Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gus Husni, Jaga Eksistensi Kajian Kitab Klasik di Era Modernisasi

Jawanto Arifin • Senin, 18 April 2022 | 20:17 WIB
KAJI KITAB KLASIK: Gus Husni Mubaroq, ketika mengaji Kitab Nadam Safina, karangan K.H. Moh. Hasan Genggong. (Foto: Gus Husni Mubaroq for Jawa Pos Radar Bromo)
KAJI KITAB KLASIK: Gus Husni Mubaroq, ketika mengaji Kitab Nadam Safina, karangan K.H. Moh. Hasan Genggong. (Foto: Gus Husni Mubaroq for Jawa Pos Radar Bromo)
MERAWAT dan menjaga eksistensi pesantren tak semudah membalik telapak tangan. Butuh pengorbanan dan perjuangan ekstra. Itulah yang kini dilakukan sejumlah Pengasuh Pesantren Raudlatul Mutaallimin, Kota Probolinggo. Termasuk Gus Husni Mubaroq.

Sejak pulang dari Jogjakarta dan menetap di Kota Probolinggo, Gus Husni Mubaroq membantu keluarga besarnya merawat dan mengembangkan Pesantren Raudlatul Mutaalimin. Kala itu, pesantren warisan orang tuanya ini diasuh oleh kakaknya, K.H. Ibnu Athoillah.

Gus Husni mengatakan, tidak mudah menjalani dan meneruskan perjuangan sang ayah serta keluarga dalam merintis pesantren. Apalagi, orang yang dituakan sudah meninggal dunia. Karenanya, kini sejumlah generasi penerusnya terus berjuang untuk menjaga eksistensi dan mengembangkan pesantren.

Pesantren yang berdiri di Kelurahan/Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, ini didirikan oleh Almarhum K.H. Marzoeqi. Pada 1998, alumni Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, itu meninggal dunia pada usia 63 tahun. Ia meninggalkan tujuh orang putra dan putri.

Kepemimpinan pesantren ini pun dilanjutkan oleh putranya, K.H. Ibnu Athoillah. Pada 2015, Kiai Ibnu Athoillah juga dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Kini, pesantren ini diasuh bersama oleh putra dan putri Almahum K.H. Marzoeqi. “Ayah mempunyai tujuh anak. Saya anak yang terakhir,” ujar Gus Husni.

Sebagai putra Kiai Marzoeqi, Gus Husni juga turut berusaha menjaga eksistensi dan mengembangkan pesantren. Salah satunya dengan tetap melaksanakan kegiatan, baik di pendidikan formal dan nonformal. Serta, melayani kebutuhan masyarakat. Seperti mengkaji kitab kuning, termasuk melakukan kegiatan pengajian di masyarakat atau sarweh.



Sarweh atau pengajian yang kami lakukan tidak semata membaca Yasin dan Tahlil, seperti pengajian biasanya. Ini sudah menjadi tradisi yang dilakukan mulai almarhum ayah. Dalam sarweh, kami juga membaca kitab fikih, Taklim Mutaalim, dan sebagainya,” jelasnya.

Menurutnya, meski zaman terus berkembang. Modernisasi merambah segala bidang. Termasuk kecanggihan teknologi yang seakan tak bisa dibendung, namun pesantren tidak boleh kehilangan ruhnya. Yakni, adanya pengajaran dan kajian-kajian kitab-kitab klasik atau kitab kuning.

Selain membimbing santri di pesantren, Gus Husni juga terjun dalam dunia pertanian. Di tingkat kelurahan, menjadi ketua kelompok tani dan di kecamatan menjadi sekretaris. Selain itu, juga Tim Pengembangan Petani dan Nelayan se-Kota Probolinggo.

“Kenapa saya bertani, karena dari dulu orang tua saya bisa menghidupkan pesantren dengan bertani dan melatih para santri belajar ilmu agama juga belajar pertanian untuk menghasil hasil panen yang memuaskan,” ujar Wakil Sekretaris di PC NU Kota Probolinggo ini.

Almarhum Kiai Marzoeqi memang merintis pesantren dari nol. Kini, lembaga pendidikan di pesantren ini cukup lengkap. Ada PAUD, TK, MI, MTs, MA, dan SMK. Selain itu, juga ada Madrasah Diniyah Ula dan Wustho.

Sibuk mengembangkan pesantren, Almarhum Kiai Marzoeqi tidak melepas apa yang ditekuninya sebagai sumber penghasilan. Yakni, bertani. “Ayah saya dari nol hingga punya tanah dan lainnya dari hasil pertanian. Karenanya, saya mengikuti serta terjun ke bidang pertanian seperti yang dilakukan almarhum,” ujar Gus Husni.



Selain mengajar di sejumlah lembaga pendidikan, sebagai salah satu dewan pengasuh, di internal pesantren, Gus Husni menjadi narahubung. Mengomunikasikan apa yang menjadi pola pikir bersama, sehingga memiliki persepsi yang utuh.

“Di eksternal, bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa kajian-kajian kitab masih tetap eksis. Salah satu upayanya tetap melakukan kegiatan rutinan meski sudah ditinggal pengasuh. Termasuk memanfaatkan dunia digital di era modernisasi ini,” jelasnya. (rizky putra dinasti/rud) Editor : Jawanto Arifin
#gus husni #Kota Probolinggo #ponpes raudlatul mutaallimin