Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Belasan Tahun David Jadi Pelatih Anjing yang Sudah Terbiasa Jika Digigit

Ronald Fernando • Senin, 4 Juli 2022 | 16:01 WIB
PAHAM KARAKTER: David menyapa anjing rottweiler di kandang yang ada di Tretes, Prigen. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
PAHAM KARAKTER: David menyapa anjing rottweiler di kandang yang ada di Tretes, Prigen. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
Bagi sebagian orang, anjing adalah hewan yang membahayakan. Tapi di tangan David, 28, anjing-anjing dari berbagai jenis, bisa menjadi penurut. Pria asal Tretes, Prigen ini sudah biasa melatih anjing-anjing galak.

RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo

SUARA gonggongan anjing bersahutan saat Jawa Pos Radar Bromo berdiri di sebuah rumah berpagar, di jalan Bromo, Tretes, Kelurahan/Kecamatan Prigen. Suara gonggongan makin terdengar keras saat koran ini masuk ke dalam rumah tersebut.

Rumah itu adalah tempat perawatan dan pelatihan anjing. Di dalam rumah, terlihat banyak kandang. Di dalamnya terdapat banyak anjing dengan beragam jenis. Mulai dari rottweiler, boxer, doberman, herder, buldog hingga biggel.

Jika mendengar gonggongannya, anjing-anjing itu begitu kuat. Tapi semua anjing itu akan luluh, saat David lewat. Seakan patuh, anjing-anjing itu bahkan patuh jika diperintah David.

Ya, David adalah salah satu perawat dan pelatihnya anjing-anjing tersebut. Bujangan asli Kencong, Kabupaten Jember itu, sudah empat tahun terakhir ini tinggal di Tretes, Prigen.

“Saya di sini selain merawat anjing, juga sekaligus melatihnya. Masing-masing anjing ini adalah pemiliknya, dari luar daerah,” kata David sembari tersenyum.



Photo
Photo
SUDAH JINAK: David bersama anjing rootweller  yang biasa dilatih dan dirawatnya. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo

Menjadi perawat dan pelatih anjing, bagi pria tamatan SD ini, tidak terbesit sama sekali di pikirannya. Bukan cita-citanya pula.

Semuanya bermula saat dia masih berusia 14 tahun. Saat itu temannya satu kampung halaman di Jember, diajak kerja merawat anjing di Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Dari Trawas, kemudian ia pindah kerja menjadi perawat dan pelatih anjing di Tretes, Prigen sejak 2008 lalu hingga sekarang.

“Awalnya saya jadi perawat anjing dulu. Setelah itu beberapa tahun kemudian juga sekaligus melatih. Ini semua saya lakukan secara otodidak. Saya bisa karena tiap harinya sama anjing,” ujar anak pasutri Tirai dan alm Sri Wahyuni.

Jenis anjing yang dirawat dan dilatihnya selama ini bukanlah anjing sembarangan. Selain dikenal galak, juga harganya pun mahal. Dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.



Tiap harinya, David memantau anjing-anjing tersebut. Dia disediakan kamar tersendiri, supaya bisa leluasa dan paham akan anjing-anjing di dalam kandang.

“Anjing-anjing ini kami rawat rutin tiap hari. Juga dilatih biar jinak atau patuh. Ada pula yang dilatih untuk kontes. Beberapa diantaranya memang untuk dipelihara di rumah oleh pemilihnya, sebagai hewan peliharaan,” katanya.

Untuk perawatan rutin terhadap anjing, umumnya adalah memberi makanan, utamanya pagi dan sore. Selain itu, David memandikan dengan air, sehari sekali. David pula yang membersihkan kandang.

Hanya dua kali dalam pekan, anjing-anjing tersebut dimandikan dengan sampo. “Kalau yang sedang hamil, diberi tambahan minuman susu dan daging,” ujarnya.

Awal bergelut kerja sebagai perawat dan pelatih anjing, ia sempat kaget dan takut. Apalagi anjing yang beringas dan aktif. Tapi lama-lama dia terbiasa hingga keberaninnya tumbuh.

Selama belasan tahun merawat anjing, David menyebut, ada ciri khusus jika anjing mengonggong semakin kencang. Ini biasanya terjadi jika anjing mengetahui  jika ada orang asing dating. Tapi kalau sudah kenal, layaknya pelatih seperti dirinya atau pemiliknya, anjing-anjing tersebut akan biasa saja.

“Anjing itu hewan pintar juga sensitif. Terpenting jangan disakiti seperti dipukul. Kalau diserang atau dipukul, dia akan menyerang balik,” bebernya.



Meskipun tiap harinya bersama anjing, David mengaku, pernah beberapa kali diserang. Bahkan digigit oleh anjing yang dilatih dan dirawatnya.

Baginya, kejadian pernah dialaminya itu wajar dan sudah terbiasa. Dia menganggap itu menjadi risiko sebagai perawat dan pelatih anjing. Karena tidak menjadi jaminan, meskipun anjing yang dilatih dan dirawat, sudah jinak maupun dikenali.

“Galak dan tidaknya anjing, bisa dilihat dari sikapnya. Terutama lirikan matanya. Jika tidak enak, jangan didekati. Berisiko diserang hingga bisa digigit,” cetusnya.

Untuk melatih anjingnya, David biasanya mengeluarkan anjing satu-persatu dari kandang. Jika dikeluarkan, anjing selalu menggunakan tali dan rantai. Tali atau rantai boleh dilepas, asalkan pagar kandang terkunci rapat. Alasannya biar tidak kabur.

Anjing yang dilatihnya, juga kerap diajak bermain. Misalnya bola. Kemudian jalan-jalan ringan, sikap berdiri ataupun duduk.

“Melatih anjing itu lebih sulit yang pejantan daripada betina. Karena lebih sensitif. Kuncinya harus telaten dan sabar melakukannya,” ucap David.

Anjing-anjing yang dirawat dan dilatihnya selama ini, sebagian besar memang untuk tampil kontes atau show. Anjing hasil pelatihannya, ada yang pernah diikutkan kontes ke berbagai daerah, seperti Sidoarjo, Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta. Bahkan hingga ke Medan juga pernah. Beberapa di antaranya, pernah raih juara atau pemenang.



“Kalau kontes atau show, yang dinilai atau dilihat banyak. Mulai dari gigi, mata, saat lari dan jalan. Kemudian saat posisi stand atau berdiri,” ungkapnya.

Menjadi pelatih dan perawat anjing sudah digelutinya selama 14 tahun ini, diakui David tidak membosankan. Karena anjing bisa dijadikan teman.

“Suka dan dukanya banyak. Ini wajar dan lumrah. Ini akan saya tekuni selama masih mampu,” imbuhnya. (fun) Editor : Ronald Fernando
#pelatih anjing #anjing galak