SETIAP perempuan pasti memiliki bakat ataupun potensi. Meski tak sama, namun potensi itu seharusnya bisa diasah. Agar memiliki skill yang mumpuni.
Dari keterampilan itulah akan terbentuk kemandirian. Sehingga perempuan juga bisa menopang perekonomian keluarga. Itulah yang ditanamkan Ning Hurin Ain kepada santrinya di Pesantren K.H.A. Wahid Hasyim Bangil.
Para santriwati tidak hanya dibekali ilmu agama yang mumpuni. Tetapi, juga dilengkapi dengan keterampilan yang memadai. “Ini akan menjadi bekal bagi para santriwati ketika lulus. Mereka bisa mengembangkan bakatnya, sehingga diharapkan dapat membantu untuk memperbaiki ekonomi keluarga," ujar Ning Ririn -sapaan Hurin Ain-.
Ning Ririn merupakan salah satu pengasuh Pesantren K.H.A Wahid Hasyim Bangil. Anak kedua dari pasangan almarhum K.H. Khoiron Syakur dan Hj. Siti Aisyah, ini kini menjadi kepala Asrama.
Sebagai seorang putri pendiri Yayasan Pesantren K.H.A Wahid Hasyim Bangil, dunia pesantren sudah tak asing. Sejak kecil, Ning Ririn sudah berkecimpung di dunia pesantren. Tak hanya di pesantren asuhan ayahnya, ia juga sempat nyantri di Pesantren Al Mawadah Ponorogo.
Di Ponorogo hanya enam bulan. Katanya, karena di sana sering sakit, akhirnya pindah ke Pesantren Al Munawwariah Malang. Udara segar di Malang, rupanya cocok dengan kondisinya. Ia kerasan. Di sana, mondok tiga tahun.
Kemudian melanjutkan studi ke tingkat Madrasah Aliyah di Pesantren Krapyak, Jogjakarta. Setelah lulus, melanjutkan studinya di sekolah tahfiz di Wonosobo. Selama tujuh bulan, Ning Ririn belajar menghafal Alquran. Pada 2000, ia memilih memperdalam ilmu bahasa Inggris di Universitas Jember (Unej). Selama lima tahun, Ning Ririn ngampus di Unej. Ia dinyatakan lulus dengan gelar Sarjana Bahasa Inggris pada 2005.
Setelah melanglang buana dari pesantren ke pesantren dan dunia kampus, Ning Ririn pulang kampung. Membantu mengurus pondok. Karena sebelumnya, semua urusan pondok ditangani abinya, Almarhum K.H. Khoiron Syakur.
“Kasian Abi, kalau harus mengurus semuanya. Makanya saya memilih mengabdi di Ponpes Waha (Wahid Hasyim)," ujar perempuan kelahiran 1982 silam tersebut.
Dipercaya mengurus pesantren, Ning Ririn terus berinovasi. Salah satunya menyediakan ekstrakurikuler, pendidikan komputer, hingga partisipasi dalam lomba Agustusan tingkat kecamatan. Artinya, tidak hanya ilmu agama murni yang dipelajari. Tetapi, beragam ilmu pengetahuan.
Ternyata, santriwati Pesantren Waha menjadi yang diperhitungkan. Mereka mampu memenangi banyak perlombaan. "Awalnya memang santriwati di sini tidak boleh keluar atau mengikuti lomba-lomba. Tetapi, begitu tampil dengan raihan juara, Abi senang. Sejak itu, Abi mendukung," ujar ibu tiga anak ini
Dengan bekal ilmu bahasa Inggris, ia juga menyediakan pendidikan bahasa Inggris di pesantren. Pembelajaran ini dipadukan dengan bahasa Arab. Ia berkolaborasi dengan suaminya yang merupakan lulusan bahasa Arab.
Namun, hal itu tak berlangsung lama. Hanya setahun. Karena dianggap tidak sesuai dengan visi misi terdahulu, sehingga program pendidikan bahasa Inggris dihentikan. Diganti untuk menyiapkan santriwati dalam memiliki kesiapan untuk menikah.
Program itu pun akhirnya diubah. Dengan pembelajaran ekstrakurikuler keputrian. Program ini wajib diikuti semua santriwati. Ada 12 ekstra wajib. Mulai tata boga, kerajinan pembuatan mahar, merias, dan beragam keterampilan keputrian lainnya. “Di luar itu, juga ada ekstra tambahan seperti albanjari, kaligrafi, qiroati, dan lainnya,” jelasnya.
Berkat pelajaran tambahan ini, banyak lulusan Pesantren WAHA yang sukses. Ada yang menjadi make up artist (MUA), pengusaha kue atau makanan, dan yang lainnya.
Bukan hanya itu, lulusan WAHA juga bisa menempuh pendidikan umum ketika kuliah. Jurusan yang diambil tidak melulu berkaitan dengan pendidikan Islam.
Ning Ririn menambahkan, inovasi memang tak boleh berhenti. Hal itu pula yang dilakukan di Ponpes WAHA. Terbukti, dari yang semula hanya terdapat madrasah diniyah (Madin) dan Taman Kanak-kanak (TK), kini sudah berkembang ada MTs, MA, hingga SMK. Bahkan, juga ada playgroup dan penitipan anak.
Jumlah santriwati juga terus bertambah. Mencapai ratusan santri. “Di sini lengkap dan amalan mereka banyak. Ada empat bekal. fikih, akhlak, ilmu umum, dan keterampilan,” ujarnya. (iwan andrik/rud) Editor : Ronald Fernando