Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Suka Duka Yuli Anisah Jadi Penyiar Radio, Masih Ingat Gaji Pertama Rp 25 Ribu

Jawanto Arifin • Rabu, 20 April 2022 | 16:07 WIB
SAPA PENDENGAR: Gaya Yuli Anisah saat siaran di tempatnya bekerja. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
SAPA PENDENGAR: Gaya Yuli Anisah saat siaran di tempatnya bekerja. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Sudah belasan tahun Yuli Anisah menjadi seorang penyiar radio. Itu adalah impiannya sejak dia masih remaja. Ia pernah merasakan saat profesi ini begitu diidolai. Setiap hari, ia selalu mendapatkan hadiah dari pendengar setia.

FAHRIZAL FIRMANI, Mayangan, Radar Bromo

SEORANG wanita itu nampak serius menatap monitor di hadapannya. Dengan intonasi tertata, dia mencoba untuk menyapa pendengar. Tidak jarang ia melemparkan lelucon ringan di sela-sela sapaan itu. Begitulah kegiatan rutin yang dilakukan Yuli Anisah sejak dia lulus dari bangku SMEA.

Ya, Yuli merupakan penyiar di Suara Kota Probolinggo. Hampir seluruh karirnya sebagai penyiar dilakukan di radio milik Pemkot Probolinggo itu. Meski tidak seaktif dulu, tapi Yuli masih rutin menyapa penggemarnya.

Photo
Photo
BELASAN TAHUN: Yuli Anisah sudah belasan tahun menjadi penyiar radio. Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Ia mengungkapkan keinginannya menjadi penyiar dimulai pada 1991. Saat itu, ia masih duduk di bangku SMP dan suka mendengarkan lagu dari radio. Nah, saat ia masuk di jenjang SMA, ia sempat main ke radio khusus pemerintah daerah (RKPD) yang berlokasi di perempatan Brak.

Karena seringnya nongkrong di RKPD, ia bisa kenal dengan penyiar di sana. Dari sini ia tahu cara menjadi penyiar. Keinginannya menjadi penyiar bisa terwujud saat ia lulus dari SMEA pada 1995. Ia memilih untuk melamar menjadi penyiar radio RKPD.



“Saya dinyatakan lulus. Gaji pertama saat itu Rp 25 ribu sebulan. Sebenarnya tidak cukup, karena untuk naik angkot sebulan itu butuh Rp 30 ribu. Cuma jadi penyiar itu passion,” ungkapnya.

Lalu, pada 1996, ia melamar di Angkasa Jaya Kota Probolinggo yang merupakan anak cabang dari Radio Surabaya. Beda dengan RKPD. Sebagai penyiar di radio swasta itu, ia mendapatkan gaji yang tinggi. Sebulan ia menerima Rp 300 ribu. Tesnya saat itu ia diminta untuk membaca teks.

Namun, ia hanya bertahan selama enam bulan saja. Gara-garanya ia ikut demo dengan penyiar senior untuk tuntutan mendapatkan kenaikan gaji. Dia masih ingat, saat itu dia memilih ikut demo karena takut. Apalagi saat itu statusnya adalah penyiar yang paling junior di antara penyiar lainnya.

“Saya sempat melamar untuk menjadi penyiar radio di Situbondo, Bhasa FM. Sebenarnya diterima. Cuma tidak saya masuki karena tidak dapat izin keluarga,” jelasnya.

Di tahun 1998, ia pun kembali ke RKPD Kota Probolinggo (kini menjadi Suara Kota) dengan bayaran Rp 30 ribu sebulan dan menjadi tenaga kontrak di Pemkot Probolinggo. Profesi ini terus ditekuninya sampai ia diangkat menjadi PNS pada 2008 dan tetap bertahan hingga kini.

“Saya ikut menyaksikan perkembangan radio dari masa ke masa. Awalnya, masih gelombang AM terus beralih ke FM. Dari dulunya masih pakai kaset, sampai sekarang pakai internet untuk lagu,” sebut Yuli.

Perempuan kelahiran Juli 1976 ini menyebut banyak perbedaan antara penyiar radio dulu dengan sekarang. Pada awal 2000 an, penyiar itu harus serba bisa. Selain bisa membawakan siaran radio, mereka juga harus bisa menghidupkan pemancar saat sewaktu-waktu padam.



Menurut Yuli, itu ini tidaklah mudah. Sebab saat itu, di sekeliling pemancar itu dipenuhi oleh sawah. Jadi tidak jarang, ia menemui tikus hingga ular saat harus menghidupkan pemancar. Kondisi ini dipahami sebab waktu itu tenaga memang terbatas, ini berbeda dengan saat ini.

“Waktu itu untuk mencari penyiar radio tidaklah mudah. Sebab, tesnya itu sulit. Kita harus sering improvisasi kalimat dan terbuka dengan pendengar. Tidak boleh pakai tema sama sehari-hari,” katanya.

Ibu tiga anak ini mengaku, banyak suka yang dialami sebagai penyiar radio. Pada awal 2000-an saat masa keemasan radio, seringkali ada artis ibukota datang sebagai bintang tamu. Ia pun pernah mewawancarai aktor seperti Doni Damara. Sehingga ia dengan mudah bisa foto bareng atau minta tanda tangan.

Tidak hanya bisa dekat dengan artis. Dia juga merasakan pengalaman menjadi seperti artis. Di awal 2000-an ia sering mendapatkan hadiah dari penggemar yang ingin bertemu untuk berfoto bersama. Tidak jarang, pendengar setianya mengirim uang atau hadiah demi bisa menyampaikan salam pada pacar atau gebetannya.

Ini berbeda dengan zaman sekarang di mana setiap orang sudah memiliki smartphone. Sehingga tidak ada lagi yang menitipkan salam lewat radio. Agar bisa menarik minat masyarakat, radio saat ini bisa dinikmati online lewat smartphone. Berbagai inovasi juga dilakukan seperti membuat podcast.

“Memang berbeda sekali. Ya karena kemajuan teknologi. Kaset kan mahal tidak semua bisa beli, kalau sekarang ada smartphone. Cuma penikmat radio masih ada, biasanya sebagian tetap mendengarkan untuk menemani kerja,” tutup perempuan yang tinggal di Jalan S Parman ini. (fun) Editor : Jawanto Arifin
#penyiar radio #radio suara kota probolinggo