Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Rossi Akhirnya jadi TNI setelah Sembilan Kali Mendaftar

Jawanto Arifin • Sabtu, 1 Oktober 2022 | 16:02 WIB
TAK PERNAH MENYERAH: Mochamad Rossi yang kini bertugas di Koarmada II Surabaya. Dia menjadi Bintara Utama di Kapal KRI 561 Multatuli. (Foto: Istimewa)
TAK PERNAH MENYERAH: Mochamad Rossi yang kini bertugas di Koarmada II Surabaya. Dia menjadi Bintara Utama di Kapal KRI 561 Multatuli. (Foto: Istimewa)
TENTARA itu gagah. Tentara itu benteng. Menjadi tentara itu berwibawa. Begitulah yang tertanam dalam diri Mochamad Rossi untuk menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Cita-citanya menjadi TNI begitu kuat. Tapi tidak mudah. Dia bahkan sampai harus mendaftar hingga 9 kali.

Terhitung Rossi delapan kali daftar sebagai anggota TNI-AL dan sekali TNI-AD. Hingga di akhir batas usianya untuk menjadi anggota TNI-AL, Rossi berhasil lulus tes seleksi dan berangkat Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) di awal Juli 2014 lalu.

Memang perjalanan dan perjuangan Rossi untuk menjadi anggota TNI, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak hanya butuh latihan fisik, psiko, dan mental. Hatinya pun diuji untuk tetap sabar dan kuat. Sekalipun dengan banyaknya hinaan. Omongan orang yang meremehkan keinginannya menjadi prajurit.

Photo
Photo
SUDAH SERTU: Gaya Rossi saat pelatihan. (Foto: Istimewa)

Keinginan Rossi menjadi TNI sudah tumbuh saat duduk dia masih duduk di bangku SMP. Begitu Rossi lulus SMPN 4 Kota Probolinggo 2007, dia melanjutkan ke SMAN 2 Kota Probolinggo jurusan IPA.

Tahun 2009, saat masih duduk di bangku kelas II SMA, Rossi pun mencoba daftar penerimaan Catam (Calon Tamtama) dengan menggunakan ijazah SMP-nya. ”Saya daftar TNI-AL pertama tahun 2009, menggunakan ijazah SMP. Karena, untuk penerimaan Catam itu, syarat ijazah minimal SMP. Tapi, saya gagal di tes kesehatan pertama,” kata pria asal Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran.



Dengan perjalanan pertamanya mendaftar, diakui Rosi, dirinya semakin semangat untuk mempersiapkan diri. Bahkan, saat lulus SMA tahun 2010, dirinya tidak langsung mendaftar. Tetapi, fokus latihan mempersiapkan fisik. Termasuk menguruskan badan. Tiap hari pagi dan sore dia latihan lari di lapangan.

Tetapi, untuk menghindari omongan orang, Rossi selalu sembunyi saat keluar rumah untuk latihan. Sepatu, jas hujan, disimpan di motor. Baru saat tiba di lapangan, perlengkapan latihan dipakainya.

Selain lari, Rossi juga berlatih renang. Dia juga harus menjalani terapi, tiap tidur kakinya diikat dan di lututnya dipasang bantal sebagai penahan. Karena, saat diperiksa postur tubuh, diketahui kakinya bentuk X. Terapi itu dijalani hampir setahun.

Selain ikut bimbingan latihan fisik, Rossi juga ikut sekolah bimbingan psiko. Dengan harapan, fisik dan psiko sudah mumpuni dan siap untuk daftar. Tak lupa ikhtiar dan doa Rossi lakukan.

Dia uga beruntung orang tuanya yakni A. Suhud dan (alm) Sunartik, begitu mendorongnya. Kedua orang tuanya selalu sowan ke kiai yang ada di Probolinggo. Dengan harapan, ikut mendoakan diberikan kemudahan dan kelancaran saat daftar TNI hingga lulus.

Hingga di pertengahan tahun 2011, Rossi mendaftar penerimaan calon bintara (Caba) TNI-AL. Awal tes kesehatan pertama dan psiko pertama, Rossi lulus. Kemudian, atas berikutnya, kesehatan dua dan tes psiko dua.

