RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo
RUANG tamu dengan ukuran 6 x 4 meter itu dihiasi sejumlah lukisan. Bentuknya unik dan ukurannya cukup besar. Lima lukisan dipasang di dinding sebelah barat dan utara. Lalu di selatan juga ada beberapa lukisan di dinding. Semuanya memakai media kanvas.
Itulah lukisan karya Teo Agustie, 26, sang empu rumah di Dusun Melikan, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Tidak seperti lukisan kebanyakan, karya Teo beraliran kontemporer. Pernuh warna, corak dan bentuk yang tidak biasa.
“Beberapa lukisan di tembok ruang tamu ini lukisan saya, aliran kubistik. Bagian dari kontemporer,” terang suami dari Fitriyatul Ainiyah ini.
Melukis baginya bukan sekedar hobi. Tapi sudah menjadi pekerjaan utamanya, selain menjadi guru di SMK Tunas Informatika Gempol.
Bahkan, selama ini sejumlah karya lukisnya langganan ikut kegiatan pameran lukis. Antara lain di sekitaran Pasuruan, Surabaya, Sidoarjo, Batu, Malang dan daerah lain.
Yang menarik, Teo belajar melukis dengan cara otodidak. Sejak SD, dia sudah bisa melukis. Kemudian, kemampuannya itu dia kembangkan sendiri dengan bimbingan guru di sekolah.
“Ini bakat otodidak, karena mulai SD sudah bisa melukis. Bahkan sering ikut lomba mewakili sekolah dan sering menang,” cetus anak tunggal dari pasutri Suharto dan Nurhayati.
Sempat vakum tidak melukis saat SMP, toh Teo tidak bisa lama-lama jauh dari dunia melukis. Saat SMA dia kembali menekuni bakatnya itu. Bahkan, kemampuan melukisnya kian meningkat saat Teo kuliah di Unesa Surabaya Jurusan Pendidikan Seni Rupa.
Lelaki yang diwisuda tahun 2019 itu lantas mencoba dan mempelajarai beragam aliran lukisan. Dari sana, wawasannya akan lukisan terus bertambah.
“Setelah mempelajari banyak aliran meluki saat kuliah, akhirnya saya putuskan fokus ke kontemporer. Salah satunya kubistis dan pop art yang saya tekuni ini,” ujarnya.
Keputusannya menekuni aliran kubistis dan pop art, bukan tanpa alasan. Teo mengaku sangat tertarik pada gambar dengan beragam warna. Dan hal itu hanya bisa dipuaskannya melalui kubistis dan pop art.
Aliran itu banyak bermain dengan warna. Bahkan, pelukis bisa memunculkan warna dalam satu lukisan. Warna-warna tersebut lantas dipadukan sedemikian rupa hingga menjadi bentuk tertentu agar bisa dipahami orang.
“Selain itu, melukis kontemporer itu lebih longgar aturannya. Bahkan, cenderung tanpa aturan. Sehingga, lebih maksimal mengeksplorasi lukisan. Itulah kenapa, dalam satu objek gambar bisa memunculkan puluhan hingga ratusan warna,” lanjutnya.
Kini, sudah puluhan karya lukis dia hasilkan. Ada yang dijadikannya koleksi pribadi, juga ada yang dijual. Termasuk ada pula yang dibuat berdasarkan pesanan untuk dekorasi rumah, kafe dan ruangan lainnya.
Teo sendiri paling sering melukis di rumahnya. Rata-rata dia melukis pada malam hari saat luang. Sebab, di pagi hari dia memang harus mengajar di sekolah.
“Medianya pakai kanvas, pakai catnya akrilik. Objek atau temanya lebih suka buat situs-situs dan politik,” katanya.
Untuk satu karya lukis, ia garap paling lama tiga minggu dan paling cepat satu minggu. “Cepat atau tidaknya tergantung ukuran dan banyaknya warna,” ujarnya.
Sebagai pegiat seni, Teo bertekat tetap melukis selama masih mampu. Sebab, melukis baginya bukan sekadar hobi. Namun, juga bisa memberikan penghasilan tambahan.
“Melukis tidak ada bosannya bagi saya. Malah saya tertantang untuk terus berkarya,” pungkasnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin