. Selama ini dia tinggal bersama kami. Kalau tidur masih saya keloni. Tidur di atas dada saya,” tutur Kesi sesenggukan.

Seperti keluarga lain, mereka pun suka berwisata. Terutama di hari libur atau weekend. Tiap Sabtu dan Minggu atau libur nasional, keluar Bagus dan Kesi selalu berjalan-jalan ke tempat wisata. Tentu saja Ptr pun ikut.



https://radarbromo.jawapos.com/daerah/pandaan/08/12/2022/ningsih-tinampi-bakal-lapor-balik-mantan-pasien-soal-penelantaran-anak/

 

Maka saat Ptr tidak lagi bersama mereka, Bagus dan Kesi merasa sangat kehilangan. “Dia tidak bersama kami lagi. Rasanya separo nyawa kami sudah diambil. Coba bayangkan, saat lucu-lucunya dan sayang-sayangnya tiba-tiba harus diserahkan. Dan itu pun tanpa dugaan kami sebelumnya,” kata Kesi.

Meskipun sedih begitu mendalam, keduanya harus ikhlas dan legawa. Keluarga pun berusaha mengalihkan perhatian keduanya.

Salah satu caranya, mainan, pakaian, dan barang milik Ptr dikeluarkan dari rumah itu. Sehingga, keduanya tak terus menerus teringat pada Ptr.

 

https://radarbromo.jawapos.com/daerah/pandaan/12/12/2022/alasan-ningsih-tinampi-minta-rp-10-m-soal-hak-asuh-anak-dengan-mantan-pasien/



Semuanya lantas dititipkan pada anak pertamanya, yaitu Putri Ayu Afilia, 21, yang tidak lain menantu dari Ningsih Tinampi. Memang, belum semua bisa dipindah dari rumah Bagus dan Kesi. Sebab, pakaian dan mainan Ptr sangat banyak.

“Di rumah sebagian masih ada mainannya. Karena selama ini dia minta mainan apa saja, kami belikan. Tidak peduli mainan mahal sekalipun,” tuturnya.

Bahkan, untuk minum susu pun, Ptr tergolong lahap. Sehari bisa sampai 12-14 botol. Bagus dan Kesi pun membelikan susu yang cukup mahal.

Ptr sendiri memanggil Kesi dengan sebutan mama. Sementara memanggil Bagus dengan panggilan ayah. Saat ini, Ptr sudah sekolah di PAUD dan mengaji di TPQ.

 

https://radarbromo.jawapos.com/hukrim/20/12/2022/polemik-hak-asuh-anak-besan-ningsih-tinampi-harus-kembalikan-anak-clara/

 

“Ia anaknya pintar, penurut. Sama kami di rumah atau pas keluar jalan-jalan sering bilang love u mama dan love u ayah. Ini tidak bisa kami lupakan. Jadi kami sedih sekali,” ucap Bagus menangis.

Ptr sendiri sejak bayi merah sampai usia enam bulan sering keluar masuk rumah sakit. Ptr punya riwayat penyakit asma dan TBC.

Selama enam bulan itu, Ptr tinggal di rumah Ningsih Tinampi. Kadangkala tinggal di rumah Bagus  dan Kesi. Lalu masuk usia tujuh  bulan, baru kondisi Ptr membaik. Sejak saat itu, Ptr pun tinggal di Prigen bersama keluarga Bagus-Kesi.

Mereka berdua bahkan masih ingat, Ptr lahir pada 15 Mei 2019. Dia dilahirkan Clara Angeline, pasien Ningsih Tinampi. Clara melahirkan bayi tersebut di tempat praktik pengobatan milik Ningsih di Dusun Lebaksari, Desa Karangjati, Kecamatan Pandaan.

Saat itu, kedua pasutri ini belum menjadi besan Ningsih. Namun, mereka sudah saling kenal. Sebab, Bagus merupakan pasien Ningsih pada 2018.

Clara sendiri setelah melahirkan langsung pulang. Keberadaannya juga tidak diketahui.

“Selama ini juga Clara tidak pernah ada kabarnya. Tiba-tiba dia datang saat Ptr usia 3,8 tahun. Lalu langsung mengambil Ptr dari kami,” tuturnya.

Saat mediasi pada Senin (19/12) di Polres Pasuruan, Bagus dan Kesi tidak menyangka akan ada hasil secepat itu. Mereka mengira hanya mediasi awal, tanpa penyerahan hak asuh anak.

Karena itu, keduanya datang saat mediasi. Bahkan, Ptr diajak. Mereka juga datang bersama anak kandung mereka, yaitu Putri Ayu Afilia, 21, merupakan menantu dari Ningsih Tinampi dan Maulfi Hafis Sahrafi, 17, kini masih SMK.

Begitu mediasi mengharuskan Ptr diserahkan pada ibu kandungnya, keduanya pun sangat syok. Apalagi selama proses mediasi mereka tidak dilibatkan, malah menunggu di luar ruang mediasi.

“Saya datang dan keluarga karena mengira hanya mediasi biasa. Ternyata harus menyerahkan Ptr. Tahu gitu saya dan keluarga tidak datang. Yang ikut mediasi adalah besan saya dan beberapa pihak terkait. Saya dan istri tidak ikut, malah menunggu di bawah,” cetusnya.

Beberapa poin disepakati selama mediasi. Di antaranya, Bu Ningsih menyerahkan sukarela, tidak mau menerima kompensasi, Clara mencabut laporan, dan tidak memutus silaturahmi.

“Harusnya kami berdua yang mengasuhnya diajak dalam mediasi. Kan janggal, yang merawat kami tapi yang menyerahkan Ningsih. Mana keadilan buat kami,” ujarnya sedih.

Mereka pun menyayangkan sikap Clara setelah mediasi. Sebab, Clara tidak sekalipun meminta maaf. Bahkan, juga tidak berterima kasih. “Tidak punya etika dan attitude,” terangnya.

Kini, mediasi sudah usai. Ptr pun diserahkan ke orang tuanya. Ia dan Sukesi berharap mendapat kesempatan bisa merawat kembali Ptr.

“Minimal bisa merawat bersama, bukan langsung diputus seperti ini. Setiap saat ketika mengingatnya, rasanya sedih dan sakit sekali,” tuturnya. (hn) Editor : Ronald Fernando
#ningsih tinampi #polemik hak asuh anak #polres pasuruan #pengobatan ningsih tinampi #hak asuh anak