ARIF MASHUDI, Sukapura, Radar Bromo
PEMILIK sapi yang dibeli Presiden RI Jokowi itu adalah Mulyono. Rumah pria kelahiran Probolinggo, 9 Juni 1968 itu, terletak di dekat tepi Jalan raya Bromo tepatnya di Dusun Krajan I RT 3 RW I, Desa Ngadas.
Saat dikunjungi Minggu lalu (3/7), Mulyono tengah santai di rumah sederhananya. Mengetahui kedatangan Jawa Pos Radar Bromo untuk meliput sapi yang dibeli untuk hewan kurban Presiden RI Jokowi. Mulyono nampak antusias.
Dia langsung mengajak ke lokasi kandang sapi tersebut. Kandang sapinya itu tidak berdekatan dengan rumahnya, seperti halnya peternak pada umumnya. Rupanya, kandang ternak sapinya itu berada di Dusun Krajan II. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumahnya.
Di dalam kandang itu, langsung terlihat sapi jenis simental berbulu putih pada kepala dan hitam tubuhnya. Sapi itu terlihat sangat besar. Bobotnya saat ini mencapai 1,13 ton.
Kandang itu tampak bersih. Baik itu lantai maupun tempat pakan sapi itu, dijaga betul kebersihannya. Supaya, sapi itu nyaman, sehat dan suka makan. Sehingga, pertumbuhan sapi itu bagus.
”Saya jaga kebersihan kandangnya. Meski sapi ini tidak dimandikan tiap hari, tapi saya tetap jaga kandang, pakan dan kebersihan sapinya,” kata Mulyono.
Mulyono yang bekerja sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) Ngadas menceritakan, dirinya memelihara sapi sebenarnya baru pertama kali. Tepatnya 19 September 2020 lalu. Saat awal muncul wabah Covid-19, dirinya memilih untuk ternak pelihara sapi.
Singkatnya, Mulyono membeli sapi itu dengan harga Rp 15,6 juta. ”Waktu beli itu, sapi itu umur 6 bulan dengan berat sekitar 2 kuintal. Sekitar 20 bulan saya pelihara, sekarang bobot sapi ini sekitar 1,13 ton dengan panjang 2 meter dan tinggi 145 centimeter. Laku terjual Rp 100 juta lebih,” ungkapnya.
Mulyono mengaku, tidak pernah menyangka sapinya yang diberi nama Slamet itu bisa terjual untuk hewan kurban Presiden RI. Namun dia sangat senang karena hewan ternaknya dibeli dan akan digunakan untuk kurban, orang nomor satu di Indonesia tersebut.
Sebagai perangkat desa, Mulyono tiak memilki basic peternak. Tetapi orang tua dari kakeknya, dahulu memang petani dan juga peternak.
Mulyono masih ingat saat awal-awal dia memelihara sapi. Dirinya sering bertanya dan konsultasi pada sesama teman peternak. Ternyata, ternak sapi di wilayah pegunungan, membawa efek positif. Diperkirakan karena suhu dingin, sapi itu menjadi doyan makan.
”Saya paling menjaga pakan sapi itu. Rutin kasih pakan. Untuk pagi antar pukul 07.00 sampai 09.00. Kalau sore antar pukul 3 sore sampai 5 sore,” ujarnya.
Selain itu, dikatakan Mulyono, menu pakan yang diberikan tidak melulu rumput satu jenis. Jenis rumput yang dijadikan pakan sering bergantian. Sehingga, selera makan sapi itu tidak bosan dan tetap doyan makan. Termasuk memberikan pakan tumbuhan tertentu, untuk menjaga kondisi kesehatan dan kekuatan tulang sapi tersebut. Semua itu, dirinya lakukan sendiri.
”Menu pakan sapi itu sering saya ubah. Pekan ini misalnya rumput lapangan, di pekan berikutnya menggunakan pakan jagung. Terus berubah. Di samping itu ada makanan tambahan konsentrat,” terangnya.
Dari sisi kebersihan, diakui Mulyono, sapi peliharaannya tidak dimandikan tiap hari. Karena di desanya sulit mendapatkan air. Jadi, biasanya dimandikan seminggu sekali. Tetapi, dirinya tetap menjaga kebersihan kandang dan sapinya dengan cara dibersihkan tiap hari pagi dan sore. Bahkan saat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) muncul, dirinya selalu menyemprotkan disinfektan di kandangnya. Terutama untuk mencegah bakteri sisa kotoran sapi tersebut.
”Di sini sulit untuk air bersih. Tapi, untuk minum sapi ini, selalu gunakan air bersih, saya bawakan dari rumah. Biaya pelihara sapinya itu, selama 20 bulan itu, sekitar habis Rp 16 juta lebih,” ungkapnya.
Bagaimana cerita sapinya bisa dibeli untuk hewan kurban Presiden Jokowi? Mulyono masih ingat. Pada 12 Maret 2022 lalu, sapi peliharaannya itu diikutkan kontes di Jember. Saat itu, sapinya ikut kontes kelas non-poel. Sapinya masih muda. Usianya bahkan belum dua tahun.
”Ternyata, dengan bobot 904 kilogram dan panjang 180 sentimeter, sapi saya terpilih sebagai juara I,” tuturnya.
Hingga kemudian sekitar beberapa minggu lalu, ada sosialisasi PMK di Kecamatan Wonomerto. Nah, salah dokter hewan di Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Probolinggo, ada yang menanyakan, sapinya akan dijual atau tidak. Dirinya langsung jawab, ”Monggo gak papa dibeli asal harganya sesuai,” kata Mulyono menirukan saat itu.
Ternyata, dokter hewan itu menyampaikan ke Pemprov Jatim. Dari situ, sapi milik Mulyono disurvei dan diperiksa kondisi sapinya. Mulai dari bobot ditimbang, diukur dan dites kesehatannya. Termasuk tes bebas virus PMK.
Setelah semuanya dinyatakan sehat dan masuk kriteria, tidak lama ada staf kepresidenan datang mengecek keberadaan sapinya. ”Saya tidak pernah menyangka, sapinya yang dipelihara 20 bulan laku dibeli untuk hewan kurban Pak Presiden Jokowi,” ungkapnya. (fun) Editor : Jawanto Arifin