========================================================
Iwan Andrik, Radar Bromo, Rembang
========================================================
Usianya masih muda. Baru 25 tahun saat 16 Januari 2022. Namun, tekad dan semangatnya begitu kuat untuk meraih kesuksesan. Tidak heran, Billy Ersa Syahputra sudah meraih sukses dalam bisnis kotak karton.
Saat ditemui di gudang produksinya, Billy sedang sibuk. Sesekali ia melihat kotak karton yang dikemas karyawannya. Sesekali pula ia memantau anak buahnya yang sedang bekerja. Untuk memastikan order kotak karton yang dibuat sesuai pesanan.
"Ini kotak boks untuk pizza. Ada juga untuk mangga dan kotak barang lainnya," kata Billy sembari menunjuk kotak-kotak karton yang dicetak.
Kerajinan pembuatan kotak karton itu didapatnya sejak 2014. Ketika itu, ia masih SMA. Ia sering membantu ayahnya mengantar kotak mangga pesanan orang.
Kotak-kotak karton mangga itu dipesan oleh warga Pasuruan dan beberapa daerah lainnya. Ayahnya, H. Subani, kala itu tidak membuat sendiri. Hanya menjadi supplier dari perusahaan yang ada di Malang.
"Mulanya memang ayah saya seorang supplier kotak karton. Tapi, khusus mangga. Bisnis itu dilakoninya usai resign dari pabrik lampu di PIER," kenang Billy.
Dari situlah, ia tertarik untuk mengembangkan bisnis ayahnya tersebut. Mulanya, dia hanya sopir pikap yang mengantar barang. Lambat laun, ia berminat membuat kotak karton untuk barang-barang yang lain.
Ide itu muncul setelah ia lulus kuliah pada 2018. Ia kemudian mencoba-coba untuk merancang pembuatan kotak karton sendiri. Karton dibelinya dari perusahaan yang ada di Pasuruan. Sementara, ia membeli alat potong dan cetak.
Mulanya, ide yang dimilikinya tersebut ditentang orang tuanya. Karena risikonya cukup besar. Apalagi, pesaingnya juga banyak. Tak mudah untuk memasarkannya. Tapi, jiwa bisnisnya membuat suami dari Rahmanda itu ngeyel. Ia tetap berusaha untuk mewujudkan idenya. Membuat kotak-kotak karton kreasinya.
"Ide itu muncul dalam benak saya, karena masa panen mangga hanya enam bulan. Artinya, kami bekerja membuat kotak itu hanya kisaran enam bulan. Lalu, bulan-bulan lainnya bagaimana? Dari situlah saya mulai berpikir untuk membuat kotak karton pembungkus barang yang lain," jelasnya.
Billy yang akhirnya dipasrahi untuk menjalankan bisnis ayahnya itu berusaha membuktikan kemampuannya. Ia membeli peralatan yang dibutuhkan. Baik alat potong dan alat cetak.
Selain itu, ia juga merekrut tiga rekannya untuk membantunya. Meski tak mudah, pelan-pelan ada buah dari hasil jerih payahnya. Peminat kotak karton buatannya ternyata banyak.
Keanekaragaman kotak karton yang dibuatnya itulah yang membuat permintaan melonjak. Dari yang semula hanya ribuan kotak, kini bisa mencapai puluhan ribu kotak diproduksinya dalam sebulan. Omzetnya pun mencapai ratusan juta.
"Dari situlah saya mengembangkan tempat produksi dan menambah karyawan. Saat ini, ada kurang lebih 31 orang pekerja," ujar lulusan Polinema Malang tersebut.
Menurut Billy, ia memasarkan produknya dengan menggandeng perusahaan e-commerce. Mulai Tokopedia hingga Shopee. Memanfaatkan ilmu yang diperolehnya dari bangku kuliah, ia pun mengembangkan penjualannya. Sampai nusantara.
"Ada dari Papua, Sulawesi, bahkan hampir seluruh Indonesia. Produk saya merambah ke mana-mana," timpal lulusan IT tersebut.
Meski terlihat sukses, bisnis yang dijalaninya itu tak semulus kelihatannya. Ia pernah merugi lantaran kliennya "lari" tak membayar tagihannya. Uang ratusan juta pun melayang.
Belum lagi, ketika pandemi pesanan anjlok. Membuat pendapatannya sepi. Dampaknya ia harus merugi. Bahkan, hampir tak mampu berproduksi.
"Kami sampai harus menjual aset agar tetap bisa bertahan. Tapi, Alhamdulillah, sekarang mulai membaik lagi," jelasnya.
Billy memaparkan, harga boks kartonnya bervariasi. Mulai dari Rp 1 ribu per pieces. Hingga Rp 20 ribu per pieces. Tergantung ketebalan dan besaran kotak karton yang dibuat. "Ada yang untuk pizza, kotak baju, dan kotak lainnya," ungkap dia. (hn) Editor : Ronald Fernando