Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Seniman Purwodadi, Lukisan Muralnya Terpajang di UEA

Ronald Fernando • Kamis, 7 Juli 2022 | 20:15 WIB
HINGGA MANCANEGARA: Yoes Wibowo dengan beberapa karyanya. Tidak hanya di dalam  negeri, karyanya dikenal hingga ke mancanegara. (RIZAL F. SYATORI/RADAR BROMO)
HINGGA MANCANEGARA: Yoes Wibowo dengan beberapa karyanya. Tidak hanya di dalam negeri, karyanya dikenal hingga ke mancanegara. (RIZAL F. SYATORI/RADAR BROMO)
Melukis adalah hobinya sejak kecil. Namun, Yoes Wibowo mulai menggelutinya secara profesional sejak 2010. Kini, karyanya sudah dikenal di sejumlah negara. Lukisan muralnya bahkan terpajang di dua kafe di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

 

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwodadi, Radar Bromo

 

MENJADI pelukis profesional seperti sekarang tak pernah terlintas di benak Yoes Wibowo, 48. Namun, warna Dusun Semambung, Desa Capang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, itu memang hobi melukis sejak kecil.

Sejak SD, Yoes mulai melukis. Hobi itu terus ditekuninya saat SMP hingga SMA. Dia pun aktif ikut lomba melukis. Bahkan, seringkali juga meraih juara.

“Saat masih pelajar memang aktif melukis. Dasarnya memang suka. Tapi, saya baru memutuskan menjadi pelukis profesional sejak tahun 2010,” ujar suami dari Endang Winarti ini.

Darah seniman memang dimiliki Yoes dari keluarganya. Tak heran, dia pun tak bisa jauh-jauh dari seni. Sang ayah, Almarhum Sai’in adalah seorang seniman ludruk. Karena itu, Yoes tak ragu mengikuti jejak ayahnya menekuni dunia seni. Walaupun, bidang yang mereka pilih berbeda.

Setelah lulus sekolah, bakat dan kemampuannya melukis terus dikembangkannya. Bahkan, sampai berhasil mengantar Yoes bekerja sebagai karyawan pabrik mebeler di Surabaya. Bidangnya pun tak jauh-jauh dari melukis. Yaitu, sebagai desainer dan sketsa produk-produk mebeler.



Namun, rupanya bekerja di pabrik akhirnya membuatnya jenuh. Keinginan Yoes melukis kembali memuncak saat itu. Akhirnya, dia pun memutuskan resign dari pabrik.

“Jenuh kerja di pabrik. Akhirnya saya putuskan berhenti dan fokus menjadi pelukis profesional. Keluarga sangat mendukung,” bebernya.

Selama melukis, Yoes tidak mengkhususkan pada aliran tertentu. Diapun bisa melukis di mana saja dan kapan saja. Mulai melukis sketsa, mural, juga melukis on the spot.

Karena caranya melukis itu, Yoes biasa datang ke lokasi yang diinginkan di berbagai daerah untuk sekadar melukis. Hitung-hitung traveling sambil berkarya.

“Saya mengawalinya dari mural, mulai dari tiga dimensi (3D) dan dudel. Juga sketsa dan hot spot, menjadi spesialis saya selama ini,” tuturnya.

Untuk media, Yoes dominan menggunakan cat air. Sebab, lebih ramah lingkungan dan praktis karena mudah dibawa ke mana-mana. Cat air juga terhitung awet. Selain itu, mencampur bahan ini mudah serta praktis. Karena hanya menggunakan air.

Selama melukis, Yoes biasa melukis di kertas. Namun, juga sering melukis di kanvas, dinding, atau tembok untuk mural.



“Di rumah tiap hari melukis, karena sudah menjadi pekerjaan utama. Tidak boleh tergantung mood. Kalau pas tidak mood, saya ciptakan mood sendiri. misalnya pindah tempat sambil mendengarkan musik,” ucapnya tersenyum.

Selama 12 tahun terakhir menjadi pelukis profesional, sudah ratusan karya lukis yang dibuatnya. Bahkan, untuk melukis on the spot, ia rela melakukan banyak perjalanan jauh.

Mulai Banyuwangi, Jogjakarta, dan Bandung di daerah Jawa. Juga pernah ke Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi Utara, Bitung, dan lain-lain.

“Ke manapun pergi, saya selalu bawa media untuk on the spot. Hanya Ambon ke Timur yang belum,” ungkapnya.

Bahkan, Yoes pernah dapat job melukis mural ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pada Januari–Februari 2021 lalu. Dua kafe dan satu roasting menggunakan jasa mural karyanya.   Selain ke UEA, Yoes juga pernah melukis mural ke Penang, Malaka, Singapore dan sejumlah tempat lain.

“Di timur tengah juga saya sempatkan on the spot. Salah satunya Masjid Al Sayed di Abu Dhabi yang selama ini tersohor,” cetusnya.

Karya lukisannya kebanyakan memang dijual. Namun, beberapa dia gunakan untuk dikoleksi sendiri. Karya lukis yang dijual diharganya antara Rp 5 juta–Rp 15 juta. Yang paling mahal hingga Rp 35 juta. Tergantung ukuran.



Yoes juga aktif mengikuti pameran lukis. Baik di sekitaran Pasuruan, hingga keluar daerah. Seperti Jogjakarta, Bali, Jakarta, Surabaya. Lalu, Batu, Malang, Semarang, Bandung, dan lain-lain.

“Lukisan saya beberapa kali pernah ikut pameran dan dipajang di galeri nasional di Jakarta. Pada tahun 2018, lukisan saya meraih yang terbaik kedua nasional. Itu  lukisan cat air dengan tema bom Surabaya. Berikutnya diikutkan pameran di Inchoen, Korsel,” jelasnya.

Sukses menjadi pelukis profesional hingga sekarang memang tidak diraih dengan mudah. Kuncinya harus konsisten, telaten, dan teliti.

Yoes bahkan seringkali melakukan inovasi melukis dengan menggunakan pewarnaan alami. Semuanya diambil dari bahan alam. Mulai kopi, murbei, kunyit, secang, telang, rosella, dan masih banyak lainnya. Semuanya demi tetap bisa mengembangkan karya lukisnya.

“Tidak melukis sehari saja saya gelisah. Sepertinya ada yang kurang. Karena itu, saya akan terus melukis. Tidak ada kata pensiun,” ujarnya. (hn) Editor : Ronald Fernando
#seniman pasuruan