Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mbah Rancang yang Dikenal Sakti di Lemah Kembar, Bisa Salat di Dua Tempat

Jawanto Arifin • Minggu, 12 Juni 2022 | 20:33 WIB
DIBERSIHKAN: Husen, salah satu anak turunan Mbah Rancang yang juga juru kunci sedang membersihkan makam Mbah Rancang di Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Fuad Alyzen/Jawa Pos Radar Bromo)
DIBERSIHKAN: Husen, salah satu anak turunan Mbah Rancang yang juga juru kunci sedang membersihkan makam Mbah Rancang di Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Fuad Alyzen/Jawa Pos Radar Bromo)
KISAH Mbah Rancang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan warga Sumberasih dan Tongas di Kabupaten Probolinggo. Lelaki asal Madura ini adalah penyiar Islam dan dikenal sakti. Karena itu, hingga kini makam atau pesarean Mbah Rancang masih didatangi peziarah.

Ada yang khas dalam keseharian Mbah Rancang yang nama aslinya Sayyid Kursi. Lelaki yang hidup di tahun 1700-an ini selalu membawa dua tongkat kecil ke manapun dia pergi.

Bukan sembarang tongkat. Tongkat ini digunakannya untuk teleportasi atau berpindah tempat. Ya, Mbah Rancang memang dikenal sakti. Karena itu, warga menyebutnya Keramat Rancang. Dengan kesaktiannya, dia bisa salat di dua tempat di waktu yang sama.

Photo
Photo
SERING DIKUNJUNGI: Makam Mbah Rancang kerap didatangi peziarah. (Foto: Fuad Alyzen/Jawa Pos Radar Bromo)

Konon, dia sering salat di Probolinggo dan Madura di waktu yang sama. Mbah Rancang memang asal Madura. Dia berkeliling untuk syiar agama Islam. Sampai kemudian menetap di Desa Lemah Kembar yang saat ini masuk Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

“Ada dua tongkat, pendek dan panjang. Yang pendek digunakan untuk berpindah tempat salat dalam sekejap. Sedangkan yang panjang dipakai untuk mengendarai ikan Mondung (sejenis pari). Caranya, ditancapkan di kepalanya,” terang Husen, 65, anak turunan yang juga juru kunci makam Mbah Rancang.



Rancang sendiri adalah nama yang diberikan oleh masyarakat saat itu pada Sayyid Kursi. Sebab, rumah yang ditinggalinya tanpa menggunakan atap. Namun, tidak kepanasan dan kehujanan.

Keunikan lain Mbah Rancang yaitu, dia gemar bermain layangan. Bukan di lapangan, melainkan dari rumahnya. Sebab, rumah Mbah Rancang memang tanpa atap.

“Kalaupun layangannya teleng, Mbah Rancang memperbaiki dengan cara menaiki benang. Baru kemudian layangan diperbaikinya,” jelasnya.

Meski berasal dari Madura, Rancang mondok di Jawa sejak kecil. Yaitu di Pondok Pesantren Beringin. Selama mondok, Rancang kecil dikenal suka tidur saat kiai atau gurunya sedang mengajar. Saat itu, dia memang baru berusia dua tahun. Ia selalu tidur di teras masjid. Tapi, dia paham dengan ajaran-ajaran yang disampaikan gurunya.

Di balik itu, Rancang kecil dengan tidak sengaja berhasil memenangkan sayembara yang diadakan gurunya. Saat itu, gurunya meminta para santrinya untuk memindah pohon Beringin yang ada di halaman pesantren ke Madura.

Tidak ada yang berhasil memindah pohon Beringin itu. Rancang kemudian bangun dan memindah pohon Beringin tersebut. Dia pun berhasil. Sejak saat itu, Rancang dipercaya sebagai wali.

Selain itu, Rancang juga pernah menghilang selama puluhan tahun. Tidak ada yang bisa menemukannya, kecuali sang ibu. Sang ibu memang tidak merasakan anaknya mati. Dia bisa merasakan keberadaan Rancang di suatu tempat.



Karena itu, saat ingin bertemu, ibunya pun memanggil Rancang dengan suara yang sangat keras. Rupanya, Rancang tirakat di dalam makam.

“Ibu dan anak ini kemudian ngobrol. Mbah Rancang di dalam kuburan, ibunya di atas kuburan. Saat itu dia tidak mau keluar sebelum bau kotoranku berubah menjadi harum dan seperti kapas,” terang Hidayatullah, 50.

Warga Kelurahan Curahgrinting, Kanigaran, Kota Probolinggo, ini juga anak turun Keramat Rancang. Sebagai keturunannya, ia pun menggerakkan warga sekitar untuk merenovasi makam Keramat Rancang.

“Sejak tahun 1980-an, pesarean ini mulai dibangun sampai saat ini. Saya melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya,” katanya.

 

Banyak Politisi yang Ziarah

Walau kehidupannya sudah menjadi cerita dari mulut ke mulut, hingga kini Sayyid Kursi atau Mbah Rancang masih dikenal. Bahkan, makam atau pasareannya di Desa Lemahkembar, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, masih didatangi peziarah.

Bukan hanya satu atau dua orang. Di waktu-waktu tertentu, peziarah yang datang bahkan sampai beberapa bus. Kedatangan mereka memiliki tujuan beragam.

Secara umum memang ziarah. Ada juga yang tirakat. Orang yang bertirakat di sana memiliki bermacam tujuan. Namun, kebanyakan ingin hidupnya berkah.



Namun, warga juga mengenal makam Mbah Rancang tidak bisa dibuat sembarangan. Misalnya, tirakat untuk meminta hal yang haram. Maka, akan membahayakan pelaku tirakat sendiri.

“Dulu pernah ada yang tirakat untuk minta nomor togel. Begitu memejamkan mata, orang ini langsung dipindah ke laut selatan. Selain itu, ada juga dibenturkan ke lantai, dipadamkan lampunya dan tampak pocong,” terang Hidayatullah, 50, salah satu anak turun Mbah Rancang.

Banyak juga peziara yang berasal dari kalangan politisi. Berziarah dan berdoa agar menang dalam pencalegan. Banyak yang meluangkan waktu mengaji di makam Mbah Rancang.

Bahkan menjelang pemilihan kepala desa serentak di Kabupaten Probolinggo beberapa waktu lalu, pasarean Mbah Rancang selalu ramai dikunjungi para calon kades. Tidak tanggung-tanggung, ada para calon kades yang setiap malam ziarah bersama rombongan atau tim suksesnya.

“Meski hari biasa, pesarean ini tetap dikunjungi masyarakat. Memang pas ramai itu menjelang pemilu biasanya. Terkadang tempat ini sampai penuh dengan para caleg,” ujarnya. (fuad alyzen/hn) Editor : Jawanto Arifin
#mbah rancang #sayyid kursi