---------------
Dahulu Sumurmati merupakan hutan belantara, sebelum menjadi desa seperti sekarang. Namun, meski berupa hutan tidak lantas mudah mencari sumber air bersih di sana. Sungai menjadi satu-satunya sumber air bersih saat itu.
Kemudian, datanglah Mbah Ramoy ke Sumberasih. Dari Madura, dia sengaja berkelana untuk menemukan jati dirinya. Dia lantas menetap di Sumurmati. Di tempat itu, dia mendirikan rumah. Kemudian, menggali sumur.
Sebab, tidak ada sumber air di sekitar rumahnya. Sementara untuk ke sungai, jaraknya jauh. Kebetulan, Mbah Ramoy adalah pembuat sumur.
Dan usahanya itu berhasil. Setelah sumur jadi, dia menanam pohon asem di sekitar sumur. Pohon itu lantas tumbuh semakin besar dan besar. Semakin tinggi dan tinggi. Bahkan, cabangnya saja ada yang panjangnya mencapai sekitar 70 meter. Hingga akhirnya menjadi pohon tertinggi di hutan itu.
Warga yang mulai berdatangan dan menetap di sekitar rumah Mbah Ramoy dengan cepat merasakan manfaat dari pohon asem itu. Selain nyaman untuk berteduh, juga nyaman untuk beristirahat.
Nama Sumurmati sendiri baru ada pada zaman penjajahan Belanda. Saat itu, desa yang ditempati Mbah Ramoy dipimpin kepala desa bernama Markuat.
Markuat lantas berinisiatif memberikan nama pada desanya. Setelah melalui rapat, diputuskan untuk memberi nama Desa Sumurmati.
Nama itu diilhami oleh sejarah Mbah Ramoy, pembuat sumur pertama yang memberikan banyak manfaat bagi masyarakat luas. Nama mati disematkan di belakang sumur, karena sumur pertama itu akhirnya ditutup.
Sumur itu ditutup setelah Mbah Ramoy meninggal. Sebab, sepeninggal Mbah Ramoy, sumber di sumur itu semakin besar dan besar. Bahkan, airnya sampai meluap dari sumur dan menyebabkan banjir.
“Sementara saat Mbah Ramoy masih hidup, tidak ada banjir. Sebab, dengan kesaktiannya, Mbah Ramoy menahan air agar tidak banjir,” terang Togay, 73, anak turunan Mbah Ramoy, warga RT 10/RW 2, Dusun Dam, Desa Sumurmati, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.
Tidak hanya itu, kekeramatan sumur yang diketahui warga. Sumur tersebut menurut Togay, bahkan pernah menyelamatkan tentara Indonesia dari kejaran tentara Belanda.
Konon air sumur tersebut terus keluar, hingga berubah menjadi laut dalam pandangan tentara Belanda. Akibatnya, Belanda pun kembali. Tidak melanjutkan pengejaran. Sementara tempat itu kemudian dijadiakn tempat persembunyian warga dari Belanda.
“Sumurnya masih ada sekarang. Tapi sudah tertutup tanah. Sampai saat ini, sisa sumur tersebut banyak di tirakati orang. Ini berdasarkan cerita turun temurun dari orang tua,” ujarnya.
Makamnya Diyakini di Sekitar Sumur
Meski dikenal sebagai pembabat alas Desa Sumurmati, namun makam Mbah Ramoy tidak diketahui keberadaannya. Namun, anak turunan Mbah Ramoy yaitu Togay, 73, meyakini makam Mbah Ramoy ada di sekitar sumur.
Sebab, Togay sering bermimpi bertemu lelaki tua berjenggot panjang. Dalam mimpinya, lelaki itu tinggal di sekitar sumur yang sudah ditutup. Dan mengaku sebagai buyutnya.
“Saya mimpi beliau pertama kali saat remaja. Waktu itu ibu saya sakit empat bulan. Lalu saya mimpi didatangi orang yang mengaku buyut saja. Dia meminta saya mengambil sebuah kotak bertulisan arab di sebuah tempat. Saya diminta mendatangi tempat itu jam tujuh pagi,” terangnya.
Togay pun menyampaikan perihal mimpi itu pada ibunya. Namun, urung dilakukannya. Sebab, lelaki tua itu meminta agar petunjuk tersebut tidak dibocorkan ke siapapun.
Sejauh ini, menurut Togay, masih banyak orang yang tirakat di dekat sumur tersebut. Biasanya mereka bertujuan mencari pustaka peninggalan Mbah Ramoy. Namun, tidak mudah mendapatkannya. Kecuali, keturunan Mbah Ramoy sendiri.
Warga sekitar, menurut Togay, juga punya keyakinan tidak boleh bersikap sembarangan di dekat sumur. Bila tidak, dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Seperti yang disaksikan Mulyono, 66, warga RT 11/RW 3, Durun Lori, Desa Sumurmati. Menurut Mulyono yang juga juru kunci sumur, beberapa waktu lalu ada warga yang menghidupkan mesin bor air di sekitar sumur. Dia ingin mengairi sawahnya saat itu.
Entah kenapa, pompa yang seharusnya keluar air malah keluar api. Mulyono mengatakan, daerah di sekitar Sumurmati sebenarnya tidaklah angker. Namun, tidak boleh sembarangan berbuat sesuatu di wilayah tersebut. (Fuad Alyzen/hn) Editor : Ronald Fernando