Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Petilasan Gunung Sir, Tempat Semedi yang Kini Sering Dipakai untuk Menyepi

Jawanto Arifin • Sabtu, 2 Juli 2022 | 17:10 WIB
KABUL HAJAT: Muhammad, juru kunci Gunung Sir saat mendampingi warga di salah satu lokasi bujuk di Gunung Sir. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)
KABUL HAJAT: Muhammad, juru kunci Gunung Sir saat mendampingi warga di salah satu lokasi bujuk di Gunung Sir. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)
JALAN yang sedikit menanjak namun mulus, harus dilalui untuk sampai ke Gunung Sir. Sepanjang jalan, pepohonan jati nan rimbun tumbuh subur. Tepat di pintu masuk gapura, terpasang tulisan wisata religi. Bau menyan langsung menyambut saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung di hari Kamis.

Namanya memang Gunung Sir, meski sejatinya lokasinya bukan pegunungan. Hanya perbukitan yang sering dikunjungi warga. Terutama di hari Kamis, jelang malam Jumat. Kondisinya kian ramai di malam Jumat Legi. Bisa ada puluhan minibus hingga ratusan motor di lokasi parkir.

Photo
Photo
TUJUH BUJUK: Suasana di lokasi Gunung Sir dan sejumlah petilasan di dalamnya. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)

Photo
Photo
TIRAKAT: Muhammad sang juru kunci Gunung Sir saat menemani pengunjung yang tirakat. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)

Photo
Photo
TOKOH BESAR: Hermali di bujuk Sayid Arif yang ada di Gunung Sir. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)



Gunung Sir sejatinya adalah nama dusun di Desa Kapasan, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Penduduknya banyak yang bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Jalan antardusun sudah terpaving, ada juga yang beraspal. Lalu sepanjang jalan, maupun di lokasi petilasan Gunung Sir, terpasang penerangan umum meskipun minim.

Kamis sore itu, Muhammad, sang juru kunci sedang kedatangan tamu. Dia mendampingi Iing, wanita asal Kota Pasuruan yang hendak tirakat. Muhammad yang mengenakan baju koko memimpin membaca doa-doa pendek. Sesekali dia menabur menyan dari lokasi bujuk yang jumlahnya ada tujuh buah. Di lokasi bujuk-bujuk itulah pengunjung biasanya melakukan tirakat. Ngalap berkah.

Namun, jangan berharap menemukan makam di Gunung Sir. Sejatinya, Gunung Sir hanyalah petilasan. Konon, Gunung Sir pernah disinggahi Gajah Mada. Setelah era Majapahit dan masuknya Islam, tempat ini menjadi lokasi para pembesar kerajaan bersemedi. Termasuk sejumlah tokoh syiar Islam ke sini.

Karena itu, ada beberapa bujuk yang diberi nama tokoh penyebar Islam di Pasuruan yang terkenal. Salah satunya Sayid Sulaiman.

“Sayid Arif yang dijuluki Pangeran Kanigoro adalah keturunan dari saudara wali. Menantu dari Mbah Semendi (penyebar Islam di Pasuruan yang makamnya ada di Kecamatan Winongan, Red). Sebelum mempersunting putri Mbah Semendi, Sayid Arif diminta untuk memperdalam ilmu agama. Hingga dipilihlah Gunung Sir untuk bersemedi,” beber Hermali, tokoh masyarakat di Desa Kapasan.

Sayid Arif sendiri dikenal sebagai Mbah Segoropuro. Lokasi makamnya ada di Rejoso. Jaraknya, kira-kira 20 kilometer dari Gunung Sir.

Menurut cerita yang berkembang, kata Hermali, zaman dahulu saat tokoh-tokoh penyebar Islam syiar di Pasuruan, memang memanfaatkan tempat-tempat tertentu untuk semedi. Hingga kemudian Sayid Arif atau Mbah Segoropuro kian dikenal karena ketokohannya yang ikut menyebarkan Islam di bumi Pasuruan.



Seiring berjalannya waktu, Gunung Sir akhirnya dikenal sebagai tempat semedi Sayid Arif. Hingga banyak masyarakat yang mengikuti tradisi semedi ini.

