Letak kolam Sumbersono jauh dari kota Bangil. Lebih dari 3 kilometer dari pusat pemerintahan di Bangil. Akses menuju lokasi juga kurang mumpuni. Karena sebagian masih berupa jalan setapak.
Nama Sumbersono sendiri konon berasal dari pohon sono atau angsana yang banyak tumbuh di sekitar kolam. Sehingga, jadilah nama Sumbersono.
Versi lain menyebutkan, ada seorang sakti yang menancapkan pohon sono. Sehingga, muncullah sumber air. Sumber itu akhirnya menjadi kolam. Dari situlah, nama Sumbersono digunakan.
Dua cerita itu, bukanlah versi terakhir. Ada pula yang menyebutkan, sono berasal dari kata sana atau menunjuk lokasi yang jauh. Artinya, letak sumber air yang jauh atau sumber di sana. Sehingga kemudian, muncul nama Sumbersono.
Muhammad, 51, juru jaga Sumbersono menceritakan, sumber air Sumbersono sudah ada sejak era penjajahan Belanda. Dulu, Sumbersono menjadi tempat bertapa Mbah Jambrong dan Mbah Tami. Mereka merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati.
Kala itu, Mbah Jambrong menamai sumber air setempat dengan sebutan Sumber Kencono. Kencono maknanya mahkota.
“Namun, dalam perkembangannya, masyarakat lebih banyak yang menyebutnya sebagai sumbersono. Kata itu muncul seiring dengan lokasinya yang jauh. Di sono atau di sana,” kisahnya.
Pada masa Mbah Jambrong, sumber air Sumbersono adalah sumber biasa. Hanya ada bebatuan yang digunakan untuk menampung air. Lalu sekitar tahun 1921, kolam tersebut dibangun.
Awalnya, ada pesawat Belanda yang jatuh tak jauh dari sumber di sana. Saat mencari pesawat itu, pihak Belanda lantas juga menemukan sumber air Sumbersono. Akhirnya, Sumberseno dibangun. Lalu airnya dimanfaatkan untuk mengaliri Pabrik Gula Kancil Mas di Kalirejo.
“Dari situlah, akhirnya kolam dibangun. Tandon-tandon air juga dibuat. Air dari Sumbersono kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga Belanda di sekitaran Bangil dan pabrik gula di Kalirejo, Kecamatan Bangil,” ulas lelaki asal Baujeng, Kecamatan Beji ini.
Setelah Belanda keluar dari Indonesia, sumber air itu diambil alih PDAM. Sejak saat itu juga, kolam sumbersono disalurkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Bangil.
Tingginya kebutuhan air pun membuat pembangunan-pembangunan dilakukan. Termasuk pemasangan pompa air agar penyaluran air ke rumah-rumah warga lancar.
Jadi Kolam Favorit Wisatawan
Tak hanya menjadi sumber air minum bagi warga Kecamatan Bangil. Kolam Sumbersono kerap menjadi jujukan wisatawan, khususnya di era 1990-an. Ketika sumber belum dikelola oleh PDAM Kabupaten Pasuruan.
Muhammad, 51, juru jaga Sumbersono menguraikan, kondisi kolam Sumbersono memang asri. Lokasinya pun jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Sehingga, banyak masyarakat berdatangan untuk sekedar sejenak menghilangkan penat. Mandi, bermain-main air hingga bersantai di kawasan kolam Sumbersono.
Bahkan di tahun 1980 sampai 1990-an saat kawasan kolam masih alami, banyak wisatawan yang berdatangan untuk mandi. Tidak hanya wisatawan local, tapi juga mancanegara. “Ada dari Jerman, Taiwan, Jepang dan beberapa negara lainnya,” kenangnya.
Kolam Sumbersono pun tak pernah sepi kunjungan tiap hari. Meski moda transportasi waktu itu masih minim. Rata-rata pengunjung datang dengan berjalan kaki.
Namun, mereka yang datang cukup banyak. Setiap hari bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan. “Pokoknya tidak sepi dari pengunjung,” ujarnya.
Beberapa faktor menjadi penyebab kolam Sumbersono banyak dikunjungi waktu itu. Tak hanya airnya yang segar dan suasananya yang asri. Tetapi juga karena saat itu masih minim kolam pemandian.
Tidak seperti sekarang, kolam pemandian ada di mana-mana. Sejak itupula, kepopuleran kolam Sumbersono mulai memudar. Kalah dengan kolam buatan.
“Kalau sekarang, tidak banyak kunjungan. Karena memang banyak pemandian modern. Dan memang PDAM tidak menjadikan kolam Sumbersono sebagai objek wisata. Karena bukan ranahnya,” jelasnya.
Meski sepi, kolam Sumbersono masih kerap menjadi jujukan. Baik pelajar ataupun orang yang ‘mencari’ ilmu.
“Kadang kalau suroan, banyak yang datang. Kawasan ini juga sering digunakan untuk kamping pelajar ataupun umum,” tuturnya.
Perlu Mendapat Sentuhan
Meski bukan tempat wisata, banyak masyarakat yang “ngeyel” memilih berwisata di kolam Sumbersono. Mereka mandi hingga mencari ikan kecil-kecil di kolam peninggalan Belanda tersebut.
Bahkan, ada pula yang memanfaatkannya untuk mencuci pakaian. Muhammad Rosid, 40, salah satu pengunjung kolam Sumbersono mengatakan, dulu kawasan setempat merupakan wisata murah. Karena tanpa harus membayar, bisa main sepuasnya.
Ia masih ingat ketika masih kecil sering mendatangi kolam Sumbersono untuk bermain air. “Kalau dibandingkan dulu, memang sekarang cenderung sepi. Tidak seramai dulu,” ungkapnya.
Dulu menurutnya, kolam Sumbersono selalu diserbu pengunjung saat masa-masa liburan. Seperti libur Lebaran. Bahkan sejak H-7 lebaran, kolam Sumbersono sudah dipadari pengunjung. Bisa sampai 200 orang yang dating dalam sehari. Ada yang sekedar mandi, mencuci pakaian, hingga mencuci karpet masjid.
Namun, sekarang tidak lagi. Kolam Sumbersono relatif sepi. Paling hanya sekitar 10 orang yang datang setiap harinya.
Meski demikian menurut Rosid, kolam Sumbersono memiliki potensi yang luar biasa. Seandinya bisa dikembangkan untuk wisata, tinggal memberikan beberapa sentuhan. Maka, akan muncul daya tariknya.
Namun, memang banyak hal yang harus diperbaiki. Khususnya infrastrukturnya. Bukan hanya jalan yang perlu dibangun agar lebih nyaman. Bangunan kolam juga harus diperbaiki, karena sudah banyak yang rusak.
“Tembok-tembok sumber perlu diperbaiki agar airnya tidak tumpah ke mana-mana. Selain itu, perlu dipasang lampu penerangan jalan untuk akses ke Sumbersono ketika malam hari. Kami berharap hal itu bisa dipertimbangkan,” terangnya. (iwan andrik/hn) Editor : Jawanto Arifin