Sejarah Datuk Ahmad Baidowi atau Mbah Wali memang tidak diketahui warga sekitar dengan jelas. Namun, makamnya sudah lama ada di Dusun Tegalan Kandangan, Desa Bulukandang, Prigen.
“Warga di sini mengenal Mbah Wali sebagai waliyullah, juga tokoh penyebar agama islam dari Sumatera. Hidup di zaman kerajaan apa kami tidak tahu,” terang Kasun Tegalan Kandangan Wasito.
Makamnya sendiri terletak di jalan kabupaten jurusan Jetak – Dayurejo di Desa Bulukandang. Dari jalan kabupaten, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 600 meter ke lokasi makam.
Lokasinya pun mudah dijangkau. Pemdes Bulukandang memberikan penanda berupa gapura untuk menuju lokasi. Selain itu, di sepanjang jalan menuju makam terdapat papan penanda atau penunjuk arah.
Jalan ke lokasi pun cukup nyaman karena sudah dipaving. Karena itu, motor dan mobil warga yang datang bisa melintas dengan nyaman.
“Dari jalan raya ke makam, sekitar lima menit. Motor dan mobil juga minibus bisa masuk dan parkir di sekitaran lahan areal makam,” terangnya.
Meskipun tempatnya lumayan jauh, makam Mbah Wali sudah tersohor. Tak heran, setiap harinya selalu ada peziarah yang datang.
Kebanyakan mereka dari luar daerah. Seperti dari Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, Gresik, Malang dan lain-lain. Termasuk dari pulau Sumatera dan Kalimantan, juga pernah datang.
“Paling ramai peziarah datang pada Kamis dan Minggu malam. Jumlahnya bisa puluhan sampai ratusan orang. Tujuannya beragam, sesuai kepentingan masing-masing,” cetus Kades Bulukandang Wahi.
Makam Mbah Wali sendiri ada di aula atau joglo. Para peziarah yang datang bisa melihat makam Mbah Wali lewat jendela dan pintu kayu yang berlubang.
“Memang tempat ini tidak bisa dimasuki. Yang boleh masuk Cuma juru kunci untuk membersihkan ruangan dan mengganti bunga yang ada di makam,” ungkapnya.
Di sebelah utara makam Mbah Wali, juga terdapat makam lain. Yaitu, makam Habib Soleh yang merupakan murid Mbah Wali.
“Di situ juga ada makam Habib Soleh. Habib Soleh ini murid atau santri dari Datuk Ahmad Baidowi,” terangnya.
Pemdes setempat berencana menjadikan tempat itu sebagai wisata religi di Desa Bulukandang. Karena itulah, kondisi makam diperbaiki.
Sebelumya, joglo tempat makam terbuat dari kayu. Saat ini sudah lebih bagus setelah direhab tahun lalu.
“Joglo ini diperbaiki secara swadaya oleh warga. Lantai makam dari keramik dan selalu bersih. Ini semua biar peziarah nyaman, tidak kepanasan maupun kehujanan,” tuturnya.
Bahkan, areal itu sudah dilengkapi tempat wudu dan toilet untuk peziarah yang datang. Sehingga, peziarah makin nyaman.
“Rencana ke depan memang akan kami buat wisata religi. Karena itu, perlu dirintis dan secara bertahap,” bebernya. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin