Letak Sumber Tengu sebenarnya jauh dari perkampungan warga. Lokasinya di tengah hutan pinus, di Pucangpendowo, Desa Sumbersuko, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Namun, keberadaannya banyak dikenal warga. Bukan hanya warga sekitar. Namun, juga warga dari luar daerah.
Meski di hutan, jalan menuju Sumber Tengu bisa dijangkau dengan motor dan mobil. Dari jalan desa atau perkampungan, sekitar 400 meter saja. Sedangkan dari jalan nasional Surabaya – Malang, via Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, kurang lebih empat kilometer.
“Sumber Tengu ini dari dulu sudah ada, airnya yang mengalir di pancuran ya tetap seperti itu. Tetap kecil dan tidak pernah surut meskipun kemarau,” jelas Busiri, 61, sesepuh warga Dusun Pucangpendowo.
Diberi nama Sumber Tengu karena mengambil dari nama hewan tengu yang kecil. Sebab, air yang mengalir dari sumber ini volumenya kecil. Baik saat musim kemarau, maupun hujan.
“Sumber mata airnya ada di atas pancuran, bentuknya seperti kubangan. Sekelilingnya banyak terdapat pohon pinus yang masuk lahan milik Perhutani,” tuturnya.
Keberadaan Sumber Tengu, ia katakan, sangatlah penting sekaligus membawa berkah. Airnya untuk pengairan irigasi ke sawah-sawah milik warga.
Selain itu, juga untuk mandi para petani dan buruh tani selepas bercocok tanam. Bahkan, air dari Sumber Tengu bisa langsung diminum.
“Warga dari luar desa kami malah menjadikan tempat ini jujukan untuk mandi ritual. Banyak yang percaya airnya dapat menyembuhkan penyakit, juga menghilangkan bala atau apes,” bebernya.
Untuk mandi ritual, biasanya warga melakukannya pada malam hari. Terutama pada Kamis malam Jumat, atau hari-hari tertentu penanggalan Jawa.
“Untuk mandi ritual, setahu kami kebanyakan warga datang dari Surabaya, Malang, Sidoarjo, dan lain-lain. Pernah juga dari Jakarta dan Lampung datang ke sini untuk mandi ritual,” cetusnya.
Pernah Jadi Wisata, Kini Mangkrak
Tidak hanya untuk mandi dan minum. Pada 2019 atau sebelum pandemi Covid-19, Sumber Tengu pernah dimanfaatkan untuk wisata. Wisata ini dikelola pemuda setempat.
Namun, tidak bertahan lama. Tempat wisata ini hanya berjalan sekitar setahun. Saat pandemi terjadi, kegiatan itu mandek hingga sekarang.
“Saat dimanfaatkan untuk wisata alam, pengunjung Sumber Tengu tiap harinya selalu ada. Bahkan, ketika weekend, lebih ramai,” cetus Wanto, 34, pemuda setempat.
Selama dimanfaatkan untuk wisata, Sumber Tengu dilengkapi dengan beberapa bangunan semipermanen. Di antaranya warung untuk jualan aneka kuliner dan minuman. Ada juga musala dan tempat istirahat atau santai.
Selain itu, juga ada empat kolam ikan. Bahkan, saat weekend. pernah dimanfaatkan untuk Perkemahan Sabtu dan Minggu (Persami), kegiatan outbound, serta lain sebagainya.
“Sekarang bangunan pendukungnya mangkrak, kolam ikannya juga surut. Tersisa hanya Sumber Tengu dan satu sumber lainnya, itu saja,” katanya.
Namun, memang ada rencana menghidupkan kembali Sumber Tengu menjadi destinasi wisata. “Rencana mau kami rintis lagi bersama para pemuda. Mudah-mudahan bisa realisasi tahun depan,” ungkapnya. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin