=========
IWAN ANDRIK, Pasuruan, Radar Bromo
=========
Imut dan lucu. Begitulah tampilan cokelat karakter kreasi Dian Armiati, 32. Berbagai karakter ada. Ada yang berbentuk kancing, krayon, hingga aneka buah mini.
Warnanya yang beraneka, mengundang daya tarik untuk menyantapnya. Kuning, merah, biru, cokelat, hijau, dan aneka warna lainnya. Masing-masing dikemas berbeda. Sesuai dengan karakter yang ada.
“Satu toples ini berisikan 250 gram hingga 600 gram cokelat karakter. Setiap toples bisa berisi satu jenis karakter dengan aneka warna berbeda. Misalnya krayon yang beraneka warna,” ungkap Dian saat ditemui di rumahnya, Kamis (23/6) di Karangbangkal, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.
Dian mulai memproduksi cokelat karakter sejak 2016. Perempuan yang berprofesi sebagai bidan itu memang penggemar cokelat. Suatu hari, dia membeli setoples cokelat di sebuah toko. Tapi setelah dimakan, ternyata tenggorokannya serik alias sakit. Karena itu, Dian lantas berpikir untuk membuat cokelat sendiri.
“Saya memang penggemar cokelat. Sering saat beli cokelat toplesan, rasanya serik pada tenggorokan. Itulah yang menginspirasi saya untuk membuat cokelat sendiri,” beber istri dari Revi Chandra tersebut.
Ide membuat cokelat karakter muncul karena ia ingin membuat cokelat dengan tampilan beda. Unik dan lucu. Sempat browsing di internet, hingga muncul ide membuat cokelat dengan bentuk yang berbeda-beda.
Mulanya, Dian membuat cokelat dengan bentuk kancing. Lalu, dia membuat cokelat berbentuk krayon. Idenya semakin berkembang, hingga membuat karakter buah mini. Ada pisang, anggur, dan beragam buah lainnya.
“Saya juga membuat karakter lain. Misalnya cookies,” timpal alumni D-3 Kebidanan Universitas Dian Husada Mojokerto, tahun 2010 itu.
Untuk membuat cokelat karakter, Dian hanya perlu menyiapkan cokelat blok aneka rasa. Ia sengaja membeli cokelat blok yang sudah memiliki rasa, agar tak perlu menambah pewarna atau rasa tambahan. Karena hal itu justru kerap membuat tenggorokan sakit.
Cokelat blok itu kemudian dipanaskannya agar meleleh. Setelah lumer, cokelat tersebut dimasukkan kecetakan. Baru dimasukkan freezer, sekitar lima menit. Setelah jadi, tinggal dikemas sesuai karakter yang ada.
Untuk membuat cokelat karakter, tak banyak kendala yang dihadapinya. Kecuali cetakannya yang membuat dia sempat kesulitan mendapatkannya.
“Semuanya mudah kalau ada cetakan. Awal-awal kesulitan lantaran terkendala cetakan,” kenang bidan yang membuka praktik mandiri di wilayah Kejapanan, Kecamatan Gempol, sejak 2015 ini.
Mulanya, ia hanya membuat untuk dikonsumsi sendiri. Namun, kemudian banyak teman, saudara, hingga pasien yang memesan. Dari situlah, ia mampu memproduksi cokelat karakter dengan jumlah cukup besar.
Sebulan, ia bisa memproduksi antara 40 toples hingga 50 toples. Namun, ketika mendekati Lebaran, permintaan melonjak tajam. Bisa sampai 2.600 toples. Bahkan, sampai membuatnya kewalahan. Ia pun harus merekrut karyawan.
“Biasanya dibantu suami. Tapi, kalau Ramadan sampai lemburan. Karena itu, dibantu karyawan. Ada lima karyawan yang saya rekrut untuk membantu mengerjakan,” aku Dian yang sejak kecil memang bercita-cita menjadi pengusaha tersebut.
Produk cokelat kreasinya kini tidak hanya merambah Pasuruan. Tetapi, juga sampai Sidoarjo, Surabaya, bahkan Bogor, Lombok, dan Jakarta. Setiap toplesnya, dihargai Rp 30 ribu hingga Rp 60 ribu. Tergantung ukuran yang dijual.
Dari bisnis sampingan itulah, ia bisa menambah pundi-pundi rupiah hingga puluhan juta. Seperti saat Ramadan tahun ini. Dia bisa meraup pendapatan hingga Rp 45 juta. Bahkan, ia dan suami mampu membeli mobil untuk keluarga kecilnya dari cokelat kreasinya.
Tak hanya uang yang didapatkan dari bisnis cokelat karakter tersebut. Kebanggaan juga dirasakannya. Saat suaminya tengah sibuk berdagang es krim di wilayah Porong, Kabupaten Sidoarjo, ada temannya yang menawarkan cokelat kepada suaminya.
Saat melihat seksama cokelat tersebut, suaminya hanya senyum-senyum. Lantaran cokelat yang ditawarkan adalah cokelat buatan dirinya.
“Pernah ada yang nawarin cokelat ke suami. Selain bentuknya imut, rasanya juga enak. Suami yang disuruh mencoba senyum-senyum sendiri. Karena cokelat yang ditawarkan adalah cokelat buatan kami. Dan temannya itu tidak tahu,” tandasnya bangga.
Meski begitu, bisnis cokelat yang digeluti tidak selalu berjalan mulus. Pernah cokelat kreasinya dipalsu. Hal itu membuatnya sedih. “Sangat mirip. Tapi kami tidak bisa berbuat banyak, karena memang belum mengurus hak merek dagang,” sampainya. (hn) Editor : Ronald Fernando