Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tak Disangka, Kejari Kab Pasuruan Ini Pernah Jadi Sales Regulator Gas Elpiji

Ronald Fernando • Jumat, 14 Oktober 2022 | 16:30 WIB
HUMORIS: Kajari Kabupaten Pasuruan yang baru, Abdi Reza Pachlewi. Dia mendaftar di kejaksaan setelah mendapat saran dari temannya. (Iwan Andrik/ Radar Bromo)
HUMORIS: Kajari Kabupaten Pasuruan yang baru, Abdi Reza Pachlewi. Dia mendaftar di kejaksaan setelah mendapat saran dari temannya. (Iwan Andrik/ Radar Bromo)
Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Pasuruan resmi berganti. Kursi jabatan Kajari Kabupaten Pasuruan itu kini diduduki Abdi Reza Pachlewi Junus. Sosok pejabat muda yang malang melintang di sejumlah wilayah ini ternyata pernah menjadi sales regulator gas elpiji sebelum mendaftarkan diri sebagai jaksa. Kok bisa?

========================================================

Iwan Andrik, Bangil, Radar Bromo

========================================================

Santai dan humoris. Terkadang juga sedikit ceplas-ceplos. Begitulah gambaran dari sosok Abdi Reza Pachlewi Junus. Kesan itu tergambar saat pria kelahiran Sorong, 1 Maret 1979 itu menemui awak media di kantornya, Rabu (12/10).

Ia pun tak segan-segan bercerita tentang perjalanan karirnya dan masa lalunya. Mulai saat menganggur lantaran menunggu pekerjaan impian. Hingga kepincut menjadi jaksa lantaran coba-coba dan menjadi Kajari Kabupaten Pasuruan seperti sekarang.

"Tidak ada cita-cita saya untuk menjadi jaksa. Keluarga saya pun sebelumnya tidak ada yang menjadi jaksa. Justru keinginan saya waktu kecil bisa masuk AKABRI agar menjadi perwira TNI," kisah lulusan SD hingga SMA di Sorong ini.

Reza -sapaan Abdi Reza Pachlewi Junus- mengungkapkan, layaknya pemuda lain ia memang ingin menikmati masa muda dengan penuh kesenangan. Makanya, meski punya cita-cita menjadi TNI, ia tak keburu untuk meraihnya.

Sampai-sampai, pendaftaran AKMIL yang sejatinya sempat dibuka habis masa pendaftarannya. Ia pun telat untuk mengikutinya. "Karena telat saya pun nggak jadi mendaftar. Ada pendaftaran TNI lagi memang, tapi untuk prajurit. Tapi, saya memilih untuk tidak mendaftar kala itu," kenang suami dari Anggi ini.

Ia pun akhirnya memilih untuk menjalani kuliah. Ia mengikuti SNMPTN untuk bisa masuk ke perguruan tinggi. Hingga akhirnya ia berhasil meraih satu kuota sebagai mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Sam Ratulangi, Manado.

Lulus kuliah tahun 2003, ia mencoba-coba berbagai pekerjaan. Hal itu dilakukannya sambil menunggu pendaftaran pekerjaan impian yaitu menjadi pegawai Pertamina. Salah satunya dengan bermain valas.

"Kakek saya dan ayah saya seorang pegawai Pertamina di Papua. Saya memang ingin mengikuti jejak mereka," tuturnya.

Ada kejadian unik ketika ia menantikan pekerjaan impiannya itu. Waktu itu, ia yang pergi ke Bandung menerima informasi adanya pendaftaran untuk perusahaan Pertamina-LPG. Ia yang memang mengincar pekerjaan sebagai pegawai di Pertamina, akhirnya mendaftar.

Setelah mengirim dan menyerahkan lamaran, ia pun dibuat kaget. Karena langsung diterima dan dipekerjakan hari itu juga.

Ia pun diajak ke sebuah desa. Dia sempat mengira akan survei lapangan bersama tim perusahaan Pertamina tersebut. Ternyata, ia disuruh pergi dari pintu ke pintu. Menawarkan selang regulator ke rumah-rumah warga.

"Saya pun langsung berhenti seketika itu. Ampun pokoknya. Saya kira perusahaan Pertamina sungguhan. Ternyata perusahaan regulator gas elpiji," katanya.

Hingga lama tak ada arah, ia bertemu dengan seorang teman yang seorang jaksa. Kepadanya, rekannya tersebut menyarankan agar mendaftar sebagai jaksa. Mumpung ada lowongan terbuka.

Ia yang mendapat saran tersebut, kemudian mencoba-coba peruntungan. Dengan mendaftarkan diri sebagai jaksa di Kejati Jawa Barat. Waktu itu, ada ribuan bahkan mungkin puluhan ribu pendaftar se Indonesia. Namun akhirnya yang diterima hanya 450 orang. Termasuk dirinya. "Saya daftar sebagai jaksa, sekitar tahun 2004 silam," ulasnya.

Ia ditempatkan pertama kali di Kejari Bau-Bau, Buton. Sejak 2005 hingga 2009. Sempat beberapa kali ikut ujian pendidikan jaksa. Namun beberapa kali gagal. Hingga 2009, ia lolos dan menjadi calon jaksa.

Reza sempat melanglang buana ke sejumlah wilayah. Tahun 2009, sempat mengisi Kasubsi Penuntutan Jampidsus Kejari Lampung Utara. Hingga akhirnya masuk Badan Dimlat selama 2 tahun. Itu setelah ia mendapatkan beasiswa S-2 di Universitas Indonesia.

Tahun 2012, ia dipercaya untuk menjadi jaksa fungsional di Kejaksaan Negeri Jakarta. Serta Kasi Intel di Kejari Negeri Sorong, Papua Barat pada 2013.

Baru kemudian tahun 2016, ia ditempatkan di Probolinggo Kota sebagai Kasi Datun Kejari Kota Probolinggo. Selang setahun, ia dipindahtugaskan sebagai Kasi Intel di Kejaksaan Negeri Manukwari, Papua Barat. Hingga 2019 kemudian, ia pindah ke Kasi B Bidang Intel Kejati Papua.

Setahun kemudian, ia dilantik sebagai Kabag TU Kejati Papua Barat. Dan 2021 kemudian, dipercaya sebagai Kajari Ogan Komering Ilir Kayu Agung, Sumatera Selatan.

Hingga 15 September 2022. Ia akhirnya didapuk sebagai Kajari Kabupaten Pasuruan menggantikan Ramdhanu Dwiyantoro. Ramadhanu sendiri berpindah tugas sebagai Asisten Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan.

Selama bertugas, banyak pengalaman yang didapatinya. Termasuk ketika kerusuhan di Manukwari. Suasana yang mencekam membuatnya harus bersikap untuk bisa mendinginkan suasana. Karena mencekamnya, sampai-sampai sebagian persidangan dipindah ke Kalimantan.

"Kami akhirnya melakukan pendekatan agar keluarga pihak-pihak terkait tenang, tidak sampai ada kericuhan. Karena bila kondisi tidak kondusif, tentu sidang akan dipindah ke tempat lain. Dan mereka tidak bisa menyaksikan jalannya sidang. Dari situ, akhirnya mereka bisa menjaga kondusivitas," tuturnya.

Selama berpindah-pindah tugas itu, Probolinggo termasuk yang berkesan. "Waktu itu saya menjabat kasi datun. Jadi agak santai pekerjaannya," kelakarnya. (hn) Editor : Ronald Fernando
#kejari kabupaten pasuruan