Tapi Rossi jatuh di tes kesehatan dua. ”Tahun 2011 itu, saya tidak daftar penerimaan Catam TNI-AL. Tapi saya kejar pendaftaran Caba-nya. Ternyata, gagal di tes kesehatan dua,” ujar bapak satu anak itu.



Di tahun yang sama, pria kelahiran Probolinggo, 4 Juli 1992 itu diminta saudaranya yang kebetulan berada di Solo, Jawa Tengah, untuk mendaftar di TNI-AD. Karena dorongan menjadi TNI, Rossi pun mengurus administrasi pindah kependudukan dari Probolinggo ke Solo. Saat itu, Rossi daftar penerimaan Catam TNI-AD.

Tapi, ternyata tes seleksi juga tidak berjalan mulus dan Rossi pun gagal dan harus pulang. Setelah dinyatakan gagal di tes TNI-AD, Rossi langsung mengurus pindah administrasi kependudukan kembali ke Probolinggo.

Beberapa kali gagal tes masuk anggota TNI, tidak membuat Rossi patah semangat. Awal tahun 2012, Rossi kembali lagi daftar Catam TNI-AL. Lagi-lagi, Rossi gagal di tes seleksi Psiko dua. ”Saat daftar Catam TNI-AL awal 2012, saya jatuh di tes psiko. Informasinya, nilai psiko saya terlalu tinggi, harusnya daftar Caba. Jadi saya daftar penerimaan Caba pada pertengahan 2012. Eh ternyata, malah gugur di tes kesehatan pertama,” ceritanya.

Pendaftaran penerimaan TNI-AL dalam setahun itu ada dua kali. Satu kali Catam dan satu kali Caba. Nah, giliran awal tahun 2013, Rossi kembali lanjutkan daftar Catam TNI-AL. Dan lagi-lagi dia harus gagal.

Akhirnya, pertengahan 2013, Rossi coba daftar penerimaan Caba TNI-AL. Baru kali ini, perjalanan ikuti tes seleksi Rossi berjalan mulus. Tes kesehatan dan psiko pertama, Rossi lulus. Begitu juga dengan tes kesehatan dan psiko kedua. Termasuk tes jasmani. Mulai dari tes lari, renang dan fisik lainnya. Semua tes seleksi dapat dilalui.

Rossi masuk tes sidang penentuan kelulusan tingkat daerah (Pantukhir Daerah), hasilnya lulus. Saat masuki tes seleksi tahap terakhir, yaitu Pantukhir Pusat (Panpus), Rossi dinyatakan tidak lolos.

”Saya sempat down. Depresi saat tahu tidak lolos di Panpus. Karena perjuangan untuk bisa ke tahapan akhir Panpus itu, butuh usaha dan doa luar biasa. Saya mulai lulus SMA sudah puasa Senin dan Kamis. Ibu (Sunartik-almarhum) juga puasa terus buat saya, tiap kali tes seleksi. Tapi ternyata, sudah sampai di Panpus, tinggal ketok palu dalam sidang, ternyata dinyatakan tidak lulus,” ungkapya.



Anak ketiga dari 4 saudara itu mengaku, sepulang dari ikuti tes Panpus karena dinyatakan gagal, sempat depresi. Tidak hanya menahan rasa kecewa, tapi menahan rasa malu pada tetangga, dan saudara yang mengetahui dirinya sudah berangkat tes akhir Panpus. Tetapi ternyata, malah pulang dan tidak jadi berangkat pendidikan TNI-AL.

Hingga pada akhirnya, Rossi sempat stres. Sang ibu bahkan pernah memergokinya nyanyi-nyanyi sendiri. Bahkan, dirinya sempat ada niatan untuk bunuh diri. Namun, niatannya itu dibatalkan. Saat itu ibunya menangis. Namun tetap menyemangatinya. Dia pun tersadar. Sementara ayahnya meminta Rossi untuk daftar kuliah saja.

