ACHMAD ARIANTO-FAHRIZAL FIRMANI, Probolinggo, Radar Bromo
JARUM jam saat itu menunjukkan pukul 10.15. Waktu sibuk-sibuknya bagi pegawai kantoran. Begitu juga di markas damkar yang ada di Dringu. Sejumlah personel terlihat hilir mudik. Mereka stand by, jaga-jaga jika telepon darurat berdering.
Di antara personel itu terlihat Angga Suryanto, 31. Dia adalah personel yang statusnya masih honorer. Meski begitu, dia menjadi andalan damkar karena Angga kerap diandalkan untuk mengevakuasi sarang tawon vespa. Teman-temannya menjulukinya spesialis tawon vespa.
Tentu saja sebagai personel damkar, Angga punya banyak pengalaman saat dia mengevakuasi tawon. Termasuk disengat hingga merasakan sakit. Bahkan, dia pernah mendapat 26 sengatan lebah yang sampai membekas di bagian kepala dan tangannya saat mengevakuasi sarang tawon vespa.
Insiden ini terjadi pada bulan Januari lalu. Saat itu, tim animal rescue damkar mendapatkan laporan dari warga Desa/Kecamatan Leces. Warga resah karena ada sarang tawon vespa yang berada di atap rumah. Tim yang beranggotakan empat orang tersebut pun langsung mendatangi lokasi.
Sesampainya di lokasi, Angga yang menjadi eksekutor pun kemudian memetakan wilayah dan titik sarang tawon. Hal ini dilakukan untuk menemukan titik yang paling mudah untuk mengevakuasi. Setelah menemukan titik yang tepat, Angga kemudian dengan menggunakan alat pelindung diri (APD). Bentuknya seperti APD yang kerap digunakan tenaga medis saat pandemi lalu.
Angga lalu menaiki tangga untuk menjangkau sarang yang berada di ketinggian 3 meter itu. “Memang langkah awal yang dilakukan adalah memetakan dulu. Khawatir ada sarang tawon lainnya. Sebab, itu membahayakan saat evakuasi dilakukan,” ujarnya.
Begitu tiba di atap rumah, perlahan Angga menjangkau sarang. Proses evakuasi pun dilakukan. Setelah tawon hendak diambil, sarang yang sebelumnya terlihat kecil, ternyata berukuran cukup besar. Sebab, sarang utamanya berada di dalam plafon rumah. Sementara yang tampak dari luar hanya seperempat bagian dari sarang yang ada di dalamnya.
Jelas Angga kaget dan sempat kebingungan. Tapi, Angga tak mundur. Dia mencari cara untuk mengevakuasinya. Menutup lubang sarang dan menyemprotkan cairan pestisida pada sarang. Setelah menunggu beberapa menit, Angga melakukan aksinya.
Dimulai dengan mengangkat bagian luar sarang dan memasukkan ke dalam karung. Cara itu berhasil. Namun apes. Saat mau mengevakuasi sarang yang di dalam plafon, sarung tangan yang dipakainya tersangkut di sisi plafon hingga terlepas. Akhirnya tawon vespa yang merasa terusik, keluar dari sarang, dan mengerubuti tubuhnya. Sebagian tawon masuk melalui lengan yang sudah tak terlindungi sarung tangan. Angga disengat.
“Sarung tangan lepas, tawon berhamburan. Mungkin ada puluhan tawon yang ada di sekitar tubuh. Beberapa tawon menyengat leher, kepala, dan tangan. Kalau dihitung ada 26 sengatan mendarat di badan,” katanya menceritakan kejadian itu.
Untungnya evakuasi berhasil dilakukannya sampai selesai. Meski Angga harus menahan sakit. Selesai melakukan tugasnya, rasa sakit dan nyeri akibat sengatan itu mulai dirasakannya. Badannya terasa gatal dan panas, badan meriang dan mata berat. Kondisi demikian membuat rekannya membawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis. Setelah mendapatkan pertolongan medis, warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Dringu, ini pun pulang.
Dia pun berniat untuk istirahat setelah melaksanakan tugasnya. Tak disangka. Dampak dari sengatan tawon itu membuatnya serbatidak enak. Badan terasa panas seperti demam. Sementara saat dipaksa untuk tidur, mata tak bisa dipejamkan. Begitu pula saat tidur. Dia sering terbangun. Rasa sakit itu dirasakannya selama 5 hari.
“Kalau bengkak karena sengatan itu dirasakan sampai 10 hari. Setelah itu bengkaknya mulai kempes. Terkena sengatan itu sudah risiko pekerjaan. Mungkin inilah dukanya. Berhasil mengevakuasi sarang tawon dan membuat orang lain selamat adalah sukanya,” bebernya.
Selain Angga, suka-duka juga dirasakan Purwantoro, 42. Dia adalah personel damkar Kota Probolinggo. Ia pernah memiliki pengalaman disengat tawon vespa. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2020 lalu.
Saat itu, ia hendak mengevakuasi sarang tawon dari rumah warga di Jalan Slamet Riyadi. Ia telah mengenakan APD. Ada dua orang temannya yang mengambil sarang tawon dari pohon dan dimasukkan ke dalam karung sak. Sementara dirinya bertugas menjaga agar tangga tidak terjatuh.
Rupanya, ada tawon yang tidak terevakuasi. Tawon ini lantas menyengat kulit leher dan pergelangan tangannya sebelah kanan. Awalnya ia tidak merasakan apapun. Namun, beberapa saat kemudian, kepalanya terasa pusing dan matanya pun berkunang-kunang.
“Memang sebaiknya mengevakuasi tawon itu saat malam. Karena kalau malam, tawon cenderung beristirahat. Tapi, saat itu kami menerima laporan pada siang dan APD yang dikenakan belum standar seperti saat ini,” katanya.
Ia langsung dibawa ke ruang instalasi gawat darurat (IGD) RSUD dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo. Ia sempat disuntik dan diberi infus. Ia diperbolehkan pulang usai infusnya habis. Namun, ia harus beristirahat di rumah selama dua hari.
“Saat beraktivitas di rumah ya tidak terasa apa-apa. Tapi, kalau saat istirahat atau mau tidur, bagian yang disengat terasa panas, nyeri, dan seperti ditusuk-tusuk jarum berulang kali,” ungkapnya sembari tertawa.
Erik Aprianto, 34, petugas damkar lainnya menyebut ia sempat disengat tawon vespa pada September lalu. Saat itu, ia sedang mengevakuasi sarang tawon di sebuah musala Jalan Flamboyan. Saat memasukkan sarang tawon ke sak, ternyata ada tawon yang berada di sela jarinya.
Akibatnya, bagian telunjuk sebelah kiri pun disengat. Usai evakuasi selesai, saat APD dibuka, ia melihat darah bercucuran dari jari telunjuknya. Ia langsung mengompres di bagian yang disengat dengan es batu.
“Cuma ternyata malah membiru. Akhirnya saya pergi ke bidan. Di sana, saya disuntik obat dan diminta rehat selama sehari. Saat disengat saya merasa jari seperti dipukul palu. Sampai sekarang masih ada bekasnya, kadang terasa gatal,” pungkas Erik. (fun) Editor : Jawanto Arifin