RIZKY PUTRA DINASTI, Mayangan, Radar Bromo
Sebuah banner bertuliskan “Warung Peduli. Sarapan Pagi Bayar Rp 3.000 Saja” terpampang di depan sebuah warung dadakan. Tepatnya di Jl. KH. Mansyur, di sebelah barat Stasiun Probolinggo atau pertigaan utara Masjid Agung Raudlatul Jannah Kota Probolinggo.
Jumat (9/12) mulai pukul 07.00, puluhan warga mulai mengantre di warung dadakan tersebut. Termasuk Bu Sunardi. Warga Jl. Lumajang, Kota Probolinggo, ini mengaku tidak tahu ada program sarapan murah itu.
“Tadi (kemarin, Red) mengirim mangga ke stasiun. Untuk anak yang di Surabaya. Setelah itu mau cari sarapan,” tutur Bu Sunardi kepada Jawa Pos Radar Bromo.
Bersama suaminya, ia kemudian berkeliling di seputaran Alun-alun Kota Probolinggo. “Pas lewat, kok ada ramai-ramai. Ternyata mereka sedang sarapan,” terangnya.
Karena tertarik, Bu Sunardi akhirnya memutuskan ikut sarapan di warung tersebut. Menunya nasi bakmoy. “Harganya murah. Hanya Rp. 3.000,” ujarnya. Tapi, dia mengaku tidak tahu kalau itu program sedekah. “Oh….Kalau mau ikut menyumbang, kepada siapa ya?” tanyanya.
Selain Bu Sunardi, banyak warga ikut menikmati sarapan tersebut. Baik perorangan maupun rombongan. Seperti kemarin, komunitas senam ibu-ibu juga sarapan di sana.
“Tadi habis senam di alun-alun, langsung sarapan di sini. Ramai-ramai,” kata ibu berkaus hitam dan berjilbab tersebut.
Apresiasi juga disampaikan Ninik, warga Kelurahan Kanigaran. Dia mengaku tidak ada niatan sarapan di tempat tersebut. Tapi, karena ramai, akhirnya dia berhenti.
“Bagus program seperti ini. Tapi kalau bisa, yang menikmati benar-benar yang membutuhkan,” kata Ninik sambil melahap sarapannya.
Tak hanya mereka. Sejumlah tukang becak yang mangkal di Stasiun Probolinggo sejak subuh pun, makan di sana. Seperti yang dilakukan Slamet, 49, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Menurutnya, warung murah dan sangat membantunya. Sebab, harganya cuma Rp 3 ribu per porsi. Namun, masakan yang disajikan enak. Porsinya pun cukup banyak.
“Awalnya saya pikir kayak nasi kucing, isinya sedikit. Soalnya kan cuman Rp 3 ribu. Ternyata normal (standar). Yah enak buat saya. Apalagi sejak subuh cuma dapat satu muatan,” terang Slamet sembari menikmati makananya.
Santoso, 60, salah satu pengurus Forsijama mengatakan, kegiatan kemarin merupakan yang ketiga kalinya. “Iya betul. Ini Jumat yang ketiga,” kata pensiunan ASN Pemkab Probolinggo ini.
Kegiatan itu sendiri berawal dari obrolan antarjamaah masjid. Biasanya setelah salat Subuh, mereka mengobrol sambil menikmati kopi dan kue. “Akhirnya muncul ide melakukan kegiatan sosial. Tercetuslah membuat warung peduli ini,” terang warga Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, ini.
Setelah itu, terkumpul donasi untuk kegiatan tersebut. Kebetulan juga, ada jamaah yang mempunyai warung. “Jadi belinya di jamaah masjid. Tapi, kemudian dijual kepada warga dengan harga murah. Hanya Rp. 3.000. Menunya ganti-ganti. Sebelumnya rawon, hari ini (kemarin) nasi bakmoy,” jelasnya.
Soal dana yang dipakai, murni dari donatur. Baik perorangan, maupun lembaga. Salah satunya dari Darut Tauhid (DT). “Beberapa donatur langsung menyumbang. Tanpa kami minta setelah tahu program ini,” katanya.
Hari Jumat pertama, habis 160 porsi. Kemudian, Jumat kedua 170 porsi. “Jumat ketiga ini, dalam waktu satu jam lebih sudah habis 200 porsi lebih,” ujarnya.
Melihat tingginya animo masyarakat, ke depan akan terus ditambah porsinya. “Targetnya bisa seribu porsi,” ungkapnya.
Dana hasil penjualan tersebut, kata Santoso, dibelikan kembali untuk sarapan Jumat berikutnya. “Tapi, pasti kurang. Nah, kekurangannya itu disumbang oleh donatur,” jelasnya.
Namun, saat nanti masukan yang didapat cukup banyak, tidak menutup kemungkinan kegiatan ini dilakukan seminggu dua kali di tempat yang berbeda.
Kalapas Kelas IIB Probolinggo Risman Somatri yang anggota Forsijama menerangkan, kegiatan tersebut juga menggandeng para pelaku usaha atau UMKM. Mereka nanti secara bergantian yang akan menyediakan makanan untuk dijual. Dengan demikian, selain beramal, juga bisa membantu UMKM atau warung yang sepi.
“Jadi warga dapat makanan murah dan pemilik warung yang sepi juga terbantu. Ini sudah saya sampaikan saat rapat. Jadi jangan dikelola sendiri, tapi melibatkan pemilik warung atau UMKM yang sepi,” tuturnya. (*) Editor : Jawanto Arifin