AGUS FAIZ MUSLEH, KRAKSAAN, RADAR BROMO
HUJAN mengguyur wilayah Kecamatan Kraksaan sejak pukul 12.00. Bahkan, hujan baru berhenti pukul 16.00. Lokasi bazar takjil di timur Alun-alun Kraksaan pun ikut diguyur hujan.
Karena hujan turun sampai sore, tak terlihat satupun pengunjung yang datang ke bazar takjil itu. Hanya para pedagang yang sibuk merapikan dan mengamankan barang jualannya agar tidak terkena hujan.
Beragam makanan dan minuman dijual di bazar takjil itu. Mulai makanan ringan sampai berat. Ada makanan kekinian, hingga makaan tradisional.
Warno Tiwul, 61, juga ikut meramaikan bazar takjil itu. Sesuai panggilannya, dia ngemper di batako sambil berjualan tiwul. Tepat di pojok selatan lokasi bazar.
Sore itu, Warno sibuk menggesekkan kelapa ke parutan besi yang dipegang dengan tangan kanannya. Seorang perempuan paro baya menemani Warno di sampingnya.
"Lima ribu saja. Mau yang mana, campur atau tidak," kata perempuan itu. Dia lantas membugkus tiwul dan diserangkan pada seorang pembeli di depannya.
Di bazar takjil itu, Warno memang berjualan tiwul. Selain tiwul, juga ada jajanan gatot, orok-orok, gempo dan tawinan. Semua jajanan itu merupakan makanan khas Jawa. Utamanya Jawa Tengah.
"Saya asli Wonogiri, Jawa Tengah. Jauh memang, merantau. Punya tiga anak. Tapi semuanya di sana (Jawa Tengah)," kata Warno yang sore itu memakai topi bermotif army.
Warga Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo itu tiap tahun sengaja datang ke Kraksaan untuk ikut bazar takjil Ramadan yang digelar di Alun-alun Kraksaan. Bahkan, bazar takjil ini sudah ditunggu-tunggunya sejak lama.
"Memang ditunggu. Setiap tahun saya pasti ikut meramaikan bazar di sini. Jauh sih dari tempat tinggal. Saya tadi berangkat pukul 11.00. Biar nututi bazar,” teranngya.
Berbekal sejumlah bakul yang berisi berbagi jajanan tradisional, Warno dengan lihai menyiapkan pesanan pelanggannya. Benar saja, ia sudah bertahun-tahun menjadi penjual jajanan tradisional.
"Sudah bertahun-tahun saja jualan ini di Kota Probolinggo. Kadang di jualan di Alun-alun Kota kalau Sabtu. Sehari-hari yang berjualan di Kota Probolinggo," terangnya.
Sayang, kemarin hujan turun cukup lama. Saat sampai di lokasi bazar menurutnya, mendung mulai datang. Dua jam berselang hujan mulai mengguyur.
"Saya pindah (dagangan) tadi ke lokasi di sana (terop), karena hujan. Setelah reda, kembali lagi ke sini (ngemper)," tuturnya.
Warno memang lebih suka berjualan dengan cara ngemper. Sebab, ngemper seperti itu memudahkan dirinya untuk menyiapkan pesanan. Selain itu, jumlah lapak di bazar takjil terbatas. Karena itu, dia lebih suka tidak memesan lapak.
"Kuota untuk lapak yang ada di terop itu terbatas. Lagian lebih mudah seperti ini," katanya.
Dengan ngemper juga, memudahkan pembeli melihat dan memilih jajanan yang disukai. Bahkan, jajanan yang dijual laku keras setiap tahun.
"Tahun sebelumnya, kadang sisa sedikit. Saat ini hujan ya, jadi belum laku banyak. Tapi saya yakin rezeki itu sudah ada yang mengatur. Khawatir sih, tapi tidak terlalu," lanjutnya.
Saat jajanannya laku keras, Warno mengaku bisa mendapatkan Rp 400 ribu - Rp 500 ribu laba kotor setiap hari. Keuntungan tersebut nantinya akan dikirimkan kepada anaknya yang berada di Jawa Tengah.
"Ya untuk anaklah, kan masih ada yang sekolah. Bekerja untuk anak. Untuk siapa lagi," tanyanya.
Dan benar saja. Usai hujan reda kemarin, jualan Warno kian ramai. Banyak pengunjung yang datang membeli. Sejumlak lapak lain juga ramai. Deretan pelanggan antre di beberapa lapak untuk membeli takjil sore itu.
"Alhamdulillah, maaf sudah habis. Besok mungkin ya," kata Ahmadi, 45, seorang penjual es degan.
Seperti Warno juga, Ahmadi mengaku rutin berjualan saat bazar takjil digelar di Alun-alun Kraksan. Alasannya, dagangnya laris saat bazar digelar.
"Laris terus. Makanya makanya momentum Ramadhan ini sangat luar biasa berkah. Bisa buat beli kebutuhan anak-anak saat lebaran," terangnya.
Koordinator pedagang di bazar takjil Alun-alun Kraksaan Khairun Nisa pun bersyukur bazar tahun ini bisa kembali di gelar. Sebab, dua tahun lalu bazar tidak bisa digelar karena pandemi.
"Ada 46 pedagang yang ikut bazar ini. Alhamdulillah bisa terselenggara. Tahun lalu ada, tapi tahun sebelumnya tidak ada karena pandemi," katanya.
Dengan bazar tersebut ia berharap para pemilik usaha micro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Probolinggo dapat terangkat. Ekonomi mereka pun dapat berjalan.
"Harapannya itu, lebih-lebih memberi berkah kepada para pemilik usaha saat Ramadan," tutupnya. (hn) Editor : Ronald Fernando