Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perjuangan Warga RT 8 Tandonsentul Lumbang Dapatkan Air Bersih

Jawanto Arifin • Selasa, 27 September 2022 | 15:40 WIB
Sejumlah warga RT 8/RW 3, Dusun Krandon, Desa Tandonsentul, Lumbang, membawa ember berisi air bersih. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
Sejumlah warga RT 8/RW 3, Dusun Krandon, Desa Tandonsentul, Lumbang, membawa ember berisi air bersih. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
Sudah tiga tahun terakhir, warga Dusun Krandon, RT 8/RW 3, Desa Tandonsentul, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, kesulitan air bersih. Tiap musim kemarau mencapai puncaknya, mereka harus mencair air ke sumber yang jaraknya sekitar 7 kilometer. Sebab, bantaun air bersih juga tidak mereka dapatkan.

RIZKY PUTRA DINASTI, Lumbang, Radar Bromo

AZAN Subuh belum lagi terdengar. Namun, Samiah, 45, sudah bangun. Warga Krandon, RT 8/RW 3, Desa Tandonsentul, Kecamatan Lumbang, itu lantas bergegas. Bersiap mengambil tempat air, timba ukuran besar.

Lalu dia pun berangkat ke sebuah sumber yang ada di Desa Palangbesi. Jaraknya tidak bisa dibilang dekat. Sekitar 7 kilometer dari Tandonsentul. Namun, mau tidak mau dia harus berangkat juga demi mendapatkan air bersih.

Lagipula, bukan Samiah seorang yang melakukannya. Semua keluarga dari sekitar 70 KK yang tinggal di RT 8/RW 3 ini melakukan hal yang sama. Pergi ke sumber air berjarak 7 kilometer untuk mendapatkan air bersih.

Ya, lokasi Dusun Krandon memang jauh dari sumber air. Sehingga sulit mendapatkan air bersih. Warga bukannya diam saja. Pernah dibangun saluran pipa untuk mengalirkan air. Namun, air tidak keluar dari pipa itu saat musim kemarau.

“Dulu warga sempat membangun saluran pipa kecil untuk mengalirkan air dari sumber. Namun, ketika kondisinya kemarau seperti saat ini, air yang ada di saluran pipa macet. Tidak keluar air. Jadi warga harus datang ke sumbernya yang ada di Desa Palangbesi,” tutur Samiah.

Perempuan dua anak itu mengaku, warga kesulitan air bersih sejak tiga tahun terakhir. Bahkan, meski ada kabar bahwa Pemkab Probolinggo menyalurkan air bersih, warga di dusunnya tidak pernah kebagian. Suplai air tidak pernah sampai ke Dusun Krandon. Mungkin karena lokasinya jauh. Tepat di tengah-tengah hutan milik Perhutani.



“Sudah tiga tahun lebih tidak ada suplai air ke sini. Kalau ke dusun lain saya tidak tahu,” katanya.

Karena itu pula, setiap hari warga berangkat ke sumber air di Desa Palangbesi. Ada yang bawa galon atau bak dengan menggunakan motor, ada juga yang jalan kaki.

“Saya sendiri kadang jalan kaki, tapi lebih sering dibantu anak dan kerabat yang pakai motor. Jadi saya titip bak atau galon. Sebab sudah tua. Tidak sekuat dulu,” ucapnya.

Jalan yang harus dilalui warga juga bukan aspal mulus tanpa hambatan. Melainkan jalan makadam. Karena itu, perjalanan jadi terasa lebih berat.

Belum lagi saat pulang membawa beban berupa bak berisi air bersih. Tak sedikit air yang dibawa tumpah akibat goncangan kendaraan saat melintasi jalan bebatuan.

“Biasanya selain ambil air bersih, warga sekalian mandi di lokasi tersebut. Jadi berangkat sekitar pukul 04.00 untuk mandi juga,” imbuhnya.

Fatimah, 23, warga Dusun Krandon juga melakukan hal serupa. Untuk kebutuhan mandi dan minum hewan ternak, warga memanfaatkan sungai Puring yang ada di desa. Jaraknya sekitar 50 meter dari RT 8.



“Untuk mandi, cuci baju, serta minum hewan ternak, warga biasanya memanfaatkan Sungai Puring. Jaraknya tidak terlalu jauh. Jadi sekitar pukul 04.00 warga sudah banyak di sungai untuk mandi. Termasuk mengambil air untuk minum ternak,” imbuhnya.

Sorenya, sekitar pukul 16.00, Sungai Puring kembali akan ramai. Banyak warga yang mandi sore di sana. Bagi mereka, meski air Sungai Puring tidak bisa dimanfaatkan untuk minum, namun mereka masih bisa bersyukur.

“Sementara untuk kebutuhan air bersih kami ambil di sumber air yang ada di Desa Palangbesi. Sebab, sumber di sana juga terbatas. Jadi kami pakai untuk kebutuhan air bersih saja. Kalau mandinya kebanyakan di Sungai Puring ini,” tambah perempuan berjilbab itu.

Meski demikian, warga setempat tak sering mengeluh. Mereka lebih banyak menjalani saja.

“Daripada mengeluh yang tidak ada hasilnya, lebih baik mensyukuri apa yang ada. Semua pasti tidak mau berada dalam kondisi seperti ini. Namun, saat ini mengeluh bukanlah jalan keluarnya,” katanya.

Ia sadari, kondisi kekeringan bukan ada di RT-nya saja. Namun, di sejumlah titik yang ada di Kabupaten Probolinggo. Dia pun berharap, pemkab bertahap mampu memberikan suplai atau membangun saluran air bersih. Sehingga warga tidak kesulitan air bersih.

“Jika boleh berharap, maka saya berharap air bersih mudah, listrik mudah (bisa masuk), akses jalan juga mudah (bagus),” harapnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#pemkab probolinggo #krisis air bersih #kekeringan probolinggo