“Orang tua saya tidak mewariskan pabrik, melainkan tanggung jawab urusan pendidikan.”
Kalimat ini disampaikan Gus Adib Ali Rahbini. Salah seorang putra pendiri Pesantren Sirojul Ummah, Desa Kertosono, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Almarhum K.H. Ali Rahbini. Kini, Gus Adib merasakan betul, bagaimana harus berupaya tetap melestarikan warisan orang tuanya.
Gus Adib baru pulang dari Mesir. Di sana ia menyelesaikan pendidikan strata satu. Setelah enam tahun di Mesir, sejatinya masih ingin terus memompa pengetahuannya, sebelum terjun langsung di pesantren peninggalan orang tuanya.
Namun, keinginan menyelesaikan studi strata dua di Mesir, harus ditunda. “Saya kecelakaan waktu itu di Mesir. Akhirnya, saya putuskan balik ke Indonesia,” ujarnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Bromo di kediamannya di Pesantren Sirojul Ummah.
Ia mengaku dari awal memang berkeinginan mengembangkan Pesantren Sirojul Ummah. Karena itu, sejak pulang dari Mesir pada 2021, langsung berkecimpung membantu mengajar. Pesantrennya memiliki sejumlah lembaga pendidikan. Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), Madrasaih Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
“Alhamdulillah, keluarga kompak dan berperan sesuai kesanggupannya. Yayasan diketuai kakak saya (Ning Hj Hakimah Ali Rahbini) dan pesantren diasuh suaminya, K.H Jamaluddin Husein. Saya membantu di Biro Pendidikan,” jelasnya.
Selain menghabiskan waktu di lembaga pendidikan di Pesantren Sirojul Ummah, pria kelahiran Probolinggo, 25 April 1992, juga membantu mengajar di Pesantren Zainul Hasan Genggong. “Kalau malam saya juga ada agenda rutinan dengan pemuda dan warga sekitar rumah. Saya namakan kegiatannya Majelis Dzikrul Ghofilin. Berbaur dengan masyarakat sekitar, sembari salawatan," katanya.
Di lembaga pendidikan di pesantrennya, kata Gus Adib, selain mengajar, pihaknya berusaha menanamkan cinta literasi. Terutama menulis. Karena, tulisan merupakan salah satu cara dakwah yang dikenal dengan istilah dakwah bit-tadwin
“Jika saya bisa menulis, maka peluang saya masuk surga makin terbuka lebar,” ujar putra bungsu pasangan almarhum K.H. Ali Rahbini dan Hj Jamilaturrosida, sambil tersenyum.
Banyak ulama yang telah menulis. Menurutnya, tinta yang ditorehkan ulama menjadi sebuah karya tulis yang bersifat keilmuan secara agama dan digandakan dalam bentuk buku, kitab, media sosial, termasuk koran.
Menurutnya, tulisan merupakan salah satu sarana dakwah. Setara jihad fisabilillah. Apalagi jika tulisan itu jadi sumber ilmu, maka akan jadi amal jariyah.
“Salah satu amal jariyah yang tidak akan putus adalah ilmu yang bermanfaat. Nah, karya tulis ulama yang dijadikan referensi keilmuwan generasi setelahnya, tidak akan terputus. Ulama yang membuat karya tulis, meski sudah meninggal, ilmunya terus mengalir sepanjang masa,” jelasnya. (arif mashudi/rud) Editor : Jawanto Arifin