Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gus Muhlis, Pesantren Miftahul Ulum Tempuran Pertahankan Tarekat Attijani

Ronald Fernando • Kamis, 28 April 2022 | 19:33 WIB
PERTAHANKAN SALAF: Gus Moch Muhlis.
PERTAHANKAN SALAF: Gus Moch Muhlis.
Di usia yang masih muda, Gus Moch. Muhlis sudah mengemban amanah besar. Menjadi Pengasuh Pesantren Miftahul Ulum di Dusun Lampean, Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran Kabupaten Probolinggo.

 

GUS Muhlis –sapaan akrabnya- tumbuh di lingkungan pesantren. Pria kelahiran 9 Juli 1990 itu merupakan putra pertama dari pengasuh pesantren kala itu. Pada usia 24 tahun, Gus Muhlis pun harus melanjutkan perjuangan orang tuanya untuk mengelola pesantren.

Sebab, pada 2014 lalu, KH. Muhammad, abah Gus Muhlis wafat. Sehingga tongkat estafet itu pun digenggam Gus Muhlis hingga saat ini.

Meski masih belia, namun Gus Muhlis tak gugup. Sebab, kedua orang tuanya telah jauh-jauh hari menyiapkan anak-anaknya agar kelak memimpin pesantren setempat.

Sejak kelas 4 MI (Madrasah Ibtidaiyah), Gus Muslih belajar di Pesantren Roudlotut Tholibin, Kademangan, Kota Probolinggo. Saat itu, orang tuanya lebih menekankan pendidikan agama ketimbang sekolah formal. Meskipun dirinya tetap mengenyam pendidikan formal hingga lulus SMA Sunan Giri.

“Sejak kecil, saya sudah dipondokan oleh orang tua. Mungkin alasan itu juga, orang tua ingin saya mondok dan fokus mendalami ilmu agama kitab kuning dan lainnya di pesantren," kenang Gus Muhlis.

Sejak ditinggalkan orang tuanya, Gus Muhlis lebih memfokuskan untuk mengelola dan mengembangkan yayasan pesantrennya. Di pesantren Miftahul Ulum, tidak hanya ada kegiatan belajar dan pengajian kitab kuning saja. Tetapi, juga ada lembaga pendidikan formalnya. “Di pondok, ada pendidikan agama nonformal, juga ada lembaga pendidikan formal,” terangnya.



Saat ini, usia Gus Muhlis sudah beranjak 32 tahun. Ia bertekad tetap melanjutkan adat pendidikan pesantren yang dulu ditanamkan orang tuanya. Yaitu, para santri lebih ditekankan pada pendidikan nonformal kajian kitab kuning salaf.

Sedangkan lembaga formal, merupakan pelengkap untuk para santri. “Kami tetap fokus dan tekankan pembelajaran kitab kuning salaf. Sama seperti perjuangan Abah dulu,” ungkapnya.

Selain itu, dikatakan Gus Muhlis, dirinya juga mengembangkan atau berdakwah melalui pertemuan pemahaman tarekat. Yaitu, Manaqib Syeikh Ahmad bin Muhammad Attijani.

Sebab, orang tua, bahkan sesepuhnya di pesantren tersebut mengamalkan tarekat Attijani. “Melalui pertemuan Tarekat Attijani itu juga, kami berdakwah dan memberikan pemahaman tentang agama Islam pada masyarakat. Masyarakat di desa akan lebih mudah menerima tentang pemahaman ajaran agama Islam,” terangnya.

Di tengah perkembangan zaman dan pergaulan yang semakin bebas, Gus Muhlis mengaku, dirinya melalui pertemuan tarekat Attijani ataupun di dalam pesantren sendiri, mengajarkan pemahaman ilmu tasawuf. Sehingga masyarakat bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui ajaran Agama.

“Saya juga ikuti perkembangan teknologi untuk sebarkan dakwah. Tetapi, lebih fokus pada santri dan masyarakat langsung. Karena, di desa sekitar pesantren sendiri masih banyak yang membutuhkan pemahaman soal agama ini,” ungkapnya. (mas/mie) Editor : Ronald Fernando
#gus milenial #ponpes probolinggo