Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Muhammad Khoiron, Staf Kejari Kab Pasuruan yang Juga Produktif Menulis Buku

Jawanto Arifin • Sabtu, 18 Juni 2022 | 21:44 WIB
BIAR DIKENANG: Muhammad Khoiron saat membaca buku di rumahnya. Salah satu motivasinya menulis buku yaitu agar bisa dikenang. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
BIAR DIKENANG: Muhammad Khoiron saat membaca buku di rumahnya. Salah satu motivasinya menulis buku yaitu agar bisa dikenang. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
Minimnya aktivitas pergerakan mahasiswa di kampusnya membuat Muhammad Khoiron, 28, lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku. Dari situlah, ia tertarik membuat karya tulis. Kebetulan, ia juga sedang merintis bisnis jual beli jam tangan. Bisnis yang digelutinya itulah menjadi inspirasinya untuk menulis.

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

TUHAN, Ayo Modalin Bisnisku!.” Begitulah cover salah satu buku yang ditulis Muhammad Khoiron, 28. Buku tersebut merupakan karya pertamanya. Persis gambaran kisahnya yang dituangkannya dalam sebuah cerita.

Selain itu, ada beberapa buku lain yang dibuatnya. Yakni, 99 Kunci Sukses Berjualan dan Ram-ram Membongkar Skandal Korupsi di Bumi Santri. Khusus buku yang terakhir, ia tidak bekerja sendiri dalam penulisannya. Ada rekan-rekan sesama penulis dari Yayasan Humanist Centre Pandaan yang terlibat dalam pembuatannya.

“Sekarang saya sedang dalam proses menulis dua buku lagi. Salah satunya, ‘PMII Bukan Gadis Malam’,” ungkap Khoiron –sapaannya-.

Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Yudharta Pasuruan ini mengaku, tertarik menulis bulu setelah pergerakan BEM di kampusnya pada 2018 dibatasi. Tidak ada gerakan yang dimunculkan.

Dampaknya, banyak waktu yang hanya dihabiskan untuk berdiam diri. Waktu luangnya lantas ia gunakan untuk banyak membaca buku. Khususnya buku-buku tentang bisnis.

“Kebetulan saya memang tertarik dengan dunia bisnis. Makanya banyak buku-buku bisnis yang saya baca,” kisahnya.



Kebetulan, waktu itu, ia juga sedang menjalankan bisnis. Yaitu, jual beli jam tangan. Pengalamannya berbisnis itulah yang menggerakkannya untuk berbagi cerita. Kiat-kiat bagi pemula untuk memulai bisnis.

“Kalau mau memulai usaha, yakin dulu bisa menjalankannya. Percaya kepada Tuhan akan mendapatkan pertolongan. Karena dari situ, nantinya akan ada jalan. Termasuk kesulitan masalah permodalan,” imbuhnya.

Ia pun menuliskan pengalamannya berwirausaha tersebut. Tidak mudah memang. Apalagi, ia memang belum pernah menulis buku sebelumnya.

Sejumlah kendala datang selama menyelesaikan karyanya. Macet inspirasi hingga mood yang hilang, kerap menghampiri. Hingga enam bulan lamanya, buku berjudul Tuhan, Ayo Modalin Bisnisku mampu diselesaikan.

Karya pertamanya itu dicetak seribu eksemplar. Buku-buku itu pun disebarkan ke sejumlah wilayah di Indonesia. Tidak hanya Pasuruan, tetapi juga Jakarta hingga NTB.

Usai merilis satu buku, ia tak langsung membuat karya berikutnya. Kesibukan di dunia kerja membuatnya mengalami hambatan untuk menulis lagi.

Bahkan, sejak akhir 2018, ia vakum menulis. Hanya fokus bertugas sebagai honorer di kantor Kejari Kabupaten Pasuruan.



Sembari tetap menjajakan jam tangannya secara online. Hingga tahun 2021 saat pandemi Covid-19 masih berlangsung, penjualan jam tangannya naik. Berlipat-lipat. Hal itu kembali membuatnya bergairah untuk menuliskan kisahnya.

Dari situlah, buku kedua berjudul 99 Kunci Sukses Berjualan berhasil dirilisnya. “Saya membuat buku tersebut selama delapan bulan,” bebernya.

Hal itu memotivasinya untuk terus berkarya. Terbukti dengan karya buku berjudul Ram-ram Membongkar Skandal Korupsi di Bumi Santri. Buku tersebut diluncurkan awal Juni 2022 setelah proses yang cukup panjang.

Buku tersebut menurut warga Desa Prodo, Kecamatan Winongan, tersebut berkisah tentang sosok Kajari Kabupaten Pasuruan Rhamdanu Dwiyantoro. Karena keberhasilannya membongkar kasus korupsi di Kabupaten Pasuruan.

Mulai dari kasus TKD Bulusari, PKIS, hingga BOP Kemenag RI di Kabupaten Pasuruan. Buku tersebut tercetak 100 eksemplar dengan kurang lebih 370 halaman yang disajikan.

Saat ini, kata Khoiron, ia sedang menyelesaikan dua buku lain. Salah satunya,”PMII Bukan Gadis Malam.” Buku tersebut menggambarkan tentang bagaimana sosok seorang kader PMII. Di mana seorang kader PMII tidak hanya hadir di kepentingannya saja. Tetapi, ikut berproses dalam menggerakkan PMII.

Suami dari Suci Lailatul Usriah itu menguraikan, tak mudah memang untuk menulis buku. Apalagi di tengah kesibukan bekerja. Biasanya ia menulis ketika waktu senggang. Entah itu di tempatnya bekerja atau ketika malam.



“Biasanya saya mulai menulis ketika di rumah. Dari jam sembilan malam sampai jam satu dini hari,” timpal bakap satu anak ini.

Khoiron menegaskan, ada motivasi tersendiri baginya untuk menulis. Ia berpedoman pada dawuh Imam Ghozali. Jika kamu bukan seorang raja atau priyayi, menulislah. Biar bisa dikenang. “Itulah yang menjadi pedoman bagi saya untuk terus menulis,” tandasnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#kejari kabupaten pasuruan #penulis pasuruan