Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Masih Muda, Ning Nia Jadi Pendidik di MTs-MA Unggulan Ponpes Singa Putih

Jawanto Arifin • Sabtu, 9 April 2022 | 15:18 WIB
EDUKASI: Ning Nia saat mengajar santriwati di pondok putri Ponpes Singa Putih Munfaridin. (Foto: Rizal: F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
EDUKASI: Ning Nia saat mengajar santriwati di pondok putri Ponpes Singa Putih Munfaridin. (Foto: Rizal: F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
SEBAGAI anak pertama KH Muhammad Syaifullah Arif Billah, pendiri dan pengasuh Ponpes Singa Putih Munfaridin (SPM), Ning Zainiatul Firdaus memegang peran penting. Menjadi ketua pondok putri sekaligus mendidik santri.

Begitu menuntaskan skripsi dan lulus dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ning Nia -panggilan Zainiatul Firdaus- bergelar sarjana. Pada 2018, ning berusia 28 itu mengabdi di Ponpes Singa Putih Munfaridin, Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen.

Di tahun tersebut, dia didapuk sebagai ketua pondok putri. Kala itu, pondok putri masih dirintis atau baru berdiri. Adapun Ponpes SPM sudah berdiri pada 1994. ”Mengabdi mulai 2018. Belum menikah. Waktu itu semester akhir sekaligus mengerjakan skripsi,” tutur Ning Nia.

Photo
Photo
SANTRIWATI: Ning Zainiatul Firdaus yang menjadi pendidik di Ponpes Singa Putih Munfaridin, Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. (Foto: Rizal: F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Setelah lulus kuliah dan menikah, dia menjalahi hidup berumah tangga dengan Ahmad Adib Mutaali. Tugas dan peran serta pengabdiannya di SPM bertambah kuat. Pondok putri di SPM semakin eksis hingga sekarang.

Ning Nia merupakan generasi kedua atau penerus pertama di SPM. Dia adalah anak pertama di antara tiga bersaudara. Putri pasangan suami-istri (pasutri) KH Muhammad Syaifullah Arif Billah dan Hj Ismatul Qudsiyah.

Bisa dikatakan, kehidupan sehari-hari Ning Nia lebih banyak berada di lingkungan ponpes. Pagi sampai siang menjadi pengajar di MTs dan MA Unggulan Singa Putih. Kemudian, sore dan malam hari mengajar para santriwati di asrama pondok putri.

”Sehari-hari fokus di pondok. Kalau di sekolah, mengajar fiqih saja. Sedangkan di asrama pondok putri, mengajar tafsir dan akhlak,” beber ibu dua anak itu lantas tersenyum.



Tugas yang diemban Ning Nia tidaklah ringan. Baik di sekolah maupun pesantren. Namun, dukungan dan motivasi maksimal dari kedua orang tua serta suami yang juga pengajar di SPM, tugas itu bisa dijalani dengan enjoy.

”Tidak hanya pengajar. Tugas utama lainnya adalah menjadi pengawas guru, murid, dan santri serta santriwati. Juga menjadi sekretaris yayasan,” tambah Ning Nia.

Ilmu dan kemampuannya sebagai pengajar di sekolah maupun pondok putri dipupuk dan dikembangkan dari pengalaman. Lebih-lebih Ning Nia juga pernah mondok selama delapan tahun di Ponpes Putri Salafiyah Bangil. Masa nyantri itu dilakoninya pada 2006—2013. Setelah itu, berkuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, jurusan manajemen pendidikan Islam, pada 2014–2018.

Ada satu tambahan lagi tugas Ning Nia untuk santri. Yaitu, membantu mengajarkan fikih di pondok mertuanya di Ponpes Hikmatul Huda, Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Jadwalnya seminggu sekali, hari Rabu.

Menurut Ning Nia, ada beberapa strategi agar murid dan santriwati menerima pelajaran dengan baik. Di antaranya, kirim fatihah ke guru, orang tua, dan anak-anak yang akan diajar.

Selain itu, lebih banyak diberikan contoh masalah-masalah kekinian. Sesuai zaman sekarang. Jadi, bab-bab yang dipelajari selalu relevan. Tujuannya, agar para santri dan santriwati mampu berpikir luas, kritis, dan bisa menyelesaikan masalah saat ini.

”Santri SPM harus punya pemikiran modern. Tapi, syaratnya, akhlak harus tetap salaf,” tegasnya.



Pendekatan lain dalam mengajar adalah menekankan pentingnya praktik sesuai kurikulum SPM. ”Jadi, belajar satu bab langsung dipraktikkan. Tidak hanya teori,” katanya.

Ujiannya pun tidak mengerjakan soal di kertas. Para santri wajib presentasi hasil karya sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya. ”Bisa berupa mind mapping di sekolah. Kalau ujian bahasa Arab bisa menggunakan mini vlog,” bebernya. Para santri diminta membuat beragam kreativitas kekinian. Berbasis teknologi di era digital. Metode, pendekatan, dan teknik itu disesuaikan dengan visi dan misi SPM.

Apa itu? ”Santri punya cita-cita menjadi konglomerat, ulama, pemimpin, dan pemikir tingkat dunia,” ungkap Ning Nia. (rizal fahmi syatori) Editor : Jawanto Arifin
#ponpes singa putih munfaridin