Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kreativitas Jumadi Merestorasi Sepeda Jadul Jadi Sepeda Balap

Ronald Fernando • Senin, 10 Oktober 2022 | 20:01 WIB
Jumadi saat merestorasi sepeda balap jadul pesanan orang. (Iwan Andrik/ Radar Bromo)
Jumadi saat merestorasi sepeda balap jadul pesanan orang. (Iwan Andrik/ Radar Bromo)
Booming sepeda balap memberi inspirasi bagi Jumadi, 46, warga Panggungrejo, Kota Pasuruan. Ia berhasil mengotak-atik sepeda lawas untuk dijadikan sepeda balap. Dari kreasinya itu, ia bisa mendulang keuntungan jutaan rupiah.

========================================================

Iwan Andrik, Pasuruan, Radar Bromo

========================================================

Tumpukan sepeda bekas menghiasi ruang kerjanya. Satu persatu sepeda itu dipreteli. Dicari bagian yang bisa dimanfaatkan. Ada frame, shock, dan beberapa bagian lainnya.

Masing-masing bagian itu kemudian dipadukannya. Proses pemaduan itu membutuhkan waktu cukup lama. Bisa berhari-hari, tergantung ketersediaan bahannya.

“Kalau semua lengkap dan sesuai, bisa lebih cepat,” kata Jumadi yang sibuk di bengkel rumahnya.

Sebagian komponen sepeda tersebut memang bekas. Barang bekas itu kemudian dipermak. Ada yang dilas atau dipotong dulu untuk disesuaikan dengan kebutuhan.

Bagian lainnya ada yang dibelinya di toko peralatan sepeda. Terutama bagian yang tidak tersedia pada komponen sepeda bekas yang dibelinya.

“Memang butuh waktu lama untuk merakit satu unit sepeda balap. Bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu,” imbuh Jumadi.

Jumadi memang seorang perestorasi sepeda balap. Sudah tiga tahun terakhir aktivitas itu dilakoninya. Booming-nya sepeda balap membuat restorasi sepeda balap banyak digemari. Maklum, harga sepeda balap cukup mahal. Bisa jutaan rupiah hingga puluhan juta.

Harga yang mahal kadang membuat seseorang gelagapan untuk membelinya. Maklum, tak semua memiliki dana yang memadai. “Untuk menyiapkan sepeda balap yang terjangkau itulah, saya kemudian merestorasi dan menjual hasil restorasi tersebut,” tandasnya.

Kisah di balik restorasi sepeda itu dimulai pada 1990-an. Ketika itu sedang booming sepeda BMX. Jumadi muda pun memiliki sepeda BMX seperti teman-temannya yang lain.

Bedanya, teman-temannya biasa memperbaiki sepeda mereka ke tukang sepeda bila ada masalah. Namun, tidak bagi Jumadi. Dia iseng-iseng memperbaiki sendiri. Hingga dari situlah, ia memiliki keahlian untuk memperbaiki sepeda.

“Mulanya memang iseng-iseng. Saya cat, ganti ban, dan modif lainnya. Kadang kalau ada bagian yang kocak, saya perbaiki sendiri. Sampai akhirnya saya mengerti cara memperbaiki sepeda,” kisahnya.

Kemampuannya itu lantas diketahui teman-temannya. Hingga akhirnya mereka berdatangan. Meminta bantuan memodif sepeda BMX masing-masing.

Namun, hal itu tak lama. Karena beberapa waktu kemudian, ia memutuskan bekerja di pabrik minuman dan percetakan di Surabaya. Saat bekerja di pabrik minuman itulah, ia tertarik untuk membuat frame sepeda.

Kebetulan, banyak event sepeda BMX waktu itu. “Akhirnya saya iseng-iseng membuat frame sepeda sendiri. Saya membuatnya menggunakan pipa besi,” kenang dia.

Rupanya, peminat frame buatannya cukup tinggi. Banyak orang yang pesan. Tapi, hal itu juga tak berlangsung lama. Pada 2007, bisnisnya itu macet lantaran munculnya pabrikan-pabrikan pembuatan frame. “Karena tak lagi laku, akhirnya saya fokus pada reparasi sepeda,” ulasnya.

Baru tahun 2019 itulah, ia kepincut untuk merestorasi sepeda balap. Sepeda jadul dimutilasi, kemudian diubah menjadi sepeda kekinian. Tentu harganya lebih murah bila dibandingkan dengan harga pabrikan.

Uji coba itu dilakukannya dengah hanya bermodalkan ratusan ribu. Ia membeli barang-barang bekas. Kemudian dirancang hingga menjadi sebuah road bike yang lumayan.

“Saya jual laku sekitar Rp 700 ribu. Sejak itu saya mulai gencar melakukan restorasi sepeda balap,” tandasnya.

Sebulan, ia bisa merakit lebih dari dua unit sepeda. Pemesannya tidak hanya dari Pasuruan. Tetapi, juga ada yang dari Surabaya.

Meski begitu, merestorasi sepeda balap tak semudah seperti yang tampak. Ia pernah gagal ketika ketebalan pipa frame berlebih. Saat itu, sepeda menjadi berat dan tak nyaman.

“Awalnya memang buat sendiri untuk frame. Buatnya dari besi. Tapi, karena berat akhirnya mencari frame dari sepeda bekas,” bebernya.

Belum lagi untuk mencari bahan, terkadang gampang-gampang susah. Ia harus mencari berhari-hari untuk berburu bahan. (hn) Editor : Ronald Fernando
#sepeda balap