Usianya masih muda. Namun, pengalaman dan dedikasinya untuk turut mengembangkan pesantren tidak perlu diragukan. Mendapat amanat menjadi ketua Yayasan Badridduja, membuat Gus Fatih terpacu untuk terus berkontribusi maksimal.
Pria berkacamata ini merupakan cucu pendiri Pesantren Badridduja, K.H Badri Masduqi. Gus Fatih, putra pertama pasangan suami-istri K.H. Musthofa Badri Masduqi dan Nyai Hj. Nurul Hafshoh.
Ia besar di Malang. Di Pesantren Al-Munawariyah Bululawang, Malang, rumah asal Nyai Hj. Nurul Hafshoh. Memiliki latar belakang pesantren, Gus Fatih digembleng agar paham mengenai agama sebagai fondasi. Pada 2003-2006, ia mengeyam pendidikan di Muqoddasah Gontor.
“Saya sempat belajar di Gontor selama empat tahun untuk mempelajari dan mendalami Alquran,” ujarnya, Kamis (28/4).
Setelah mondok empat tahun, Gus Fatih kembali ke Malang. Melanjutkan pendidikannya di MAN 3 Malang. Masuk kelas akselerasi, membuatnya dapat lulus lebih cepat. Hanya dalam waktu dua tahun, sudah dinyatakan lulus.
Lulus SMA, kembali ke pesantren. Saat itu, belajar di Pesantren Al-Fatah Magetan. Namun, tidak sampai setahun memilih untuk melanjutkan pendidikan sarjana. Gus Fatih mengambil Jurusan Manajemen Keuangan di Universitas Indonesia.
“Semua pendidikan yang saya tempuh abah dan umi merestui. Bahkan, memberikan pandangan jika saya harus memperoleh pendidikan tidak hanya di pondok, tetapi juga ilmu umum di luar pondok,” katanya.
Gus Fatih memiliki pemikiran maju dan lebih modern. Bahwa, untuk mengembangkan pesantren bukan hanya dari sistem pembelajaran yang diterapkan. Ada hal penting lain yang perlu ditata dengan baik, perlu manajemen yang tepat. Agar eksistensi dan perkembangan pesantren dari segi sarana prasarana dapat terlaksana serta terus meningkat.
Selepas lulus dan menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE), Gus Fatih tidak buru-buru kembali ke pondok. Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan pajak selama empat tahun. Masa yang cukup lama. Hingga akhirnya diminta pulang oleh keluarganya untuk mengurus pesantren.
“Pengalaman di bidang manajamen sudah lumayan banyak. Akhirnya diminta pulang, permintaan itu pun saya turuti. Sepeninggal Kiai Muzayyan, saya diberikan amanah untuk menjadi ketua Yayasan Badridduja,” jelasnya.
Banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya agar yayasan menjadi lebih maju. Perlahan dilakukanlah revitalisasi yayasan. Pesantren Badridduja memiliki sejumlah lembaga pendidikan yang harus tetap berkembang. Selain pesantren, juga ada SMP-SMA; MTs-MA; serta Program Tahfiz dan Madrasah Diniyah.
“Inilah yang saya bilang tugas di pondok bukan hanya mengajar, tetapi juga harus bisa memastikan lembaga tetap jalan dan berkembang. Karena itulah, setiap anak cucu pendiri diberikan amanah sesuai bidang dan kemampuannya,” jelasnya.
Menurutnya, pekerjaan yang paling berat sebagai ketua yayasan adalah bagaimana caranya membuat lembaga yang sebelumnya sudah berdiri memiliki manajemen yang baik. Mulai dari manajemen keuangan untuk menghidupi lembaga dan mengembangkan lembaga agar lebih maju. Juga fasilitas, sarana, dan prasarananya turut diperhatikan.
Untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) santri yang unggul, selain memiliki tenaga pendidik yang mumpuni, juga harus memiliki sarana pendukung yang baik. Saat ini jumlah santri putra dan putri di Pesantren Badridduja telah mencapai 650 orang. Untuk menciptakan rasa nyaman saat mondok, fasilitas juga harus dilengkapi.
“Sebenarnya banyak santri yang ingin masuk ke pesantren, tapi karena memang sarana dan prasarana masih terbatas, maka masih kami batasi. Ini menjadi tantangan. Semoga bisa diberikan kemampuan untuk menjalankan amanah,” harapnya. (achmad arianto/rud) Editor : Jawanto Arifin