Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gus Mamat, Bangkitkan Jiwa Wirausaha Santri Ponpes Terpadu Al-Yasini

Jawanto Arifin • Rabu, 13 April 2022 | 15:08 WIB
JIWA PENGUSAHA: Gus Mamat, terus berusaha mengembangkan dunia pesantren. Termasuk dalam wirausaha dengan melibatkan para santri dan alumni. (Foto: Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
JIWA PENGUSAHA: Gus Mamat, terus berusaha mengembangkan dunia pesantren. Termasuk dalam wirausaha dengan melibatkan para santri dan alumni. (Foto: Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
SANTRI masa kini tidak melulu mengaji dan beribadah. Tetapi, juga harus bisa berwirausaha. Inilah yang terus diusahakan Gus Mochammad Gozali di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Pasuruan.

Semasa kecil, Gus Mochammad Gozali belajar mengaji kepada ayahnya, K.H. M. Ali Ridlo. Sementara, sang ibu, Nyai Hj. Chanifah memupuk nyalinya untuk tampil di depan banyak orang melalui belajar pidato. Gus Mochammad Gozali pun tumbuh sebagai remaja yang tidak hanya cakap dalam belajar.

Ia juga sering diajak sang ibu menghadiri pengajian. Selulus dari SMPN Wonorejo, Gus Mamat -sapaan Gus Mochammad Gozali- melanjutkan pendidikannya di SMA Unggulan Darul Ulum Jombang. Mondok di Pesantren Terpadu Darul Ulum Peterongan, Jombang.

Jiwa wirausaha mulai tumbuh ketika pria kelahiran 18 Mei 1982 ini bermukim di pesantren. Ia mulai belajar berdagang. Mulai dari kitab, buku, dan lainnya.

Awalnya, kegiatan ini hanya dilakukan untuk menambah uang saku. Demi bekal menimba ilmu di pesantren asuhan K.H. Dimyati Romli. Namun, Gus Mamat kian serius dalam berwirausaha. Terutama ketika kuliah di Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga. Semakin aktif berdagang. Bahkan, sempat tertipu puluhan juta rupiah dalam menjalani usaha.

Namun, pengalaman pahit itu tak membuatnya patah arang. Ia malah menyewa sebuah rumah di dekat kampusnya untuk membuka rental komputer. Selepas kuliah, Gus Mamat direkrut sebuah perusahaan sebagai supervisor divisi human resource and development di Malang. Tak lama kemudian pindah ke Jakarta.

Gus Mamat juga pernah menjadi direktur sebuah perusahaan yang menangani perdugaan koperasi ritel. Namun, merasa ada yang kurang meski sudah berada di posisi yang cukup diperhitungkan. Ia ingin mengerjakan sesuatu yang lebih banyak bersentuhan langsung dengan umat.



Akhirnya, pada 2011 berhenti berkerja dan memulai langkah untuk berbuat lebih banyak dalam ekonomi umat. Ia mulai berkonsentrasi mengembangkan koperasi di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini. Kini koperasi ini memiliki 160 karyawan.

“Semuanya mengutamakan alumni. Jadi, kami ingin koperasi ini menjadi wadah bagi alumni untuk berbuat lebih nyata dalam ekonomi umat,” katanya.

Koperasi ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi para santri yang masih menimba ilmu di pesantren. Gus Mamat menyebutkan, para santri bisa magang di koperasi dan unit usahanya, seperti toko ritel, kantin, dan lainnya.

Di samping itu, Gus Mamat juga banyak berkecimpung dalam aktivitas pelatihan kewirausahaan santri. Serta, memprakarsai lahirnya Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI). Sebuah perkumpulan pengusaha santri maupun yang baru memulai usaha. Hal itu bermula dari pelatihan yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama pada 2012.

Pelatihan itu dihadiri ratusan peserta dari pondok pesantren di Jawa Timur. Gus Mamat beranggapan acara yang terbilang besar itu tidak selayaknya berhenti begitu saja. Karena itu, harus ada wadah bagi para pengusaha santri agar bisa saling berbagi ilmu untuk mengembangkan usahanya.

“Dengan harapan perkumpulan ini bisa jadi wadah jejaring bagi para pengusaha santri. Sekaligus dapat menghimpun para santri yang usahanya sudah maju untuk berbagi ilmu dengan santri yang baru memulai usaha,” jelasnya.

Di samping itu, Gus Mamat juga banyak menuangkan gagasan mengenai wirausaha dalam artikel. Berselang beberapa tahun menjadi ketua umum, Gus Mamat mampu membawa HIPSI go internasional. Pada 2015 sejumlah perwakilan wilayah dan daerah dari organisasi ini melakukan kunjungan bisnis ke Malaysia dan Singapura. Demi mengetahui perkembangan ekonomi di negara tetangga.



Setahun kemudian, mereka bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI di Aljazair, untuk mengikuti pameran pengusaha santri. Melalui kegiatan semacam itulah, Gus Mamat ingin mengajak para pengusaha santri menambah wawasan dalam berwirausaha. Sekaligus mencari peluang melebarkan usaha. Misalnya dengan ekspor-impor.

Kini, Ketua Bidang Ekonomi di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini tersebut memiliki 16 perusahaan. Salah satunya Nujek. Sebuah perusahaan di bidang transportasi yang juga punya semangat pemberdayaan santri. Berbagai pengalamannya juga dibagikan dengan para santri di pesantren keluarganya.

“Kalau di pesantren, tentu saya juga lebih banyak sharing mengenai spirit enterpreunership di Islam kepada para santri,” katanya.

Ia bahkan merancang aplikasi yang berguna untuk pembayaran cashless di lingkungan pesantren. Tidak hanya di Al-Yasini. “Saat ini sudah diterapkan di 23 pesantren lain,” tutur ayah lima anak ini.

Dengan digitalisasi pesantren dan enterpreunership santri, ia ingin membangkitkan jiwa kewirausaan para santri. Meski begitu, Gus Mamat mengatakan, setiap pencapaian merupakan buah dari keikhlasan. Karena hanya dengan merasa ikhlas, seseorang bisa menjadi lebih bermanfaat. (muhamad busthomi/rud) Editor : Jawanto Arifin
#gus mochammad gozali #ponpes terpadu al yasini