Sumber mata air Kekok atau Sumber Kekok berada di Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Tepatnya di sebelah timur Jalan Arief Rahman Hakim.
Selain Sumber Kekok, ada sumber mata air lain di Jalan Arief Rahman Hakim. Yaitu, Sumber Pacar. Lokasinya berada di sebelah barat Jalan Arief Rahman Hakim.
Bedanya, Sumber Pacar sampai saat ini dimanfaatkan masyarakat umum. Sebab, lokasinya berada di lahan milik pemerintah. Karena itu, saat ini dikelola dan dibangun oleh Pemkot Probolinggo.
Sementara Sumber Kekok berada di lahan milik pribadi warga setempat. Karena itu, sumber ini tidak tersentuh pembangunan oleh pemerintah. Kondisinya alami layaknya sumber di alam.
Edi Martono, 50, pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defence Heritage Society) Kota Probolinggo menjelaskan, sampai saat ini Sumber Kekok masih dikenal angker. Karena angker, tidak banyak warga yang berani memanfaatkan sumber itu. Walaupun sebenarnya, pemiliknya tidak melarang sumber itu dimanfaatkan warga.
“Selain itu, air di Sumber Kekok ini sudah lama dikenal bisa menyembuhkan sakit tertentu. Bahkan, sampai saat ini masih dipercaya bisa menyembuhkan sakit,” tuturnya.
Karena dipercaya bisa menyembuhkan sakit, ada saja warga yang datang ke sana untuk mandi dan meminum airnya. Walaupun memang tidak banyak.
Bisa jadi, menurut Edi, air di Sumber Kekok mengandung kadar mineral tinggi. Sehingga bisa menyembuhkan sakit gatal.
Hal senada diungkapkan Haliman, 52, juru kunci Sumber Kekok. Menurutnya, air di Sumber Kekok memang dikenal berkhasiat menyembutkan sakit tertentu. Namun, setiap warga yang datang ke sumber itu memang diharuskan menjaga sikap yang baik.
“Dulu saat masih kelas 4 SD, bibir saya sempat perot (miring). Sebabnya, saya main di sana dan berisik. Sudah diperingatkan sama orang tua jangan berisik. Tapi, saya tidak mendengarkan. Akhirnya, saya seperti ditampar dan mulut saya perot,” tuturnya.
Oleh mbahnya, Haliman diminta tidak datang dulu ke Sumber Kekok selama empat hari. Sembari membuat sandingan. “Alhamdulillah kemudian sembuh,” lanjutnya.
Ahmad Budiman, 54, pemerhati sejarah asal Pasuruan juga pernah membawa istrinya Anna Dewi, 47, ke Sumber Kekok. Sebabnya, lima tahun lamanya istrinya itu sakit gatal atau koreng.
Saat sampai di sumber, dia lantas mengambil air di sana. Lalu diusapkan air itu ke gatal-gatal di tubuh istrinya. Sejak saat itu, sakit gatal yang dialami Anna berangsur sembuh.
“Kami waktu itu bertemu dengan pemilik dan juru kunci sumber. Termasuk istri saya disarankan minum rebusan rumput liar juga. Sakitnya semacam koreng di kaki dan di tangan. Sudah sekitar lima tahun. Entah itu dari sumber atau jamu rebusan yang menyembuhkan, wallahualam,” katanya.
Tetap Dibiarkan Alami
Berbeda dengan Sumber Pacar yang kondisinya makin cantik. Sumber Kekok yang berada di sisi timur Jalan Arief Rahman Hakim dibiarkan begitu saja.
Di kiri dan kanan sumber masih banyak pohon tua. Dasar sumber berupa tanah. Karena jarang didatangi warga, membuat dasar dari sumber terlihat keabu-abuan.
Haliman, 52, juru kunci Sumber Kekok mengatakan, sejak remaja dia menjaga sumber yang berada di lahan milik keluarga Dathu tersebut. Tugasnya menjaga kebersihan di sekitar lokasi sumber. Juga menjaga kebersihan sumber.
“Saya buatkan pembuangan yang besar agar daun-daun yang jatuh tidak menutupi sumber,” katanya.
Selain itu, sisi selatan sumber diberi penutup dari gedek. Sehingga orang yang mandi di sumber tidak terlihat. Namun, hanya orang lokal yang kebanyakan mandi di sana.
“Itu pun yang mandi rata-rata sengaja datang untuk berobat. Biasanya orang dewasa. Kalau anak-anak, tidak berani mandi di sini. Baisanya mandi di Sumber Pacar sebelah,” tambahnya.
Apalagi, menurutnya, pemilik lahan atau keluarga Dathu terkenal tertutup. Jarang keluar rumah dan jarang berinteraksi dengan tetangganya.
“Memang orangnya jarang keluar. Pemiliknya ini menganut Kejawen,” tutur Haliman. (rizky putra dinasti/hn) Editor : Jawanto Arifin