Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Perajin Wayang Kulit asal Karangbangkal Gempol

Jawanto Arifin • Minggu, 17 April 2022 | 22:30 WIB
TERAMPIL: Widuk Purwanto mengerjakan salah satu karakter wayang kulit di rumahnya, Karangbangkal, Gempol. Pekerjaan itu ditekuninya sejak bujang hingga sekarang. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
TERAMPIL: Widuk Purwanto mengerjakan salah satu karakter wayang kulit di rumahnya, Karangbangkal, Gempol. Pekerjaan itu ditekuninya sejak bujang hingga sekarang. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
Widuk Purwanto memilih kerajinan wayang kulit sebagai mata pencaharian. Selain bakatnya sudah terasah sejak kecil, banyak dalang suka wayang buatannya. Widuk hafal 150-an karakter tokoh pewayangan.

RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo

Sudah tidak terhitung berapa wayang kulit buatan Widuk Purwanto. Lelaki 47 tahun itu menekuni kerajinan wayang dari kulit sejak 15 tahun yang lalu. Dari saat bujang hingga sekarang. Bapak dua anak itu terus memproduksi wayang kulit di kampungnya, Dusun Karangbangkal, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol.

”Membuat wayang kulit ini pekerjaan sehari-hari. Di luar itu, biasa nyambi MC campursari dan jadi cantrik atau asisten dalang,” ucap Widuk, sapaan akrab suami Iswati ini.

Menjadi perajin wayang kulit tidak merupakan pilihan tiba-tiba. Prosesnya panjang. Tepatnya, saat Widuk masih berusia sekitar 20 tahun. Waktu masih bujangan. Dia ikut salah satu sanggar di kampung halamannya, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.

Di sanggar itulah, dirinya dilatih untuk membuat wayang kulit. Bersama sejumlah rekan sebayanya kala itu. Berkat latihan tekun, lama-lama Widuk akhirnya terlatih membuat sendiri. Bahkan, sudah terampil seperti sekarang.

”Ada bakat turunan juga dari Pak Mukid, ayah saya. Di rumah Jombang, ayah dulu juga perajin wayang kulit,” tuturnya.

Widuk muda kemudian hijrah ke Karangbangkal. Menetap dan berkeluarga di sana. Di situ pula dia bertemu dengan dalang kondang almarhum Ki Leman. Beberapa wayang kulit untuk kebutuhan pementasan atau pergelaran dia buat sendiri.



”Kemudian beberapa dalang lain tahu dari mulut ke mulut. Akhirnya pesan wayang kulit atau minta saya buatkan,” katanya.

Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, sebulan, rata-rata dia mampu membuat 15 sampai 20 buah wayang kulit. Kini, selama pandemi, orderan atau pesanan tetap ada, tapi tidak sebanyak dulu. Turun drastis. Sebuah buah wayang kulit dibuatnya dalam waktu paling lama lima hari. Tentu tidak asal buat. Harus teliti, telaten, dan sabar.

”Paling murah harganya per wayang kulit Rp 500 ribu. Yang termahal sampai Rp 2 juta. Itu sudah standar Jatim. Murah atau mahalnya bergantung ukuran dan tingkat kesulitan membuatnya,” jelas Widuk.

Bahan utama pembuatan wayang adalah kulit sapi atau kerbau. Beli bahannya dari Mojokerto dan Solo dalam bentuk lembaran. Kemudian, pembuatannya melalui beberapa tahapan. Di antaranya, lembaran kulit lebih dulu dibentangkan dan dijemur. Lalu, ditipiskan hingga kelihatan bagus.

Setelah itu, baru digambar dan dipahat dengan alat pertukangan. Salah satunya, aneka tata ukir. Setelah selesai, dilanjutkan dengan dikertas gosok sampai halus. ”Finishing-nya baru dicat dasar. Kemudian, proses pewarnaan sesuai dengan tokoh dan karakter wayang yang diinginkan. Untuk cat dasar dan pewarnaan lain digunakan cat lukis. Baru setelah itu digapit. Bisa pakai kayu dan tanduk kerbau.

”Bagian atasnya disambung rotan,” terangnya. Widuk mengaku tidak pernah melakukan ritual khusus sebelum membuat wayang. ”Ya buat saja,” ungkapnya.

Karena sudah belasan tahun, dia tahu dan mengerti tokoh pewayangan hingga 150-an tokoh. Baik itu tokoh dengan karakter baik maupun buruk. Pandawa, Kurawa, hingga dewa-dewa. Karena itu, dia mudah sekali memenuhi pesanan wayang kulit dengan karakter tertentu.



Widuk bertekad akan terus menekuni keterampilannya tersebut. Banyak dalang yang pesan kepada dirinya. Dari Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Pasuruan sendiri. Ada juga yang datang dari Kalimantan. Di antaranya, Ki Suwendi dari Krian, Sidoarjo. Ki Sugilar dari Pacet, Mojokerto. Ki Tanoyo dari Gempol. Masih banyak lainnya.

”Bakat saya juga sudah turun ke anak pertama yang sekarang masih SMP,” ungkap Widuk. (far) Editor : Jawanto Arifin
#wayang pasuruan #perajin wayang