Cerita tentang Bajul Kroman sudah mengakar di tengah warga Masangan. Bahkan, cerita tersebut menjadi legenda yang turun temurun disampaikan hingga sekarang.
Kepala Dusun/Desa Masangan, Kecamatan Bangil, Sukisno menguraikan, banyak yang percaya Bajul Kroman merupakan perwujudan dari sosok manusia yang sakti. Ada yang menyebut, Bajul Kroman itu wujud dari Mbah Abdurrohman. Ada pula yang menyebut Mbah Luko Joyo serta Nyi Roro Kuning. Mereka merupakan tokoh atau sosok yang membabat alas kampung Masangan.
“Banyak yang percaya, Bajul Kroman adalah buaya jadi-jadian yang sampai sekarang masih ada. Jadi, buaya tersebut menyerupai fisik asli buaya dan kadang bisa berubah bentuk menjadi manusia,” ungkap dia.
Menurutnya, kisah tentang Bajul Kroman sudah lama ada. Bahkan, turun temurun hingga sekarang. Sejak kecil, ia sering mendengar ada orang yang bertemu dengan sosok lelaki yang diduga sebagai perwujudan dari Bajul Kroman.
Bahkan, cerita itu disampaikan langsung oleh ayahnya, Gimun. Ketika itu, orang tuanya yang seorang pencari ikan di laut tengah lewat tepian sungai Masangan. Tiba-tiba, ada seorang laki-laki berpakaian serba hitam menghampiri.
Lelaki tersebut bertanya dari mana. Begitu mendengar jawaban, sosok misterius itu langsung melompat dan menceburkan diri ke sungai. Seketika, sosok tersebut langsung menghilang.
Sukisno menguraikan, jelmaan Bajul Kroman digambarkan sebagai sosok lelaki yang tidak memiliki belahan atau cekungan pada bagian bawah hidungnya. Dan gambaran itu, bukan hanya satu atau dua orang yang menceritakan. Karena, tidak sedikit pula yang bertemu dengan penampakan tersebut.
Bahkan, ada pula pemancing yang dibuat syok. Ceritanya, ada seorang pemancing yang diingatkan agar tidak memancing di kawasan setempat pada hari Kamis. Karena dimungkinkan akan bertemu buaya jadi-jadian.
Ternyata, pemancing tersebut tidak menghiraukan. Bahkan, nantang. “Tak selang satu jam, orang tersebut mendapati sosok buaya, tapi berkepala manusia. Ia langsung syok dan pingsan saking takutnya. Dan begitu sadar, ia pun menceritakan apa yang dilihatnya kepada warga,” tuturnya.
Masih Banyak Buaya di Sungai
Terlepas dari kisah Bajul Kroman di Sungai Masangan, faktanya sampai sekarang memang masih banyak buaya yang hidup di wilayah setempat. Entah itu buaya jadi-jadian atau memang buaya sungguhan. Susah dibedakan.
Karena tak jarang, penampakan yang ada kerap diiringi dengan keanehan. Terkadang, buaya-buaya itu berbaris. Dengan jumlahnya yang belasan. Ngelangi.
“Ada pula yang melihat, buaya tersebut melintang dibarengi dengan ikan-ikan banyak di sekitarnya,” jelas Sukisno, kepala Dusun/Desa Masangan, Kecamatan Bangil.
Banyaknya buaya di Sungai Masangan, pernah dibuktikannya. Ketika ada normalisasi sungai setempat, sebuah alat berat untuk mengeruk sungai mengenai buaya kecil hingga mati. Namun, wujud buaya tersebut tak berubah.
“Sampai menunggu lama, wujudnya tak berubah. Berarti buaya asli,” tandasnya.
Begitu juga ketika ia sedang bersih-bersih sungai. Saat berada di air Sungai Masangan, ia tak sengaja menginjak benda aneh. Benda tersebut seperti bergerigi atau bersirip saat diraba dengan kakinya. Ia pun panik.
“Saya pun langsung nyebut. Saya juga bilang, Mbah Aku turunane pean. Setelahnya, benda tersebut menghindar sedikit demi sedikit,” sampainya.
Meski tampak menyeramkan, sebenarnya Sungai Masangan masih banyak dimanfaatkan warga. Terkadang, ada yang mandi di sungai setempat. Khususnya, para petani yang hendak pulang ke rumahnya.
“Memang tampak menyeramkan. Tapi, masih banyak warga yang memanfaatkannya. Kami yakin, selama tidak mengusik, maka tidak akan ada masalah,” ulasnya.
Jadi Ikon Desa
Cerita Bajul Kroman yang melegenda dijadikan salah satu ikon di Desa Masangan. Ketika ada festival atau perayaan Agustusan, Bajul Kroman muncul ke darat. Tentu, bukan buaya sungguhan atau buaya jadi-jadian seperti dalam legenda. Melainkan boneka buaya yang dibuat oleh warga untuk festival atau Agustusan.
“Karena sudah menjadi ikon, biasanya dihadirkan ketika ada event. Seperti pawai saat Agustusan atau sedekah dusun,” cerita Sukisno.
Ia menambahkan, sosok Bajul Kroman dibuat sedemikan rupa oleh warga. Bentuknya hijau bersisik. Sementara badannya dibuat begitu besar. Butuh beberapa hari untuk membuatnya.
Agar kesan mistis muncul, Bajul Kroman dibuat lebih menyeramkan. Yakni, sedang memakan manusia dengan lumeran warna merah darah di sekitar giginya.
Bukan hanya dihadirkan saat ada pawai. Sosok Bajul Kroman juga menghiasi karung beras yang biasa dijual oleh salah satu pengusaha asal Masangan. Gambar bajul tersebut sengaja dipasang, karena melekatnya ikon Bajul Kroman di Masangan.
“Karena saking lekatnya Masangan dengan Bajul Kroman, sampai-sampai menginspirasi seorang pengusaha beras di desa. Ia memasang gambar buaya yang diidentikkan dengan Bajul Kroman pada karung beras produksinya,” paparnya. (iwan andrik/hn)
Tentang Legenda Bajul Kroman
- Bajul Kroman dipercaya sebagai perwujudan tokoh atau pembabat alas di Desa Masangan.
- Sosoknya adalah buaya jadi-jadian yang sampai sekarang masih ada.
- Saat menjelma manusia, Bajul Kroman digambarkan sebagai sosok lelaki yang tidak memiliki belahan atau cekungan di bawah hidungnya.
- Cerita itu disampaikan secara turun temurun pada warga Masangan sampai sekarang.
- Kini, legenda Bajul Kroman telah menjadi ikon Desa Masangan. Sehingga, sering ditampilkan saat festival atau perayaan Agustusan.