Namun, Rossi menolak dan tetap ingin menjadi anggota TNI. Meskipun, diterima sebagai prajurit dengan pangkat tamtama pun tidak masalah. Rossi berani menolak permintaan ayahnya, karena masih ada kesempatan untuk daftar TNI. Mengingat, usianya masih 21 tahun. ”Batas usia untuk dapat daftar TNI adalah tidak boleh melebihi usia 21 tahun,” ujarnya.

Hingga di tahun 2014, Rossi yang tak mutung, kembali mendaftar penerimaan Catam TNI-AL. Dengan persiapan dan pengalaman yang telah dijalani, dia berangkat penuh semangat dan harapan besar.

Tes seleksi tahap pertama hingga Pantukhir Daerah, ternyata dilalui Rossi dengan mulus. Ternyata, keinginan untuk menjadi prajurit TNI kembali diuji oleh Allah. Rossi kembali gagal di tes tahapan akhir Pantukhir Pusat.

”Saya dua kali gagal di Pantukhir Pusat, saat daftar TNI-AL. Terakhir daftar Catam gugur di pantukhir pusat, saya pulang dijemput keluarga berusaha kuat. Dalam perjalanan pulang, ternyata saya dihubungi oleh teman, Mei 2014 ada pendaftaran bintara TNI-AL. Saat itu, saya masih rasakan ada harapan,” tuturnya.

Pendaftaran penerimaan Caba 2014, diakui Rossi, menjadi kesempatan terakhirnya. Karena, jika tidak lolos, dipastikan seumur hidup tidak dapat menjadi prajurit TNI. Semua tahapan tes seleksi, dijalani serius. Doa orang tua, terutama ibunya yang baru selesai menjalani operasi diabet, menjadi kunci utama.



”Alhamdulillah, saya lulus pantukhir pusat dan berangkat pendidikan pertama Bintara awal Juli. Menjelang batas usia saya. Allah ternyata benar-benar menguji, sejauh mana usaha dan doa saya. Saya bisa lulus diterima sebagai keluarga TNI-AL, saat menjelang akhir batas syarat usia saya. Pangkat saya sekarang sudah Sertu (sersan satu) garis kuning dua,” ungkapnya.

 

Menikahi Dokter

Sertu Mochmad Rossi, kini bertugas di Koarmada II Surabaya, sebagai Bintara Utama di Kapal KRI 561 Multatuli. Kebahagiaan menjadi prajurit TNI-AL, terasa lebih lengkap saat menikahi dokter muda, Evita Oktaviana Perdana asal Surabaya, pada Juni 2020.

Photo
Photo
BU DOKTER: Rossi dan istrinya yang seorang dokter. (Foto: Istimewa)

”Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan ketetapan dan apa yang telah Allah berikan pada saya. Saya sekarang sudah punya anak bernama Kayla Nadhifa Almaira,” kata Rossi sambil menunjukkan fotonya bersama istri dan anaknya.

Rossi mengaku, istrinya sangat mensuport tugas dan karirnya sebagai prajurit TNI-AL. Begitu juga keluarganya maupun dari keluarga istrinya. Dia kini tinggal di Surabaya bersama istrinya. Kebetulan, istrinya dinas praktik dokter umum di klinik Surabaya. Sehingga, dirinya dan istri, jarak ke tempat dinas tidak terlalu jauh.

”Kalau saya pulang dari layar atau libur dinas, saya selalu sempatkan pulang ke Probolinggo. Biasanya weekend Sabtu Minggu pulang ke Probolinggo,” ujarnya.



Dia yang kini bertugas di Mamuju Sulawesi selama 1 tahun, didorong untuk sekolah lagi untuk bisa ikuti pendidikan perwira TNI-AL. “Awal tahun 2022, saya sempat daftar sekolah untuk pendidikan Perwira. Tetapi, takdir Allah berkehendak lain. Dirinya yakini, Allah miliki rencana yang jauh lebih baik untuknya. Siapa tahu, tahun depan dirinya ditakdirkan dapat lanjutkan sekolah lagi untuk dapat melanjutkan karirnya ke jenjang perwira,” yakinnya. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin
#tni al #daftar tni