TERLAHIR sebagai putra kiai, Gus Muhammad Ainun Naim, harus siap melanjutkan perjuangan sesepuhnya. Perannya sangat dibutuhkan di pesantren yang dibesarkan kedua orang tuanya, Kiai Sahal Mahfud dan Nyai Habibah. Yakni, Pesantren An Nur, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.
Karena itu, ia membekali diri dengan pendidikan yang juga mumpuni. Gus Inun menghabiskan masa kecilnya di pesantren asuhan ayahnya. Namun, selepas dari bangku MTs An Nur, Gus Inun hijrah ke Malang. Melanjutkan pendidikannya ke SMK An Nur 2, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.
Lulus SMK, nyantri di Pesantren Miftahul Huda, Kecamatan Gading, Kabupaten Malang. Sembari mengikuti pendidikan di pesantren, pria kelahiran 1991 ini juga kuliah di Universitas Negeri Malang. Mengambil Program Diploma II (D-II) dengan jurusan Teknik Informatika (TI).
Sekitar 2010, melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-1 di Universitas Medeka Malang. Jurusannya sama, TI. “Saat di SMK, kebetulan saya juga mengambil jurusan TI. Karena, tidak terlalu banyak yang berkecimpung di TI,” ujarnya.
Setelah dinyatakan lulus dan menyandang gelar sanjana pada 2012, Gus Inun langsung diminta kembali ke Pesantren An Nur. Ayahnya, Kiai Mahfud Sahal, memintanya mengurus pondok putra dan SMK. Namanya juga tecatat sebagai wakil II pembina Yayasan An Nur.
Menurutnya, dunia pendidikan antara Pesantren Miftahul Huda dan di Pesantren An Nur, tidak terlalu berbeda. Bedanya, di Pesantren Miftahul Huda, mayoritas santri mondok. Tetapi, ada pula yang sambil bekerja. Sedangkan, di An Nur, para santri fokus terhadap dunia pendidikan. Mereka juga bisa memilih beragam jurusan yang disediakan.
Selama 10 tahun menjadi pengurus pesantren, putra kedua Kiai Mahfud Sahal-Nyai Habibah ini mengatakan, melihat kenakalan yang diperbuat santri hal yang wajar. Namun, ia selalu menekankan agar mereka harus menjaga salat lima waktu.
Beragam upaya terus dilakukan untuk mengembleng santri. Salah satunya dengan membiasakan mereka mengikuti sejumlah kegiatan. Termasuk melibatkannya dalam sejumlah kegiatan kemasyarakatan.
“Seperti peringatan Maulid Nabi ataupun Isra Mi’raj. Mereka dilibatkan langsung sebagai panitia. Jadi saat terjun ke masyarakat, sudah siap,” katanya.
Ia memastikan pesantrennya tetap kokoh memegang aturan pesantren. Bahkan, menurutnya pesantren tetap harus kolot dalam hal aturan dan hukum agama, namun modernisasi tetap harus berjalan. Misalnya, para santri jga harus bisa memahami teknologi. Terutama mengikuti perkembangannya yang begitu pesat.
Dengan harapan, santri bisa memiliki skill yang mumpuni saat terjun ke masyarakat. Karena itu, banyak program pengembangan diri yang disediakan An Nur. Seperti program tahfidz quran, multimedia, sampai budi daya ikan.
“Jika santri ada yang punya keahlian di bidang olahraga, kami juga mendukung. Kami ingin santri punya skill, baik wirausaha maupun bidang lainnya,” ujar Gus Inun. (fahrizal firmani/rud) Editor : Ronald Fernando