Iwan Andrik, Beji
Berusaha tegar dan pasrah. Itulah yang dilakukan Achmad Bachrudin, 68, walau tahun ini tidak bisa berangkat haji. Warga Ngembe, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, itu sadar semua sudah ada yang mengatur. Termasuk kapan seseorang bisa menunaikan ibadah haji.
“Mulanya memang kecewa sekali. Sebab, tidak bisa berhaji bareng istri. Tapi kemudian saya ikhlaskan semuanya,” kata Bachrudin, panggilannya.
Juragan gabah itu sempat sangat bahagia saat mendapat kabar bahwa tahun ini ibadah haji bisa kembali dilakukan. Dia pun membayangkan bisa salat, tawaf, hingga lempar jumroh di Makkah.
Namun, kegembiraan itu hilang mendadak saat dia dinyatakan tidak bisa berangkat ke Kakbah. Sebabnya, usianya sudah lebih dari 65 tahun. Per tanggal 6 Agustus 2022, usianya genap 68 tahun. Kelebihan 3 tahun.
“Kecewa sekali. Tapi, mau bagaimana lagi. Kebijakannya seperti itu,” ungkapnya pasrah.
Bachrudin sendiri sudah lama menantikan ibadah ke tanah suci bersama istrinya, Watini Nani, 61 tahun. Mereka mendaftar haji bersama tahun 2011.
Sesuai kuota, mereka diagendakan berangkat bersama ke Makkah pada 2020. Namun, semuanya tertunda karena pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Makkah ditutup sementara, bahkan sampai tahun 2021.
“Waktu itu kan awal-awal pandemi Covid-19. Rencana berangkat 2020, akhirnya tertunda. Padahal, kami sudah menunggu lama. Tapi ternyata gagal terbang ke Makkah,” aku jamaah KBIH Al Makruf ini.
Dan saat akhirnya Pemerintah Kerajaan Arab Saudi membuka kembali ibadan haji, dia malah gagal berangkat. Sementara istrinya, Watini Nani masuk dalam daftar kuota berangkat tahun ini.
Dia pun mengizinkan istrinya berangkat sendirian. Daripada harus ditunda seperti pasangan lain, hanya agar bisa berangkat bersama. Sementara tidak ada yang bisa memastikan, kapan calon jamaah haji (CJH) bisa berangkat. Bahkan, walaupun dua tahun sebelumnya sudah masuk daftar berangkat, seperti dirinya.
“Biar istri saya berangkat duluan. Mumpung ada kesempatan. Tidak perlu menunggu berangkat bareng. Karena tidak ada kepastian, tidak pula ada jaminan kapan saya bisa berangkat. Apalagi usia terus bertambah, terus menua. Saya ikhlas saja,” tuturnya.
Ia pun tak merasa khawatir istrinya berangkat duluan. Karena ada rekannya dan pendamping haji yang akan menemani selama di Makkah.
“Apa yang perlu dikhawatirkan? Bagi saya tidak ada masalah. Karena kan ada teman dan pendamping jamaah,” simpulnya.
Di sisi lain, Watini mengaku siap berangkat berhaji. Mulanya, ia memang sempat kecewa. Karena tidak bisa berangkat bareng suami. Namun, hal itu tak lagi menjadi masalah. Apalagi, suaminya sudah mengikhlaskannya.
“Suami kan sudah ikhlas. Jadi, saya tidak sabar untuk bisa berangkat ke tanah suci,” ungkap dia.
Baginya, dengan jumlah jamaah yang terbatas tentu akan menjadi hal berbeda. Ia menilai akan lebih leluasa. Makkah akan lebih longgar. Tentu akan lebih nyaman untuk beribadah.
“Lebih longgar kayaknya. Jadi lebih leluasa untuk beribadah,” tuturnya sembari tertawa penuh canda. (hn) Editor : Ronald Fernando