Mereka pun datang ke Gunung Sir. Ada pula yang menyepi, dengan maksud ingin meniru Sayid Arif yang dikenal dengan kesaktian dan kepintarannya.

Nama Sayid Arif sendiri akhirnya ditulis di dekat bebatuan dan pepohonan yang ada di Gunung Sir. “Di lokasi bujuk itulah Mbah Segoropuro (Sayid Arif) bersemedi. Dan kini juga sering dijadikan jujukan orang-orang yang datang ke Gunung Sir untuk bertirakat,” beber Hermali.

Ini juga diakui Muhammad, juru kunci Gunung Sir. Meski hanya petilasan, banyak orang yang datang ke Gunung Sir. Mereka umumnya berdoa. Tetapi, ada juga yang sampai menginap hingga berhari-hari, dengan mendirikan tenda.

“Ada yang berdoa dan mengaji hingga menyepi. Kalau saya kebanyakan mendampingi mereka dan menuntun mereka yang hendak berdoa di bujuk-bujuk,” beber Muhammad.

Bujuk-bujuk yang jumlahnya ada sekitar tujuh ini, masing-masing memiliki nama. Selain Sayid Arif, ada juga Bujuk Nipah, Bujuk Yunus, Bujuk Lanceng (Bujangan), Bujuk Romadin, Bujuk Sulaiman, dan Bujuk Rondo Kuning. Masing-masing memiliki nama dan peranan yang berbeda.

Seperti Bujuk Rondo Kuning dipercaya dapat memberikan kemudahan dalam hal perjodohan. Bujuk Yunus untuk tujuan usaha atau dagang. Bujuk Nipah dipercaya dapat memberikan berkah keselamatan.



“Saya tidak mengetahui sejarah dan arti nama bujuk-bujuk tersebut. Tetapi, tujuan mereka yang datang kan berdoa yang baik-baik. Dan saya ikut membimbing,” beber Muhammad.

Diakui atau tidak, pengunjung yang datang ke Gunung Sir begitu percaya bahwa tempat ini bisa menjadi “sarana” untuk mencari kebaikan. Juga sebagai tempat petilasan yang dipercaya bisa membuat mujur seseorang. Sama seperti yang dilakukan tokoh-tokoh yang pernah datang untuk bersemedi.

Tilik saja Nur dan istrinya. Pasutri asal Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, ini bahkan sudah berbulan-bulan tinggal di Gunung Sir. Keduanya tinggal di tenda dan terkadang pulang ke rumahnya tiap sepekan atau dua pekan sekali.

Nur dan istrinya mengaku datang ke Gunung Sir untuk tirakat. “Sejak usaha saya bangkrut, saya sering datang. Memang sering bermalam, karena menurut saya di Gunung Sir inilah saya bisa mencari ketenangan dan menyepi,” kata Nur diamini istrinya.

 

Wisata Religi yang Bantu Perekonomian

Petilasan Gunung Sir selalu ramai tiap Kamis malam, terutama Malam Jumat Legi. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Pasuruan, namun juga dari luar daerah. Seperti Lumajang, Probolinggo, Surabaya, bahkan Sumatera dan Kalimantan juga ada.

Tujuan mereka sama, yakni ingin melakukan tirakat. Pengunjung pun merasa nyaman karena di lokasi sudah terdapat sejumlah fasilitas. Misalnya pendapa untuk berteduh, kamar mandi yang airnya lancar, hingga musala untuk beribadah.

Kondisi ini membuat warga di Desa Kapasan ikut kena imbas positif. Terutama tiap malam Jumat, banyak pedagang dadakan datang. Warga pun bisa menarik retribusi parkir.



“Tujuan utamanya memang untuk wisata religi. Masyarakat pun bisa mencari rupiah. Karena itulah Gunung Sir tetap terawat,” beber Hermali, tokoh masyarakat di Kapasan.

Saat pandemi, kunjungan ke Gunung Sir diakui Hermali sempat turun. Tetapi, hampir setiap hari, selalu saja ada yang datang. Sedikit banyak, ini juga membantu perekonomian warga. (fandi armanto/hn) Editor : Jawanto Arifin
#gunung sir #desa kapasan #kecamatan nguling