Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Bayi Jeje, Lahir Prematur Berat 800 Gram, Dirawat 153 Hari di RSUD

Muhammad Fahmi • Selasa, 20 Desember 2022 | 03:15 WIB
DISERAHKAN KE KELUARGA: Dokter Reza menggendong bayi Jeje dan menyerahkan kepada neneknya.
DISERAHKAN KE KELUARGA: Dokter Reza menggendong bayi Jeje dan menyerahkan kepada neneknya.
Jenahara Almahira Teguh sempat menjadi perhatian di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Bayi yang kini berusia 40 minggu itu mampu melewati masa neonatal dini. Dilahirkan prematur dan kehilangan ibunya, perkembangannya terus membaik setelah dirawat di NICU selama 19 minggu.

AGUS FAIZ MUSLEH, Kraksaan, Radar Bromo

AIR mata membasahi pipi Uswatun Hasanah, 54. Cucu semata wayangnya akhirnya berada dalam pelukannya setelah 19 minggu dirawat khusus di RSUD Waluyo Jati. Sesekali ia menyentuh hidung Jenahara Almahira Teguh atau Jeje. Sembari menatap penuh sendu bercampur kebahagiaan.

“Terima kasih dokter karena telah merawat cucu saya sampai sehat seperti ini,” terang warga Desa Asembagus, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, itu.

Ya, akhir bulan lalu Nenek Tun–panggilan Uswatun Hasanah–datang ke RSUD Waluyo Jati. Hatinya harap-harap cemas. Sebab, hari itu cucunya akan diserahkan padanya. Dia diminta datang oleh pihak RSUD untuk mengikuti prosesi serah terima cucunya yang selama ini dirawat intensif di ruang Neonatal Intensive Care (NICU).

Nenek Tun tidak datang sendirian. Dia ditemani suaminya, Sulasyono, 72. Meski tak seantusias Nenek Tun dan meski memasang muka datar, aura kebahagiaan terlihat di wajah Sulasyono.

Jeje memang dirawat intensif di NICU RSUD Waluyo Jati setelah dilahirkan. Sebab, bayi Jeje lahir dalam keadaan prematur. Berat badannya tak sampai satu kilogram. Hanya 800 gram.

Yang makin membuat trenyuh, ibu bayi Jeje yaitu Dini Jawati, 23, meninggal pasca melahirkan. Dia meninggal di hari ketiga belas usai melahirkan. Dini sempat dirawat di ICU RSUD selama sepuluh hari. Namun, kemudian meninggal.



“Tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas saya terima kasih, karena bayi ini selamat dan sehat,” tutur Tun kepada para dokter yang ada di RSUD Waluyo Jati.

Sejatinya, bayi Jeje dilahirkan normal. Namun, letaknya sungsang. Dia dilahirkan saat berusia 27-28 minggu di dalam kandungan. Usia ini terbilang tidak normal. Sebab, biasanya kelahiran terjadi di usia kehamilan 37-38 minggu. Berat bayi rata-rata 2.800 gram.

Karena prematur itulah, RSUD Waluyo Jati melalui Tim Kesehatan NICU memberikan perawatan intensif. Usaha panjang dilakukan tim tenaga kesehatan untuk meningkatkan kondisi bayi Jeje.

Masa paling berat yaitu di minggu-minggu awal. Bayi diberi bantuan pernapasan melalui ventilator. Saat pernapasan sudah tertangani, risiko infeksi menjadi permulaan masalah baru.

“Dengan kebutuhan nutrisi, namun belum bisa minum banyak, kami berikan semua akses, salah satunya melalui infus,” terang Kepala Instalasi sekaligus Dokter Penanggung Jawab Pasien dan Konsultan Neonatologi dr. Muhammad Reza, M.Biomed .

Sejumlah terapi untuk meningkatkan kondisi bayi Jeje pun dilakukan. Selain memang kewajiban tenaga Kesehatan dalam memberikan pelayanan maksimal kepada pasien, semangat para nakes di NICU bertambah tatkala kakek dari bayi Jeje memberikan amanah kepada mereka.

“Seorang bapak (kakek Jeje) datang kepada kami dan mengatakan, kami kehilangan ibunya. Kami minta tolong selamatkan bayi ini agar bisa menjadi penghibur di tengah keluarga. Kami terharu dan berupaya dengan ekstra. Bahkan, sejumlah terapi yang cukup mahal kami berikan untuk kesehatan bayi ini,” terangnya.



Para nakes pun memberikan pelayanan terbaik. Semangat para nakes kian bertambah saat melihat bayi Jeje begitu kuat bertahan.

“Bayi ini memang disebut spesial karena kondisinya. Setelah dirawat 153 hari, kondisinya meningkat cukup signifikan. Dari bayinya sendiri survive atau daya juangnya sangat tinggi. Sehingga kondisinya berkembang cukup pesat,” lanjutnya.

Berat badannya yang semula tidak sampai 1 kilogram, per hari ini sudah mencapai 2.700 gram atau 2,7 kg. “Alhamdulillah pembiayaanya selama dirawat menggunakan BPJS,” katanya.

Dan setelah segala upaya dilakukan dengan maksimal, dokter memutuskan untuk memulangkan bayi Jeje di usia sekitar 40 minggu  sejak dari kandungan.

“Dengan kekuatan bayi dan perawatan dari keluarga, semoga bayi Jeje betul-betul menjadi penghibur di tengah keluarga yang juga sedang berduka,” katanya.

RSUD Waluyo Jati memang memiliki sejumlah fasilitas yang cukup lengkap. Di antaranya fasilitas ICU, PCU, dan NICU yang merupakan salah satu pelayanan andalan bagi pasien anak.

“Tindak lanjut bayi Jeje dilakukan secara intensif, mulai dari bidan desa dan puskesmas,” terangnya.



Kini sudah dua minggu lebih bayi Jeje berkumpul dengan keluarga. Kondisinya semakin baik. Upaya perawatan dan menjaga bayi Jeje dilakukan dengan baik oleh keluarga.

“Alhamdulillah kondisi terkini bayinya (Jeje) sangat baik. Progresnya luar biasa. Sambung doanya agar kondisinya bisa terus baik,” terang Sekretaris Desa Asembagus, Kecamatan Kraksaan, Rofi’i. (hn) Editor : Muhammad Fahmi
#bayi prematur #kasus bayi prematur