=====================================================
RIZKY PUTRA DINASTI, Sukapura, Radar Bromo
=====================================================
DINGINNYA udara pagi kawasan gunung bromo sudah menjadi hal biasa bagi Tander. Bahkan setiap pagi, seluruh tubuh Tander dibasuh dengan air dingin. Kulit mengilap terawat dengan bulu coklat seperti sawo matang, menjadi daya tarik tersendiri.
Basuhan air dingin itu seolah memberikan kesegaran luar biasa di pagi hari. Dan menginjak pukul enam tepat, Tander sudah harus siap di lautan pasir.
Itulah kuda lokal milik Jono, 33, warga Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Kuda berumur 8 tahun itu sudah lima tahun bersama Jono. Bahkan, Jono menganggap Tander seperti pacar saja.
Bagi pria satu anak itu, Tander tak sebatas kuda peliharaan yang menemaninya mencari rejeki di lautan pasir gunung Bromo. Lebih dari itu, Tander sudah menjadi bagian hidupnya. Sebab tanpa Tander, Jono yang berpofesi sebagai penyedia jasa ojek kuda itu tentu tak bisa menjalankan aktivitasnya.
“Saya menjadi ojek kuda sudah tujuh tahun. Mulanya, saya pakai kuda milik orang lain (juraganya). Berjalan dua tahun, saya beli Tander. Hingga 2021 saya sudah lima tahun bersama Tander,” kata Jono, Senin (22/8) siang.
Pertemuannya dengan Tander pun terjadi tidak sengaja. Pada 2015, dia iseng bertanya tentang kuda kepada sejumlah rekannya sesama penyedia jasa ojek kuda. Dari sana, ia dikenalkan dengan Tander.
Jono pun langsung terpikat. Sehingga ia pun memutuskan untuk meminangnya. “Waktu itu saya beli seharga Rp 18 juta pada teman saya. Warga Ngadisari juga,” terangnya.
Awal mula merawatnya, Jono harus memberikan perlakuan khusus. Pakan harus disuapkan, juga harus sering dielus.
“Ketika berpindah orang, kuda memang butuh waktu untuk penyesuaian. Baik dengan kondisi kandang baru, juga majikan barunya. Jadi, memang harus sering didatangi agar kuda tersebut kenal dengan kita. Jadi ketika kita pegang tidak gampang marah,” kata Jono.
Maka setiap pagi, Jono mendatangi kandang Tander yang tak jauh dari rumahnya. Mulai membersihkan kukunya, memandikanya, menggosok punggung dan memberikan pakan. Kurang dari setahun, Tander pun mulai luluh kepada Jono.
“Karena setiap hari digunakan untuk ojek kuda, maka sepekan sekali saya berikan jamu. Jamunya jamu tradisional. Seperti kunir, kunyit dan telur bebek,” tambahnya.
Sekali waktu, Jono bermain-main dengan Tander. Mengajaknya lari untuk menjaga stamina fisiknya. “Jadi kadang juga ditunggangi dan diajak lari untuk menjaga stamina fisiknya. Stamina fisik terjaga kan dari faktor latihan dan kebiasaan juga,” tuturnya.
Misalnya saja, para pemilik kuda yang fisiknya rata-rata masih kuat. Sebab, bolak-balik naik turun tangga bromo saat ada wisatawan yang menggunakan jasanya. Bahkan ada yang sudah usianya 48 tahun, masih kuat berlari memegang kudanya untuk mengarahkan kuda yang dinaiki wisatawan.
Sayangnya, pandemi Covid-19 membuat tidak bisa lagi menjalankan usahanya. Sementara keluarganya tetap butuh masukan. Akhirnya pada 2021, Jono pun menjual Tander.
Meski berat hati, dia harus merelakannya. Mengingat, saat itu bromo ditutup. Bahkan hampir setahun lebih ketika pandemi melanda, wisata bromo sepi pengunjung.
“Meski berat, saya harus jual tander. Sebab saat itu bromo ditutup karena pandemi. Sementara tander tetap harus diberi makan agar tetap hidup. Di situlah keputusan pahit harus diambil,” ucap jono.
Sebelum melepas Tander, Jono pun memastikan dahulu calon pemiliknya. Calon pemilik haruslah orang yang terbiasa merawat kuda. Karena itu, saat ada orang yang menawarnya dengan harga tinggi Jono terpaksa menolak. Sebab, orang tersebut tidak biasa merawat kuda.
“Sebab kasihan. Takutnya malah mati karena pemilik tidak bisa merawat,” tuturnya.
Tander akhirnya dipinang oleh rekannya yang juga penyedia jasa ojek kuda. Pembelinya itu menurutnya sudah terbiasa merawat kuda. Karena dijual ke teman sendiri, saat kangen Jono masih bisa bertemu Tander.
“Laku Rp 14 juta. Lebih murah dari harga beli. Karena memang kuda itu semakin tua akan semakin turun harga jualnya,” katanya.
Jono pun berencana akan membeli lagi kuda untuk modalnya menjadi penyedia jasa ojek kuda. Meskipun belum tahu kapan. “Rencananya akan beli lagi. Tapi belum tahu kapan,” tuturnya.
Ali Imron, 34, memiliki kisah serupa. Penyedia jasa ojek kuda di Bromo itupun selalu merawat kudanya dengan sepenuh hati. Tidak melulu hanya diberi makan dan jamu seperti sapi. Namun, juga dirawat secara khusus untuk menjaga otot-ototnya tetap kuat.
“Jika perawatanya tidak bagus, usia 15 tahun saja sudah tidak kuat dibuat kerja terlalu lama. Dan lagi, harganya pun semakin turun ketika sudah tua. Jadi memang gampang-gampang susah merawat kuda,” terangnya.
Agar fisik kuda terjadi, sebelum bekerja kuda harus peregangan dan pemanasan. Seperti, memijat kaki-kakinya. Selanjutnya diajak lari kecil menuju kawasan pasir Gunung Bromo.
“Agar masa kerja kuda lebih panjang, jangan sering diajak lari lari tidak jelas tujuanya,” tandas warga Jetak, Kecamatan Sukapura itu. (hn) Editor : Ronald Fernando