Rizky Putra Dinasti, Kanigaran, Radar Bromo
IDUL Fitri atau Lebaran tidak bisa dipisahkan dengan halalbihalal atau saling memaafkan. Kegiatan ini biasanya disertai dengan tradisi sonjo atau bertamu atau silaturrahmi ke rumah-rumah. Baik antartetangga, juga antarkeluarga.
Bagi anak kecil, tradisi ini juga berarti mendapat uang atau angpao Lebaran. Tidak heran, kebanyakan orang dewasa selalu menyiapkan uang pecahan untuk memberikan angpao Lebaran. Terutama pada anak-anak.
Tidak heran, bank swasta dan BUMN pun menyediakan jasa penukaran uang pecahan kertas atau biasa disebut uang baru setiap Ramadan. Tidak hanya bank, sebagian orang atau pihak juga membuka jasa penukaran uang baru selama Ramadan. Mulai yang paling kecil pecahan Rp 1.000 sampai Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu.
Di Kota Probolinggo pun, jasa penukaran uang baru mulai bermunculan. Salah satunya di Jl Panglima Sudirman, depan Pasar Baru Kota Probolinggo.
Salah satu penyedia jasa itu, Istin, 52, mengaku sudah tujuh tahun menyediakan jasa penukaran uang baru menjelang Idul Fitri. Bahkan, sejak Ramadan hari pertama dia mulai membuka jasa penukaran uang itu.
“Sudah tujuh tahunan saya menyediakan jasa penukaran uang baru. Tiap tahun tempatnya memang di sini. Saya biasanya buka pukul 08.00 sampai pukul 21.00,” terangnya saat ditemui di Jalang Panglima Sudirman.
Warga Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, itu menilai, setiap tahun antusiasme masyarakat memanfaatkan jasa penukaran uang baru masih tinggi. Terbukti, tiap tahun ada saja yang menukar uang baru.
“Bagi saya sendiri, menyediakan jasa penukaran uang seperti ini untuk mencari tambahan pemasukan. Yang terpenting bisa mencari rezeki secara halal,” terang ibu dua anak itu.
Meskipun sebenarnya, untung yang didapat tidak banyak. Untuk setiap penukaran uang baru senilai Rp 100 ribu, Istin hanya mendapat untung Rp 2 ribu dari agennya di Surabaya.
“Surabaya itu menetapkan biaya jasa penukaran uang berbeda-beda. Untuk penukaran uang baru dengan nilai seratus ribu, jasanya Rp 4 ribu. Bebas ditukar dengan uang pecahan berapapun. Lalu, untuk jasa saya Rp 2 ribu. Jadi, totalnya Rp 6 ribu,” terangnya.
Namun, ada pengecualian untuk penukaran uang pecahan Rp 1.000 dan Rp 75 ribu. Ada jasa Rp 15 ribu untuk penukaran uang pecahan Rp 1.000 dengan nilai Rp 100 ribu. Sementara jasa penukaran uang pecahan Rp 75 ribu per lembarnya Rp 10 ribu.
“Memang berbeda. Sebab, cukup sulit mendpat uang pecahan seribu dan tujuh puluh lima ribu. Tapi, untuk saya tetap Rp 2 ribu,” terangnya.
Selama ini, uang pecahan yang banyak dicari yaitu Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu. Karena itu, Istin pun menyiapkan stok uang pecahan Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu lebih banyak dari yang lain.
Istin sendiri biasanya dalam sebulan ambil dari agen dua kali. Namun, modalnya bukan milik pribadi. Melainkan pinjam pada saudaranya.
Perempuan itu enggan menyebut total nilai uang baru yang ditukarnya. Hanya saat penukaran pertama, dia menyediakan Rp 35 juta. Dari sini, dia dapat untung sekitar Rp 700 ribu.
Alifurrohman, 54, juga menyediakan jasa penukaran uang baru setiap Ramadan tiba. Di luar Ramadan, dia bisa menjual masker, CD, serta kaca mata di depan Pasar Baru Kota Probolinggo. Namun, jasa penukaran uang baru itu dia lakukan di rumahnya di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan.
Alif –sapaannya- sudah menekuni jasa ini beberapa tahun terakhir. Bahkan, dua tahun terakhir saat pandemi Covid-19 terjadi.
“Saat pandemi itu, peminatnya berkurang. Sebab, kan ada larangan mudik. Tapi ya tetap saja ada,” tuturnya.
Karena peminatnya berkurang, Alif pernah menyisakan uang pecahan sebesar Rp 27 juta tahun lalu. Artinya, keuntungan sekitar Rp 540 ribu menguap. Alif pun merugi. Sebab, untuk mendapat uang pecahan itu, dia juga harus membayar ke agennya.
Mantan Ketua Paguyuban PKL Kota Probolinggo itu berharap, diperbolehkanya mudik akan membuat peminat jasa penukaran uang makin ramai tahun ini.
“Saya ingin buktikan bahwa jasa penukaran uang baru seperti saya ini masih bisa eksis. Ini bagi kami sebagai tambahan untuk mendapat uang halal demi keluarga,” pungkasnya. (hn) Editor : Ronald Fernando