Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sumber Mata Air Jalil yang Pernah Jadi Sumber Air Bersih Warga Gili Ketapang

Jawanto Arifin • Sabtu, 20 Agustus 2022 | 19:30 WIB
DIMANFAATKAN WARGA: Sumber mata air Jalil yang sampai saat ini dipakai warga setempat untuk aktivitas sehari-hari. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
DIMANFAATKAN WARGA: Sumber mata air Jalil yang sampai saat ini dipakai warga setempat untuk aktivitas sehari-hari. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
KOTA Probolinggo dikenal memiliki sejumlah sumber mata air yang usianya sudah tua. Salah satunya sumber mata air Jalil di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Mata air ini diperkirakan berusia ratusan tahun. Bahkan, sudah ada sejak Ketapang masih berupa pantai.

Sumber mata air Jalil diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Mata air ini, menurut Lurah Ketapang Faruk, dimanfaatkan sebagai sumber air minum oleh warga Pulau Gili Ketapang.

Saat ini, lokasi mata air Jalil ada di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Sekitar 100 meter dari Jalan Soekarno–Hatta. Namun, dulu mata air ini dekat dengan pantai. Tempat warga Gili Ketapang biasa menyandarkan perahu.

Photo
Photo
TERAWAT: Kondisi sumber mata air Jalil yang makin terawat setelah terbengkalai. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Jangan berpikir bahwa lokasi mata air ini pindah, tidak. Berdasarkan sejumlah sumber, dulu Ketapang memang berupa pantai dengan laut yang membentang luas. Serupa Mayangan saat ini.

Lambat laun, garis pantai bergeser karena pantai dijadikan permukiman. Bahkan, saat ini jadi permukiman padat penduduk. Laut tidak lagi terlihat dari mata air Jalil, kecuali kalau berada di Mayangan.



“Pulau Gili Ketapang dulunya masih berada di perairan pesisir, masuk Kelurahan Ketapang. Karena itu, masyarakat Gili mencari air bersih di mata air Jalil itu,” terang pria 57 tahun ini.

Warga Gili, menurutnya, bahkan biasa menyandarkan perahu mereka di daerah pesisir Ketapang. Namun, seiring berjalannya waktu, Pulau Gili Ketapang terus bergeser hingga sekarang.

Muchlis, 62, juru kunci sumber mata air Jalil merupakan generasi kelima yang dipercaya menjaga mata air ini. Menurutnya, dulu mata air ini tidak ada namanya. Mata air ini baru diberi nama setelah dirawat oleh Jalil, kakek buyutnya.

Muchlis sendiri menjadi juru kunci atau yang merawat mata air Jalil sejak tahun 2005. Menurutnya, mengapa sumber tersebut diberi nama Sumber Jalil. Sebab, yang merawat sumber mata air itu adalah Jalil.

“Dulu mata air ini dijaga oleh Mbak Kerso atau Mbah Larpak. Setelah Mbah Kerso meninggal, mata air ini terbengkalai lama. Kemudian dirawatlah oleh Mbah Jalil. Nah, dari sanalah asal usul nama mata air ini,” terangnya.

Sebelum dirawat oleh juru kunci seperti sekarang, mata air ini dikenal angker. Seperti yang diterangkan Faisol, 48, warga sekitar. Karena keangkerannya, mata air ini sering dijadikan tempat tirakat atau tempat meletakkan sesaji.

Bahkan, pada malam Jumat manis, sejumlah warga mengaku melihat seekor ular besar keluar dari sumber tanpa ekor. Termasuk ikan yang tidak memiliki ekor, namun bisa berenang.



“Dulu juga ada warga yang meninggal karena mengambil ikan di sumber mata air Jalil. Termasuk ada yang kesurupan. Karena itu, warga takut datang ke mata air itu,” tuturnya.

Meski demikian, mata air itu dikenal bisa dijadikan obat. Warga sering mengambil mata air di sana untuk mengobati orang yang kena guna-guna atau sejenisnya.

Photo
Photo
BERSIH: Air sumber mata air Jalil tetap bersih. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Masih Dipakai untuk Minum

Seiring berjalannya waktu, sumber mata air Jalil mulai dikenal masyarakat luas. Bahkan, dibuka untuk umum. Kondisinya pun makin terawat. Bersih, juga diberi taman agar lebih indah.

Di sini, warga sekitar biasa mandi dan mencuci baju. Bahkan, ada juga yang memanfaatkannya untuk air minun.

Seperti yang disampaikan Endang Musrifah, 42, warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Setiap hari dia dan warga sekitar biasa mencuci baju di sumber mata air Jalil.



Namun, setiap Jumat, terutama Jumat Manis, jarang ada warga yang berani mendatangi mata air itu. Sebab, hingga kini mata air itu masih angker.

“Hampir tiap hari saya mencuci di sini. Tapi kalau cucian sedang sedikit, bisa seminggu cuma dua kali atau sekali. Tergantung banyaknya cucian di rumah,” terangnya.

Tidak hanya mencuci. Masih banyak warga yang memanfaatkan mata air itu untuk minum. “Kadang juga ada yang mandi dan ada yang ambil airnya untuk diminum,” katanya.

Bahkan, petani yang hendak ke sawah biasa mengambil air di mata air Jalil untuk bekal minum. Termasuk tukang becak yang kebetulan lewat tempat itu.

Lisa Utami, 44, warga Kelurahan Ketapang juga biasa mencuci baju di mata air itu. Sebab, ia bisa bertemu dengan warga lain yang juga tengah mencuci pakaian.

“Biasanya mulai pukul 06.30 sampai pukul 08.00. Banyak yang mencuci. Jadi sambil ngobrol,” terangnya.

Tak jarang dia mengajak anaknya mandi di lokasi tersebut. Meskipun sebenarnya kebanyakan orang yang sudah tua atau berumur yang mandi di sana.



“Kadang anak saya mandi dan berenang di sini. Sementara saya nyuci. Tapi, kebanyakan yang mandi yang sudah tua. Yang muda-muda ya dak mau. Tempatnya terbuka. Malu kan dilihat orang,” ucapnya tersenyum. (rpd/hn) Editor : Jawanto Arifin
#sumber mata air jalil #sumber air