MUHAMAD BUSTHOMI, Gadingrejo, Radar Bromo
HARI makin siang. Ibu dua anak itu makin sibuk di dapur rumahnya. Dia membilas aneka rempah yang baru direndam semalaman. Ada jahe, kunyit, kencur, dan beberapa jenis empon-empon lainnya. Satu persatu kemudian diiris tipis dan selanjutnya diblender.
Yeni sengaja membiarkan kulit rempah itu melekat. Tanpa mengupasnya. Kalau dikupas, kandungan yang ada di antara kulit dan dagingnya ikut terbuang. “Cita rasa dari rempah itu juga akan lebih pekat jika tidak dikupas,” tuturnya ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Bromo, belum lama ini.
Rempah yang sudah halus lantas dibuang ampasnya. Yeni hanya mengambil sarinya saja untuk disangrai dengan campuran gula pasir. Proses menyangrai ini membutuhkan kesabaran.
Karena untuk membuat sari rempah yang tadinya berupa cairan menjadi bubuk, perlu waktu yang tidak sebentar. Dia harus mengaduknya perlahan selama 90 menit sebelum sari rempah itu benar-benar berubah menjadi bubuk kering.
Tentu saja keterampilannya itu tidak ujuk-ujuk datang. Yeni sudah puluhan kali melakukan eksperimen sebelum menemukan cara membuat jamu bubuk yang pas. Mulai dari komposisi bahan hingga teknik menyangrai.
Yang lebih penting sebenarnya ketika menyangrai. Nyala api di kompor tak boleh terlalu besar. Jika tidak, maka dipastikan pembuatan jamu akan gagal.
Yeni bahkan pernah mengalaminya. Dia terpaksa membuang 15 kilogram jahe begitu saja. Sebab, saat itu gagal menyangrai jahe tersebut.
“Sedih rasanya, saya sampai nangis waktu itu. Apalagi kan pas parah-parahnya korona. Jadi harga jahe masih mahal,” kata Yeni.
Perlu waktu sekitar dua tahun bagi Yeni untuk melakukan banyak eksperimen. Hingga akhirnya dia pede jamu bubuk buatannya layak dijual.
Yeni sendiri sudah lama akrab dengan jamu tradisional. Perempuan yang tinggal di Randusari, Gadingrejo, Kota Pasuruan, itu kerap membuat jamu sendiri ketika masih bersekolah belasan tahun silam.
“Tahunya ya dari ibu. Cuma dulu kan hanya jamu yang langsung diminum. Kalau bikin yang bubuk instan ya baru-baru ini,” kata Yeni.
Kendati demikian, dia tak benar-benar meninggalkan produksi jamu yang berbentuk cair. Dalam sepekan, dia biasanya membuat 100 botol jamu cair. Sedangkan untuk jamu bubuk instan kisaran 100 hingga 200 bungkus sebulan.
“Kalau yang bubuk kan bisa lebih lama, meski tanpa pengawet. Kedaluwarsanya bisa sampai setahun. Beda dengan jamu cair yang hanya berumur seminggu,” kata Yeni.
Yeni kini memproduksi tujuh jenis jamu, baik yang berbentuk cair maupun bubuk instan. Ada jahe, kunyit, kencur, kunyit kayu manis, temulawak, dan jamu kesehatan wanita. Dengan mitra yang memasarkan produknya di Malang dan Sidoarjo, Yeni bisa meraup omzet Rp 3 juta hingga Rp 4 juta sebulan.
Tapi, tidak sedikit juga pembeli yang langsung memesan kepadanya. Terlebih setelah Yeni mengikuti pameran Indonesia City Expo gelaran Apeksi di Padang belum lama ini.
Sejak saat itu, pangsa penjualannya semakin luas. Sesekali, Yeni juga meladeni pesanan untuk dijual ke luar negeri. Kebetulan dia punya kenalan yang bekerja di Taiwan dan Hongaria.
Sekarang, jamu buatan Yeni juga sudah memiliki legalitas. Mulai dari NIB (nomor izin berusaha) dan sertifikat halal.
“Tinggal PIRT-nya yang sekarang masih proses,” tuturnya. Perempuan 31 tahun itu semakin optimistis dengan usaha yang ditekuni sekarang. Meski semula sempat tak mendapat dukungan dari suaminya.
“Mungkin karena kasihan ya, apalagi pernah gagal produksi Sampai rugi 15 kilogram jahe dulu. Tapi, itu kan bagian dari proses. Alhamdulillah bisa tetap berkembang sampai sekarang,” katanya. (hn) Editor : Jawanto Arifin