MUKHAMAD ROSYIDI, Tutur, Radar Bromo
Kabupaten Pasuruan merupakan daerah penghasil kopi. Berdasarkan data yang ada pada website resmi Pemkab Pasuruan, pasuruankab.go.id, luas perkebunan kopi di Kabupaten Pasuruan pada 2018 mencapai 4.365 hektare.
Dengan lahan seluas itu, petani kopi mampu memproduksi 1.176,9 ton biji kopi kering (OC) atau 557.13 kg OC per hektare yang dikemas dalam bentuk bubuk kopi dan kemasan sangrai (roasted bean).
Dari sekian banyak petani kopi di Kabupaten Pasuruan, Ida Irawati, 50, adalah yang tergolong sukses. Bersama suaminya Winarso, warga Desa Gunungsari, Kecamatan Tutur, itu berhasil menciptakan kopi premium yang dijual hingga luar kota.
Bukan kopi premium biasa. Dia memproduksi kopi organik. Baik dari jenis Robusta, juga Arabika.
"Alhamdulillah, berkat kerja keras berdua. Sekarang semuanya saya yang nangani," katanya saat ditemui beberapa waktu lalu di rumahnya di Desa Gunungsari.
Meski sudah separo baya, Ida masih energik. Sambil bermain dengan cucunya, dia banyak membagikan perjuangannya di ruang depan rumahnya. Di sana, beberapa jenis produk kopi dipajang.
Sebagai warga Tutur asli, keluarga Ida akrab dengan tanaman kopi. Orang tuanya pun punya lahan kopi yang diwariskan padanya. Di lahan itu, ada sekitar 100 pohon kopi yang masih produktif.
Namun, sekarang jumlah itu berkembang berlipat-lipat. Total, Ida memiliki 2.050 pohon kopi di kebunnya. Dari sinilah produksi kopi premium miliknya berasal.
"Sekarang kurang lebih ada 2.050 pohon kopi di kebun saya. Beberapa di antaranya saya beli dari penghasilan memproduksi kopi premium. Sebagian yang lain adalah celengan waktu dulu," ungkapnya sembari menyuguhkan kopi hasil produksinya. Rasanya memang mantap. Tidak seperti kopi kebanyakan. Rasa kopinya lebih kuat.
Meskipun memiliki kebun kopi, Ida tidak langsung memproduksi kopi sendiri. Awalnya, dia menjual hasil panennya kepada tengkulak. Hasilnya hanya cukup untuk dimakan sehari-hari.
Lalu sejak 2015, ia mulai memproduksi kopi. Tidak lagi dijual mentahan. Ia memproduksi bubuk kopi dan dijual di pasar bersama suaminya.
Di awal merintis usaha itu, sekitar 10 kilogram kopi bubuk yang ia buat. Sayang, kopi buatannya tak ada yang melirik. Ia kembali membawa kopinya pulang.
"Di rumah anak - anak sudah minta jajan. Saya bilang kepada anak saya yang pertama itu bahwa kami tidak dapat uang. Kalau mau jajan, minum saja air sudah tak siapi," kisahnya tentang masa-masa sulitnya dulu.
Namun, kemudian secercah harapan datang. Pada tahun itu juga, ia diundang Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pasuruan untuk mengikuti pelatihan di Prigen. Pelatihan digelar untuk melatih ibu rumah tangga usaha mandiri. Setelah pelatihan, ibu tiga anak itu mendapat kompor beserta tabung gas elpiji. Juga uang pembinaan.
"Berbekal itu, saya mencoba lagi membuat produk kemasan kopi. Kemasannya warna merah dan kuning, untuk membedakan kopi arabika dan robusta. Lalu produk itu saya jual online," tuturnya.
Siapa sangka, penjualannya ternyata dilirik pasar. Meskipun hanya beberapa bungkus, usaha itu terus ia tekuni bersama suaminya.
"Packaging-nya saya beli di Malang. Setiap kali ada yang beli kopi, saya ke Malang untuk kulakan bungkus," tuturnya.
Sejak saat itu, setiap bulan omzetnya mencapai jutaan rupiah. Pada tahun pertama, omzetnya tembus Rp 2 juta per bulan. Lalu di tahun berikutnya, omzetnya terus naik di kisaran Rp 8 juta - Rp 10 juta per bulan.
Permintaan pasar yang makin meningkat membuat Ida mulai merekrut karyawan dari tetangga sekitar. Terutama yang membutuhkan pekerjaan.
"Alhamdulillah setelah tahun 2017, omzet saya meningkat sampai Rp 60 juta per bulan," jelasnya.
Tidak hanya mempekerjakan tetangga sekitar. Ida lantas merambah pengolahan bubuk kopi dengan mesih, dari yang awalnya diolah secara manual. Dengan cara ini, pasarnya makin luas. Marketnya pun tembus hingga Kalimantan, Sumatera, dan pulau lain di luar Jawa.
"Kopi saya ini bukan kopi yang panen hijau ya. Tapi, petik merah. Jadi memang berbeda. Dan kini Alhamdulillah sudah tembus keluar Jawa," tandasnya.
Dalam perjalanannya, usahanya sempat terimbas pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020. Bahkan, Ida pernah tidak mengirim produknya sama sekali ke pasar selama satu bulan.
Sebab, banyak kafe langganan yang pesan kopi tutup. Sehingga ia pun harus memutar otak untuk mencari penghasilan.
"Sempat jual handsanitizer dan masker juga. Sekarang sudah mulai normal. Tapi penghasilan masih kisaran Rp 20 juta per bulan," ucapnya.
Dari hasil usaha kopinya itu, sudah banyak capaian yang Ida raih. Mulai mengembangkan bisnis makin besar, membangunkan rumah untuk anaknya, membeli kendaraan. Bahkan, dia bertekad menyekolahkan anak terakhirnya ke jenjang yang lebih tinggi.
Ida sendiri, karena kesuksesannya, banyak diminta menjadi narasumber di berbagai pertemuan. Bukan hanya di Jawa, tetapi juga di luar Jawa.
"Pernah diundang ke Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Jakarta, dan kampus-kampus di Pasuruan," ungkapnya.
Kesuksesan itu tidak ia nikmati sendiri. Ia juga saat ini melakukan pembinaan terhadap kelompok tani di desanya. Dengan harapan, mereka bisa terus berkembang dan meningkatkan produksi kopi. (hn) Editor : Ronald Fernando