Gus Nawawi lahir dan besar di lingkungan pesantren. Ia merupakan putra ketiga dari Pengasuh Pesantren Miftahul Ulum An Nur, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Kiai Nur Khotim Bahar.
Ketika beranjak remaja, Gus Nawawi dikirim ke Pesantren Salafiyah Sladi, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, untuk memperkaya pengetahuannya. Di sana, ia nyantri selama sembilan tahun. Pulang langsung menikah dengan Ning Fasihatul Lisan.
Sejak 2010, Kiai Nur Khotim Bahar memberinya amanat. Pria 39 tahun ini didapuk menjadi kepala Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Ulum. Sejumlah gebrakan dilakukan untuk mengembangkan pesantrennya. Termasuk berdakwa menyiarkan Islam dan pesantren.
Ia tetap menekankan santri belajar dan mengkaji kitab-kitab klasik sebagai ruh pesantren salaf. Pengetahuan dari kitab-kitab tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena pesantren juga memiliki pendidikan formal, santri juga diberikan pemahaman tentang teknologi. Termasuk dunia internet. Namun, tetap difilter. Diberikan sesuai kebutuhan. Santri diajarkan dan diberikan kesempatan berselancar di dunia maya. Tetapi, tetap dalam pengawasan para pengurus pesantren.
“Pesantren saat ini berbeda dengan pesantren zaman dulu. Saat ini santri harus visioner. Mereka memiliki pandangan pendidikan yang maju ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, kini pandangan masyarakat terhadap dunia pesantren mulai bergeser. Dulu pesantren dipandang hanya bertujuan mencetak kiai atau ustadz. Namun, kini banyak lulusan pesantren yang juga berkecimpung dalam dunia pemerintahan hingga menjadi pengusaha.
Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Probolinggo, ini mengatakan, kini banyak masyarakat yang melihat dakwah Islam melalui media sosial. Namun, terkadang yang mereka pelajari tidak memiliki sanad keilmuan yang jelas. Sehingga, saat dibawa ke tengah masyarakat terjadi perbedaan dan menimbulkan pertikaian.
Karena itu, kini santri di pesantrennya juga dibekali kemampuan berselancar di media sosial. Mereka diminta menyebarkan postingan dan video dakwah tentang Islam dari Pesantren Miftahul Ulum. Baik melalui Facebook ataupun Instagram.
“Sehingga, masyarakat yang suka melihat dakwah lewat media sosial, bisa tercerahkan. Mereka bisa mendapatkan ilmu agama dari sanad yang jelas,” terangnya.
Ia mengaku tidak banyak memanfaatkan media sosial untuk komersialisasi pesantren. Selama ini, Pesantren Miftahul Ulum, dikenal oleh masyarakat dari mulut ke mulut dan dikenalkan oleh santri yang mondok.
“Konten dakwah rutin lewat media sosial juga upaya kami untuk mensyiarkan Islam dan pesantren. Para santri biasanya yang membagikan konten itu ke keluarganya,” jelas Gus Nawawi. (fahrizal firmani/rud) Editor : Jawanto Arifin