FAHRIZAL FIRMANI, Mayangan, Radar Bromo
BERPROFESI sebagai tukang bor sumur membuat Erwin Andi, 29, sering menemukan paralon tidak terpakai. Entah mengapa, paralon-paralon itu lantas dibawanya pulang. Lalu disimpannya.
Lambat laun, paralon pun makin banyak di rumahnya. Pada 2019, dia lantas berpikir untuk memanfaatkan paralon-paralon itu. Awalnya, paralon itu dijadikannya lampu duduk dan lampu gantung. Ia mempelajari cara pembuatannya dari sebuah Instagram.
Ternyata Erwin berhasil. Keberhasilan inilah yang kemudian menuntunnya untuk menekuni profesi baru. Yaitu, menjadi perajin paralon bekas. Paralon-paralon itu dibentuknya jadi lampu hias dengan beragam ukiran yang cantik. Apalagi, pesanan akhirnya datang. Bahkan, tiap hari ada saja yang memesan untuk dibuatkan lampu hias.
Tidak sendirian, Erwin dibantu Yozak Pamungkas selama proses pembuatan. Lelaki 29 tahun asal Desa Tanjungrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.
Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke rumahnya, Erwin dan Yozak pun sedang menyelesaikan sebuah pesanan. Keduanya sibuk dengan paralon di hadapannya.
Erwin sedang mengukir desain kaligrafi ayat kursi secara berkeliling. Sementara Yozak tengah memasukkan kabel ke dalam paralon ukiran separo jadi itu. Dengan telaten, paralon itu diubah jadi lampu hias.
“Sehari-harinya kami membuat lampu hias berdua saja. Teras rumah saya jadikan sebagai lokasi produksi. Alhamdulillah, order yang masuk selalu ada saja setiap harinya,” ungkap Erwin Andi memulai obrolan.
Cara pembuatannya bisa dibilang gampang-gampang mudah. Ia harus membuat gambar desainnya terlebih dahulu menggunakan pensil. Selanjutnya, gambar ini dicetak dan ditempelkan pada paralon. Lalu, ia tinggal mengukir paralon mengikuti gambar tersebut dengan menggunakan mini grinder.
Usai ukiran rampung, maka paralon itu diamplas untuk menghilangkan bagian kotornya. Selesai diamplas, paralon ini bisa di cuci untuk selanjutnya dicat menggunakan cat lukis mengikuti ukiran yang telah digambar.
“Ukirannya bermacam-macam. Pembeli bisa memesan sesuai keinginan mereka. Ada tema kartun seperti Doraemon, hingga kaligrafi berupa Ayat Kursi dan surat dalam Alquran,” katanya.
Lama pengerjaan lampu hias ini bervariasi, bergantung pada gambar yang dipesan. Gambar kartun bisa diselesaikan dalam satu jam. Namun, untuk kaligrafi bisa menghabiskan waktu lebih dari satu hari karena harus menggunakan mata bor yang lebih kecil.
Dirinya pun sempat sepi pemesan saat pandemi Covid-19. Sebab, banyak karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Kemudian banyak dari mereka yang beralih menjadi perajin lampu hias karena tergiur dengan omzet yang tinggi.
Bahkan, mereka berani menjual dengan harga lebih murah untuk ukiran yang membutuhkan ketelitian tinggi seperti kaligrafi. Saat dirinya membanderol Rp 400 ribu untuk jenis lampu hias ini, mereka berani mengambil Rp 200 ribu.
“Kalau dari segi kekuatan mungkin sama, karena bahan paralon yang digunakan itu sama. Cuma kami berani beradu dari segi kerapian dan keindahan. Detail ukiran sangat diperhatikan. Kalau yang murah biasanya asal jadi,” terang Erwin.
Pria kelahiran Juli 1993 ini menyebut, dirinya sering menerima pesanan yang harus cepat. Ia pernah mendapatkan pesanan yang meminta rampung dalam beberapa hari, padahal ukirannya cukup rumit. Ia pun terpaksa tidak tidur selama tiga hari demi menyelesaikan sesuai waktu yang diminta.
“Tapi, saya juga pernah menolak pesanan karena permintaannya tidak masuk akal. Ia memesan pada pukul 20.00, tapi meminta agar bisa dikirim hari itu. Kalau jadinya ya bisa, cuma kan pengiriman di atas jam 21.00 itu tidak ada,” sebutnya.
Selama ini, ia pernah mendapat pesanan paling tinggi senilai Rp 10 juta dari Kabupaten Serang, Jawa Barat. Saat itu, pembeli meminta agar dibuatkan lampu duduk dengan ukiran kaligrafi Surat Yasin penuh. Pengerjaannya cukup lama sampai tiga pekan.
“Kalau paling murah itu lampu hias dengan tema kartun, Rp 50 ribu. Kalau lainnya menyesuaikan kesulitan,” kata bapak satu anak ini.
Dalam sehari mereka bisa menggarap ukiran lafaz Allah sebanyak 16 biji. Untuk kaligrafi Ayat Kursi dalam dua pekan dapat 10 buah. (hn) Editor : Jawanto Arifin