Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ini Sosok di Balik Rindangnya Pantai Bahak Tongas

Jawanto Arifin • Senin, 20 Juni 2022 | 21:44 WIB
JUJUKAN WISATAWAN: Syamsuri menanam pohon mangrove sejak tahun 1989 dan menebang rawa. Kini Syamsuri menikmati hasil perjuangannya di Pantai Bahak Indah. (Fuad Alyzen/Jawa Pos Radar Bromo)
JUJUKAN WISATAWAN: Syamsuri menanam pohon mangrove sejak tahun 1989 dan menebang rawa. Kini Syamsuri menikmati hasil perjuangannya di Pantai Bahak Indah. (Fuad Alyzen/Jawa Pos Radar Bromo)
Selama puluhan tahun warga di Dusun Tambak Bahak, Desa Curah Dringu, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, mengenal Syamsuri sebagai lelaki penanam pohon mangrove di pantai. Kini Syamsuri sering diundang di berbagai acara untuk menjadi narasumber. Dia dinilai berhasil menghijaukan Pantai Bahak yang dulu panas.

FUAD ALYZEN, Tongas, Radar Bromo

Dulu tidak banyak yang tahu sosok Syamsuri, 63. Dia hanya dikenal warga sekitar karena aktivitasnya yang berkaitan dengan lingkungan. Terutama di sekitar tempat tinggalnya yaitu di Dusun Tambak Bahak, Desa Curah Dringu, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.

Di Desa Curah Dringu itulah, cikal bakal Pantai Bahak Indah dirintis oleh Syamsuri sekitar 33 tahun yang lalu atau 1989. Bahkan, jauh sebelum Pantai Bahak Indah menjadi jujukan wisatawan seperti sekarang.

Syamsuri masih ingat, dulu Pantai Bahak Indah adalah pantai biasa. Bahkan, warga sekitar tidak ada yang berani datang ke pantai itu. Sebab, lokasi tersebut dipenuhi rawa berduri dan hewan buas. Ada ular berbisa, musang, dan lainnya.

Bahkan, kondisi pantai sangat panas. Hampir tidak ada pohon peneduh di sana. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya lautan. Sampai-sampai, bibir Pantai Bahak sejajar dengan laut atau langsung bertemu dengan laut. Saat air laut pasang, tanah pun berlumpur.

Saat itu, tidak ada yang peduli dengan kondisi Pantai Bahak. Namun, Syamsuri merasa prihatin. Jauh di lubuk hatinya, lelaki itu terpanggil untuk membuat Pantai Bahak menjadi jauh lebih nyaman.

Memang Syamsuri saat itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia juga tidak spesifik bisa membayangkan akan diapakan Pantai Bahak. Karena itu, dia pun berbuat sesuai hati menuntunnya.



Awalnya, Syamsuri membersihkan rawa-rawa yang ada. Tidak sendirian. Dia dibantu istrinya, Karpuk, 50.

“Pantai ini polos tidak ada tanaman sama sekali, kecuali rawa. Saya bersama istri membersihkan rawa di sini. Saya meluangkan waktu hanya untuk merawat tempat ini. Karena saya suka tempat ini,” ujarnya.

Di tahun itu juga, tahun 1989, Syamsuri pun mulai menanam mangrove. Sekitar seribu bibit mangrove dia tanam di pantai itu. Bahkan, Syamsuri membelinya sendiri.

Namun, perjuangannya tidak semulus yang dia kira. Aktivitasnya itu sering dicemooh warga sekitar. Bahkan, mereka memandangnya sebelah mata.

Tak jarang, ada warga yang sengaja melepas sejumlah hewan peliharaan mereka ke pantai. Tepat ke lokasi Syamsuri menanam mangrove. Hewan-hewan itu lantas memakan pohon mangrove yang ditanamnya.

Tapi, Syamsuri berusaha sebisa mungkin menahan amarahnya. Dia memilih diam. Kemudian menyulam tanaman yang sudah dimakan kambing itu.

Tidak sekadar menanam mangrove. Setiap hari, Syamsuri meluangkan waktu untuk merawat tanaman-tanaman itu. Dan perlahan tapi pasti, pantai yang awalnya panas itu mulai berubah hijau. Angin sejuk mulai semilir dari mangrove yang ditanam. Keindahan pun makin tampak sedikit demi sedikit.



Dengan telaten, Syamsuri dan istrinya terus merawat mangrove di sana hingga 21 tahun lamanya. Lalu sejak tahun 2010, tempat itu mulai sering dijadikan tempat pelatihan mahasiswa. Yakni, Youth Leadership Training.

Setiap tahun, peserta YLT datang dan menanam pohon mangrove dan cemara di sana hingga tahun 2019. Sejak tahun 2020, kegiatan itu terhenti karena pandemi Covid-19.

Di tahun 2010 juga, PT YTL dari Paiton memberikan bantuan seribu pohon cemara. Cemara-cemara itu ditanam di sepanjang tepi pantai.

“Lalu pada tahun 2013, YTL mulai menanam banyak pohon mangrove. Instansi lain juga mulai memberikan banyak bibit untuk ditanam di sini. Ada Perhutani, DLH juga,” lanjutnya.

Kondisi Pantai Bahak yang mulai hijau akhirnya dilirik masyarakat. Sejak tahun 2017, mulai datang warga berkunjung ke tempat itu. Syamsuri bersama warga desanya lantas berinisiatif mengelola Pantai Bahak jadi tempat wisata.

Dia pun mengajak sekitar 40 pemuda di desanya untuk mengelola Pantai Bahak. Mereka semua dilibatkan, terutama para pemuda yang pengangguran. Ada yang menjaga tempat parkir, menjaga fasilitas, membersihkan lahan, dan yang lain.

“Dari kegiatan itu, tempat wisata ini bisa menghidupi ekonomi warga. Mulai pedagang, pengangguran, menyumbang warga yang meninggal, dan yang lain,” terangnya.



Hingga akhirnya, Pemkab Probolinggo mulai melirik Pantai Bahak Indah yang mulai cantik. Pantai itu lantas dikembangkan menjadi tempat wisata sejak tahun 2021 dan dikelola Pemkab Probolinggo.

Sejumlah sarana dan prasarana dibangun di sana dengan anggaran dari pemerintah pusat. Mulai kantor, ruko, gazebo, pergola, jalan, tempat duduk santai, dan banyak lainnya. Pengunjung pun tambah ramai.

Saat ini, Syamsuri menikmati perjuangan yang dibangun. Dia mengaku sangat bahagia. Sebab, kini Pantai Bahak Indah jadi jujukan masyarakat untuk berwisata.

Terkadang, Syamsuri tak kuasa menahan air mata saat mengingat perjuangannya menghijaukan Pantai Bahak. Dia sering diremehkan warga sekitar.

“Warga sering mencaci maki dan menciptakan kegaduhan. Namun, tidak membuat saya mundur. Itu yang saya ingat,” terangnya.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto diwakili Musa sebagai Adytama, Kepariwisataan dan Ekraf Muda mengatakan, wisata Pantai Bahak Indah awalnya dikelola oleh masyarakat. Saat itu, destinasi wisata Pantai Bahak Indah semakin berkembang.

Akhirnya Disporaparbud Kabupaten Probolinggo memberikan perhatian khusus. Pantai itu dikembangkan sesuai dengan juknis kementerian. Sehingga menu pembangunan tidak boleh keluar dari menu dari juknis tersebut. “Pembangunannya berupa jalan dalam kawasan, VIC, parkir, dan lainnya,” ujarnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#wisata probolinggo #pantai bahak