Fahrizal Firmani, Mayangan, Radar Bromo
Panggilan jiwa. Itulah awal mula Saiful Alam memilih menjadi dokter spesialis kejiwaan. Usai lulus dari S-1 Fakultas Kedokteran di Universitas Muhammadiyah Malang, ia langsung membuka praktik dokter umum pribadi. Selain juga bekerja di RSUD dr Mohamad Saleh.
Ia lantas mengambil spesialisasi kejiwaan di Universitas Airlangga Surabaya pada 2011 hingga lulus pada 2016. Berbeda dengan psikolog, spesialisasi yang diambilnya ini menggunakan gabungan kompetensi konseling dan obat secara rata 50:50.
“Kalau psikolog itu hanya konseling. Kalau spesialisasi saya dikenal dengan psikiater. Jadi, memang harus yang mengambil program kedokteran yang bisa menjadi psikiater,” tutur pria yang tinggal di Jalan Pahlawan, Kota Probolinggo, ini.
Pilihannya pada spesialisasi kejiwaan diakuinya tidak terlepas dari keprihatinannya pada stigma tentang gangguan jiwa. Sebagian masyarakat merasa malu untuk berobat secara medis kalau ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
Mereka menilai, orang yang datang ke psikiater adalah orang gila. Adapula yang menghubungkan dengan klenik, seperti diguna-guna. Maka, tidak jarang mereka memilih untuk memeriksakan penderita pada paranormal. Akibatnya, gangguan mental yang dialami oleh orang itu bisa lebih parah karena terlambat penanganan.
“Stigma negatif inilah yang ingin saya ubah. Tidak semua yang berobat itu orang gila. Dan mereka bisa diobati secara medis asalkan mereka rutin kontrol,” ungkapnya.
Alam menjelaskan, gangguan jiwa itu ada dua. Yakni, gangguan jiwa ringan yang biasanya diikuti dengan gejala cemas. Penyebabnya beragam. Ada yang disebabkan karena pernah mengalami kejadian buruk. Dan gangguan seperti ini cukup didampingi psikolog.
“Namun, ada pula yang masuk gangguan jiwa berat. Kalau ini biasanya kesadaran sudah berubah. Mereka suka marah dan meracau tiba-tiba. Yang seperti ini perlu diberi obat,” jelas Alam.
Penyebab seseorang mengalami gangguan kejiwaan pun beragam. Ada yang karena keturunan, ada pula yang murni dari faktor lingkungan, Misalnya, karena tekanan di tempat kerja atau tekanan dari keluarga. Dan ada juga yang disebabkan faktor ekonomi.
Pria kelahiran Desember 1982 ini menyebut, gangguan kejiwaan ini sebenarnya bisa disembuhkan. Namun, perlu ada dukungan dari pihak keluarga. Juga, keinginan yang bersangkutan untuk sembuh. Sebab, terkadang ada yang pasien tidak mau berobat lagi karena merasa sudah sembuh.
“Padahal, kalau tidak diobati secara rutin, gangguan kejiwaan itu bisa relaps atau kambuh kembali. Lamanya pengobatan bergantung hasil evaluasi saat berkegiatan sehari-hari,” katanya.
Alam pernah mendapati pasien yang memiliki keinginan untuk bunuh diri. Untuk pasien seperti ini, penyembuhannya adalah harus kontrol rutin dan pihak keluarga mendukung penyembuhannya. Selama kontrol ini, ia akan didampingi konseling secara berkala.
“Ada pula gangguan kejiwaan harus tetap rutin minum obat. Kalau tidak minum, ya mereka bisa kembali kambuh,” terang pria kelahiran Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, ini.
Yang lebih penting dari pengobatan adalah pencegahan agar tidak mengalami gangguan jiwa. Yakni, selalu merasa cukup. Seperti tidak makan berlebihan, tidak memiliki keinginan di luar kemampuan, hingga mengejar sesuatu di luar batas.
“Stigma negatif di masyarakat yang harus diubah dahulu. Dan ini perlu peran dari segala pihak. Mulai pemerintah, media, hingga keluarga dekat,” pungkasnya. (hn) Editor : Ronald Fernando