Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gus Fatih Bangun Manajemen Pesantren agar Lebih Kokoh

Jawanto Arifin • Sabtu, 30 April 2022 | 18:11 WIB
MASIH MUDA: Gus Mochammad Al Fatih, ketua Yayasan Badridduja di kantor yayasan. (Foto: Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
MASIH MUDA: Gus Mochammad Al Fatih, ketua Yayasan Badridduja di kantor yayasan. (Foto: Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
GUS Mochammad Al Fatih, 27, merupakan cucu dari pendiri Pesantren Badridduja, Kelurahan Kraksaan Wetan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Meski masih muda, kini dia dipercaya menjadi ketua Yayasan Badridduja.

Usianya masih muda. Namun, pengalaman dan dedikasinya untuk turut mengembangkan pesantren tidak perlu diragukan. Mendapat amanat menjadi ketua Yayasan Badridduja, membuat Gus Fatih terpacu untuk terus berkontribusi maksimal.

Pria berkacamata ini merupakan cucu pendiri Pesantren Badridduja, K.H Badri Masduqi. Gus Fatih, putra pertama pasangan suami-istri K.H. Musthofa Badri Masduqi dan Nyai Hj. Nurul Hafshoh.

Photo
Photo
MASIH MUDA: Gus Mochammad Al Fatih merupakan cucu pendiri Pesantren Badridduja, K.H Badri Masduqi. (Foto: Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

Ia besar di Malang. Di Pesantren Al-Munawariyah Bululawang, Malang, rumah asal Nyai Hj. Nurul Hafshoh. Memiliki latar belakang pesantren, Gus Fatih digembleng agar paham mengenai agama sebagai fondasi. Pada 2003-2006, ia mengeyam pendidikan di Muqoddasah Gontor.

“Saya sempat belajar di Gontor selama empat tahun untuk mempelajari dan mendalami Alquran,” ujarnya, Kamis (28/4).



Setelah mondok empat tahun, Gus Fatih kembali ke Malang. Melanjutkan pendidikannya di MAN 3 Malang. Masuk kelas akselerasi, membuatnya dapat lulus lebih cepat. Hanya dalam waktu dua tahun, sudah dinyatakan lulus.

Lulus SMA, kembali ke pesantren. Saat itu, belajar di Pesantren Al-Fatah Magetan. Namun, tidak sampai setahun memilih untuk melanjutkan pendidikan sarjana. Gus Fatih mengambil Jurusan Manajemen Keuangan di Universitas Indonesia.

“Semua pendidikan yang saya tempuh abah dan umi merestui. Bahkan, memberikan pandangan jika saya harus memperoleh pendidikan tidak hanya di pondok, tetapi juga ilmu umum di luar pondok,” katanya.

Gus Fatih memiliki pemikiran maju dan lebih modern. Bahwa, untuk mengembangkan pesantren bukan hanya dari sistem pembelajaran yang diterapkan. Ada hal penting lain yang perlu ditata dengan baik, perlu manajemen yang tepat. Agar eksistensi dan perkembangan pesantren dari segi sarana prasarana dapat terlaksana serta terus meningkat.

Selepas lulus dan menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE), Gus Fatih tidak buru-buru kembali ke pondok. Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan pajak selama empat tahun. Masa yang cukup lama. Hingga akhirnya diminta pulang oleh keluarganya untuk mengurus pesantren.

“Pengalaman di bidang manajamen sudah lumayan banyak. Akhirnya diminta pulang, permintaan itu pun saya turuti. Sepeninggal Kiai Muzayyan, saya diberikan amanah untuk menjadi ketua Yayasan Badridduja,” jelasnya.

Banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya agar yayasan menjadi lebih maju. Perlahan dilakukanlah revitalisasi yayasan. Pesantren Badridduja memiliki sejumlah lembaga pendidikan yang harus tetap berkembang. Selain pesantren, juga ada SMP-SMA; MTs-MA; serta Program Tahfiz dan Madrasah Diniyah.



“Inilah yang saya bilang tugas di pondok bukan hanya mengajar, tetapi juga harus bisa memastikan lembaga tetap jalan dan berkembang. Karena itulah, setiap anak cucu pendiri diberikan amanah sesuai bidang dan kemampuannya,” jelasnya.

Menurutnya, pekerjaan yang paling berat sebagai ketua yayasan adalah bagaimana caranya membuat lembaga yang sebelumnya sudah berdiri memiliki manajemen yang baik. Mulai dari manajemen keuangan untuk menghidupi lembaga dan mengembangkan lembaga agar lebih maju. Juga fasilitas, sarana, dan prasarananya turut diperhatikan.

Untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) santri yang unggul, selain memiliki tenaga pendidik yang mumpuni, juga harus memiliki sarana pendukung yang baik. Saat ini jumlah santri putra dan putri di Pesantren Badridduja telah mencapai 650 orang. Untuk menciptakan rasa nyaman saat mondok, fasilitas juga harus dilengkapi.

“Sebenarnya banyak santri yang ingin masuk ke pesantren, tapi karena memang sarana dan prasarana masih terbatas, maka masih kami batasi. Ini menjadi tantangan. Semoga bisa diberikan kemampuan untuk menjalankan amanah,” harapnya. (achmad arianto/rud) Editor : Jawanto Arifin
#pesantren badridduja #probolinggo #Kraksaan