Mbah Slagah sebenarnya bernama asli Sayyid Hasan Sanusi. Lahir di Keboncandi, Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, sekitar abad 17. Memang, tidak ada rujukan yang pasti mengenai hal ini. Perkiraan kelahiran Mbah Slagah pada abad 17 lantaran ia hidup sezaman dengan kepemimpinan Nitiadiningrat yang kala itu menjabat sebagai Adipati Pasuruan.
Ia merupakan putra dari Sa’ad bin Syakaruddin bin Sholeh Semendi bin Hasanuddin bin Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati. Semasa hidupnya, Mbah Slagah seorang mubalig dan penyebar agama Islam. Bahkan, ia tidak hanya berdakwah di wilayah Pasuruan. Melainkan sampai ke Malang.
“Saat berdakwah di Malang, Mbah Slagah lalu diminta Adipati Pasuruan untuk membantu peperangan melawan penjajah Belanda,” kata Ketua Pengurus Makam Mbah Slagah, Ali Iqbal.
Lantaran itu, Mbah Slagah lalu bermukim di sebuah wilayah yang saat ini dikenal dengan Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Sejak berdakwah di Malang, ia sudah dikenal orang dengan nama Mbah Slagah. Nama Slagah sendiri berarti singa putih.
“Entah memang ilmu kesaktiannya bernama macan putih atau bagaimana lantas disematkan menjadi panggilan Mbah Slagah,” kata Ali.
Konon, nama Slagah itu disematkan lantaran kesaktian Mbah Slagah yang bisa menampakkan diri seperti singa putih. Siap menerkam lawannya.
Setelah bermukim di Kebonsari, Mbah Slagah yang saat itu diminta Adipati Pasuruan Nitiadiningrat atau Raden Surga Surgi, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berperang melawan penjajah. Saat itu, penjajah menggencarkan serangan dan memasuki wilayah Pasuruan dari jalur laut. Mereka bertempur di kawasan pesisir Pasuruan.
Kendati demikian, perjuangan Mbah Slagah melawan penjajah tak sia-sia. Meski adiknya, Mbah Khotib meninggal di tangan penjajah. Jasadnya lantas dimakamkan di Mayangan, Kecamatan Panggungrejo.
Mbah Slagah pula yang kemudian berperan dalam pembangunan Masjid Agung Al Anwar bersama Adipati Pasuruan. Mbah Slagah kala itu merasa belum ada masjid utama di Pasuruan yang dapat dijadikan tempat beribadah jamaah. Ia sempat ingin membangun sebuah masjid di kawasan Kebonsari. Namun, akhirnya Adipati Pasuruan memberikan sebidang tanah untuk pembangunan masjid di dekat Alun-alun Pasuruan.
Namun begitu, ia tak dimakamkan di kompleks makam belakang masjid itu. “Padahal, sebenarnya beliau sangat berhak dimakamkan di sana. Dzurriyahnya pun dimakamkan di sana,” kata Ali. Mbah Slagah justru dimakamkan di Kelurahan Pekuncen.
Karena Selamat dari Kejaran Penjajah
Bukan tanpa alasan mengapa Mbah Slagah kemudian dimakamkan di kawasan yang sekarang dikenal dengan kompleks Makam Mbah Slagah di Jalan Pahlawan, Kelurahan Pekuncen. Sebab, itu sudah jadi pesan Mbah Slagah kepada keluarganya.
Semua bermula ketika Mbah Slagah bertempur dengan penjajah.
Syahdan, Mbah Slagah dalam keadaan dikejar-kejar penjajah. Dan di tengah pelariannya itu ia masuk ke permukiman. Hingga kemudian bersembunyi di rumah warga.
Pemilik rumah itu namanya Raden Ayu Beri. Lalu, Mbah Slagah diminta bersembunyi di balik kain saat Raden Ayu Beri nyanting.
“Dan saat itu, Mbah Slagah tidak diketahui oleh penjajah. Saat bersembunyi beliau tidak terlihat oleh penjajah,” kata Ali.
Atas pertolongan Raden Ayu Beri pula, Mbah Slagah lolos dari kejaran penjajah. Merasa sudah berjasa, Mbah Slagah ingin membalas budi kepada Raden Ayu Beri.
“Kau sudah berjasa kepada saya. Apa yang kau pinta sekarang?” tanya Mbah Slagah. Dan Raden Ayu Beri pun meminta satu hal. “Berwasiatlah kepada keluargamu, bila kau meninggal mintalah dimakamkan di samping kuburku. Dan aku pun akan berwasiat serupa kepada keluargaku,” begitu permintaan Raden Ayu Beri.
“Dan kesepakatan itu benar-benar terjadi. Raden Ayu Beri meninggal lebih dulu, kemudian Mbah Slagah dimakamkan di sampingnya,” ungkap Ali.
Haul Mbah Slagah yang bertepatan pada 8 Syawal diperingati saban tahun. Kecuali dalam dua tahun terakhir selama pandemi Covid-19 merebak. Namun, pada tahun-tahun yang lalu, kegiatan haul selalu dihadiri ribuan jamaah. Warga dari berbagai daerah bahkan ada yang berdatangan sejak malam hari sebelum haul dimulai. (muhamad busthomi/hn) Editor : Jawanto Arifin