Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warung Kejujuran Masjid Ar-Rahman di Leces yang Awalnya untuk Musafir

Jawanto Arifin • Selasa, 8 November 2022 | 22:30 WIB
TANPA PETUGAS: Warung kejujuran di halaman Masjid Ar-Rahman di Kecamatan Leces ini tidak dijaga petugas. Pembeli melaksanakan sistem pelayanan sendiri dengan pantauan CCTV. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
TANPA PETUGAS: Warung kejujuran di halaman Masjid Ar-Rahman di Kecamatan Leces ini tidak dijaga petugas. Pembeli melaksanakan sistem pelayanan sendiri dengan pantauan CCTV. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
Banyaknya musafir yang datang ke Masjid Ar-Rahman membuat takmir masjid setempat pun berinisiatif membuka warung. Dengan konsep kejujuran, warung itu awalnya hanya untuk musafir. Kini, warung itu bisa beromzet Rp 60 juta – Rp 70 juta sebulan.

RIZKY PUTRA DINASTI, Leces, Radar Bromo

SEJAK Maret 2021, masjid Ar- Rahman yang ada di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, membuat warung kejujuran. Warung itu berada di halaman masjid yang ada di Jl Raya Leces, masuk Desa Sumberkedawung. Omzet warung yang buka 24 jam itu pun cukup fantastis. Mencapai Rp 60 juta – Rp 70 juta per bulan.

Nurul, 54, bendahara masjid mengatakan, warung yang digagas takmir masjid setempat itu terinspirasi dari banyaknya musafir yang datang. Setiap harinya, silih berganti musafir datang. Baik untuk salat dan istirahat dari perjalanan jauh.

“Dari dulu masjid ini dijadikan jujukan untuk istirahat dan salat. Jadi, ketika ada travel dari Jember atau dari daerah lainnya. Biasanya istirahatnya di sini. Dari sanalah muncul ide membuka warung untuk para musafir,” terang warga Desa Sumber Kedawung ini.

Karena dibuka untuk musafir, warung pun buka 24 jam. Agar tidak memberatkan musafir juga, harga maksimal per item makanan atau minuman yaitu Rp 5 ribu. Selain itu, tiap item disertai dengan keterangan harga. Sehingga tidak menyulitkan pembeli.

Yang menarik, warung itu dijalankan dengan sistem pelayanan sendiri. Pembeli melayani diri sendiri. Termasuk juga, menghitung sendiri makanan dan minuman yang dibeli. Kemudian membayar di kotak pembayaran. Dengan kata lain, konsep kejujuran diterapkan di warung ini.

Bahkan, tidak ada penjaga di warung. Pantauan hanya dilakukan lewat CCTV. Harapannya, ketika terjadi hal yang tidak diinginkan tetap bisa diketahui.



“Jadi konsepnya ini warung kejujuran. Karena itu, tidak ada yang menjaga. Pembeli dipersilakan mengambil sendiri dan membayar di kotak pembayaran yang sudah disediakan,” tambahnya.

Memang, ada saja pembeli yang membayar kurang dari harga. Namun, juga ada yang membayar lebih dari harga.

“Ada saja memang yang membayar kurang. Biasanya anak sekolah. Ambil Rp 5 ribu bayarnya Rp 2 ribu. Kami tahu saat cek di CCTV. Namun, kami tidak menindak. Hanya sebatas tahu saja. Tapi, tak sedikit yang bayar lebih. Mungkin hitung-hitung buat amal,” imbuhnya.

Kelebihan membayar ini selalu dimasukkan ke kas masjid oleh pengelola warung. Sebab, memang keuntungan warung itu sendiri salah satunya dipakai untuk pembayaran listrik masjid.

Meski berkonsep warung kejujuran, toh omzet warung ini lumayan besar. Pada tahun ini per bulan mencapai Rp 60 juta sampai Rp 70 juta. Karena jumlah uang yang lumayan besar, pengelola warung biasanya mengambil uang di kotak pembayaran setiap dua atau tiga hari.

Rohman, 39, sopir travel asal Jember adalah salah satu yang beberapa kali singgah di warung kejujuran ini. Terutama, bila dia lewat Leces saat mengantar tamu.

Menurutnya, pelayanan sendiri di warung itu sangat disukainya. Sebab, pembeli jadi lebih leluasa. Termasuk memang, menguji kejujuran tiap pembeli.



“Saya sering istirahat dan salat di sini ketika mengantar tamu. Bahkan, sejak sebelum warung kejujuran itu ada. Dengan adanya warung kejujuran ini, saya jadi tambah suka. Karena baru kali ini ada warung kejujuran di masjid. Biasanya saya beli kopi,” tuturnya.

Saat membayar di kotak pembayaran, biasanya Rohman membayar lebih. Walaupun kelebihannya tidak banyak. “Itung-itung buat amal juga,” katanya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, tak sedikit kendaraan travel dan pribadi yang keluar masuk masjid. Kemudian, rombongan yang turun langsung bergegas menuju warung kejujuran itu. Ada yang mengambil es krim serta minuman dingin lainnya. Sementara di barisan bapak-bapak kebanyakan mengambil dan membuat kopi.

“Di sana juga disediakan air panas. Jadi ketika hendak membuat kopi, teh, ataupun Pop Mie bisa membuat sendiri,” imbuh Nurul.

Nurul menerangkan, jika warung yang dibukanya itu tidak hanya sebatas untuk jual beli saja. Namun, juga sebagai ladang amal serta meningkatkan energi positif. Salah satu caranya yakni dengan berperilaku jujur pada diri sendiri.

Yang jelas, dengan adanya warung kejujuran ini, diharapkan mampu meningkatkan energi positif dengan melakukan tindakan jujur. Serta, membantu mempermudah musafir untuk memperoleh kebutuhannya. Baik makanan ringan, kopi, teh, dan sebagainya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#warung kejujuran