Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mbah Dul Dikenang karena Sederhana dan Penuh Karomah

Jawanto Arifin • Sabtu, 30 April 2022 | 17:45 WIB
ZIARAH: Salah seorang warga berziarah ke makam Mbah Dul di Dusun Banjar Tempuran, Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Inset, lukisan Mbah Dul, ketika masih hidup. (Foto: Rizal Fahmi Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
ZIARAH: Salah seorang warga berziarah ke makam Mbah Dul di Dusun Banjar Tempuran, Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Inset, lukisan Mbah Dul, ketika masih hidup. (Foto: Rizal Fahmi Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
MBAH Dul, telah meninggal sejak 21 tahun lalu. Namun, masih banyak “dikunjungi” orang. Banyak peziarah ke makamnya. Pendiri Pondok Beduk, ini dikenal sebagai sosok sederhana, namun penuh karomah.

Nama lengkapnya K.H. Abdullah Rofi’i. Namun, warga mengenal dan memanggilnya dengan sapaan akrab Mbah Dul. Kiai sederhana itu, semasa kecil tinggal dan besar di Kampung Kandang Sapi, Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.

Kemudian memiliki pondok di Dusun Banjar Tempuran, Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Mbah Dul meninggal pada 2001 lalu dalam usia 74 tahun.

“Semasa hidup, beliau sosok istimewa dan sederhana. Bukan orang biasa. Melainkan seorang kiai dan miliki banyak karomah,” ujar salah seorang santri Mbah Dul, Arifin, 40.

Karena itu, tak heran, setelah Mbah Dul wafat, makamnya tak pernah sepi peziarah. Baik dari sekitar Pasuruan, maupun dari luar daerah. Bahkan, ada yang dari luar Jawa. Seperti Kalimantan. “Paling ramai pas bulan Rajab, bersamaan haul akbar. Banyak orang menyebutnya seorang wali jadab,” jelasnya.

Ketika masih hidup, Mbah Dul punya banyak santri. Mencapai puluhan orang. Mereka tinggal di pesantren yang disediakan Mbah Dul. Berada dalam satu lokasi dengan makam beliau. Yakni, di Dusun Banjar Tempuran, Desa Banjarkejen.

Santrinya juga banyak berasal dari luar daerah. Seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. Termasuk dari Kalimantan. “Nama ponpesnya Beduk. Kami, para santri selama mondok tidak dipungut biaya atau gratis. Makan dan pakaian, bahkan diberi. Ditanggung semua sama Mbah Dul,” katanya.



Bersamaan dengan meninggalnya Mbah Dul, kegiatan di pesantren mandek. Kini, tinggal bangunannya saja. Sejumlah bangunan bekas asrama santri itu, dimanfaatkan para peziarah untuk istirahat.

“Beliau belum berumah tangga. Jadi, penerusnya tidak ada. Termasuk aktivitas pondok pun mandek,” ujarnya.

Semasa hidup, kata Arifin, Mbah Dul membimbing santri untuk mengaji kitab. Di luar itu, lebih sering dan banyak ke ngaji lisan. Berupa nasihat. Meski memiliki sejumlah santri, Mbah Dul jarang ke pesantren. Ia lebih sering tinggal di Kandang Sapi, Kelurahan Kidul Dalem.

“Salah satu karomah-nya. Dulu saya pernah jatuh dari bangunan pondok di tingkat tiga. Oleh Mbah Dul ditarik dan diusap dengan tangan beliau. Seketika itu langsung sembuh,” tuturnya.

Adapun wasiat Mbah Dul kepada para santrinya, kata Arifin, yakni meminta santri untuk tidak lalai dalam salat lima waktu berjamaah. Serta, meminta untuk memperbanyak salawat. “Kata beliau, agar tenang, rezeki lancar, dan menemukan kedamaian hidup,” bebernya.

Sosok Mbah Dul sebagai kiai sederhana dan penuh karomah, juga dituturkan oleh Maksum. Salah seorang warga Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan. Bahkan, katanya, orang-orang di Bangil dan Pandaan menyebutnya seorang wali.

Mbah Dul jarang berdakwah. Malah sering jalan-jalan ke Pasar Bangil dengan pakaian sederhana. Bahkan, bajunya tidak pernah dikancingkan. “Saat di pasar, orang yang dimintai uang sama beliau biasanya rezekinya tambah lancar. Dan, itu dipercaya salah satu karomah dimiliki Mbah Dul,” ujarnya.



Cerita lainnya, kata Maksum, pernah suatu ketika, saat itu musim haji. Banyak jamaah yang berhaji kenal atau sekadar mengetahui Mbah Dul. Nah, banyak di antara mereka yang mengaku melihat Mbah Dul juga berada di Makkah. Padahal, saat itu Mbah Dul, tidak ke mana-mana.

“Pas meninggalnya, pelayat yang datang takziah hingga ribuan orang. Sepanjang jalan penuh dan berdesakan,” ujarnya. (rizal fahmi syatori/rud) Editor : Jawanto Arifin
#mbah dul banjarkejen