—--------------------------------------
ACHMAD ARIANTO, Banyuanyar, Radar Bromo
—--------------------------------------
PRIA berjenggot tipis itu terlihat sibuk merawat dua ekor ayam di rumahnya. Satu ekor ayam dia letakkan di sebelah barat rumahnya. Sementara yang lain diletakkan di sebelah timur rumah yang merupakan kandang ayam.
Tapi jangan salah. Dua ekor ayam itu bukan miliknya. Melainkan milik orang yang kini menjadi ‘pasiennya.’ Ya, dua ayam itu sedang sakit setelah bertarung.
Dia lantas memeriksa ayam itu satu persatu. Ini dilakukan untuk mengetahui sakit yang diderita dua ayam itu. Biasanya, lelaki itu melakukan aktivitas tersebut setiap pagi menjelang siang.
Dialah Suyitno, 40, warga Dusun Krajan, Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo. Warga setempat menjulukinya dukun ayam. Sebab, di tangannya, ayam sakit parah pun bisa disembuhkan.
"Setiap harinya ya begini, ngurus ayam sakit untuk disembuhkan. Ini jadi pasien saya. Kalau sudah sembuh pemiliknya datang," katanya tersenyum mengawali cerita.
Suyitno sendiri memperoleh kemampuan menyembuhkan ayam sakit dengan tidak sengaja. Mulanya ia memiliki hobi memelihara ayam bangkok untuk aduan. Sebelum diadu, persiapan selalu dia lakukan dengan matang.
Mulai menjaga fisik ayam dengan memberinya ramuan racikan. Hingga memandikan badan ayam agar tetap bersih dan tidak mudah sakit.
"Saya mulai hobi memelihara ayam aduan tahun 2005. Pakan dan fisik ayam benar-benar saya perhatikan. Agar tubuhnya sehat dan jago saat diadu," ungkapnya.
Sayangnya, setelah diadu, justru ayam bangkok miliknya jatuh sakit. Suyitno lantas merawatnya agar ayam miliknya itu sembuh. Namun, tidak berhasil. Ayamnya malah mati.
Tidak hanya sekali. Tiga kali ayamnya mati karena sakit setelah diadu. Saat memiliki ayam bangkok aduan yang keempat, dia mendapat informasi bahwa sakit yang terjadi pada ayam setelah diadu disebabkan oleh virus.
Ia pun penasaran dan mencari tahu pada rekan yang memiliki hobi serupa. Hingga akhirnya dia menemukan ramuan kombinasi antara jamu tradisional yang dibuatnya dengan obat pabrikan khusus unggas. Hasilnya, ayam miliknya pun tidak mudah sakit.
"Virus tertular saat diadu. Jadi setelah diadu rata-rata ayam mudah sakit. Jika tidak ditangani dengan baik, ayam tidak bisa bertahan lama dan akhirnya mati," tandasnya.
Rupanya kemampuannya mengobati ayam sakit cepat didengar oleh teman-temannya. Banyak yang bertanya pada Suyitno jamu dan obat apa yang diberikan pada ayam agar tidak mudah sakit.
Namun, dia tidak berkenan menceritakan ilmunya itu. Sebab, racikan ramuan tersebut adalah hasil dari uji coba yang dilakukannya berkali-kali. Sekaligus menjadi obat rahasia miliknya.
Suyitno lantas menyarankan kepada temannya agar ayamnya yang sakit setelah diadu dirawat di rumahnya. Temannya pun setuju, asalkan ayam itu dapat sembuh dan sehat kembali.
Suyitno lantas merawat ayam dengan intensif layaknya merawat pasien. Mulai dari memberikan makanan khusus, membersihkan tubuh ayam, dan mengobati ayam tersebut dengan ramuan miliknya.
"Saya menerima pasien ayam mulai 2020. Sebab, baru ada tempatnya. Jadi yang ingin disembuhkan harus dirawat dulu," bebernya.
Perlakuan khusus itu diberikan sejak ayam datang. Awalnya, pemilik ayam terlebih dahulu ditanyakan sakit atau keluhan pada ayam. Tujuannya agar penanganan yang diberikan bisa lebih cepat. Misalnya, ayam aduan ngorok, tembolok ayam macet, atau karena kena pukulan ayam lain dan kena virus saat diadu.
Setelah mengetahui penyebab sakitnya, ayam diletakkan di kandang yang ada di sisi barat rumahnya. Ruangan itu merupakan ruangan kosong yang belum dimanfaatkan. Sehingga sementara digunakan untuk rawat inap ayam. Di ruangan inilah perawatan dilakukan.
Dalam proses pengobatan ayam, dirinya selalu rutin memberikan makan, minum, dan ramuan racikannya. Hingga kondisi ayam membaik.
Setelah sembuh, ayam diletakkan di kandang yang berada di sisi timur rumahnya untuk pemulihan. Proses pengobatan dan penyembuhan membutuhkan waktu paling lama satu minggu. Menyesuaikan penyakit yang diderita oleh ayam.
"Saya hanya membatasi ayam untuk disembuhkan dua ekor saja. Kalau lebih dari itu, khawatir menulari yang lainnya. Sudah ada puluhan ayam saya obati. Alhamdulillah banyak yang sembuh," tandasnya.
Dari kemampuan yang dimiliki itu, ia menerima upah perawatan lumayan. Rata-rata selama seminggu ia memperoleh Rp 150 ribu. Sementara untuk upah rata-rata Rp 300 ribu. Tarif itu sebagai ganti penggunaan obat dan makan.
"Semua jenis ayam bisa diobati. Tetapi, mayoritas ayam petarung. Yang datang juga dari beberapa wilayah. Mulai Banyuanyar, Gending, Maron, Dringu, dan Paiton. Bahkan sebagian ada yang dari Lumajang. Saat ini ada enam ayam yang antre diobati," bebernya. (hn) Editor : Ronald Fernando